BANGSA INI BUTUH GURU BERKARAKTER


BANGSA INI BUTUH GURU BERKARAKTER

Oleh : Asep Gunawan
(Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Rakeyan Santang Karawang
Dewan Fakar ICMI Orda Kabupaten Purwakarta)

Sangat menarik mencermati tiga artikel pendidikan yang dimuat di salah satu koran nasional Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Ketiga artikel yang ditulis oleh Prof. Muhamad Surya, R. Poppy Yuniawati dan Usep Romli HM., walaupun dalam tema dan subtema berlainan, tetapi ketiga artikel tersebut terlihat saling mengisi dan melengkapi terkait dengan persoalan inti dunia pendidikan Indonesia hari ini.

Dengan artikel berjudul “Jati Diri dan Pendidikan”, Prof. Muhamad Surya mengupas dunia pendidikan seperti orang linglung yang kehilangan jati diri, “kokod monongeun”, stroke dan bahkan kurang gizi. Namun walaupun begitu, menurut Surya, pendidikan Indonesia masih bisa diselamatkan jika dikembalikan pada model paedagogik transformatif sebagai landasan revitalisasinya.

Melalui artikel “Mencontoh Pendidikan Karakter di Jepang”, R. Poppy Yuniawati mengajak bangsa ini untuk tidak malu belajar ke Jepang, negara yang berdasarkan pengalamannya dianggap berhasil dalam menanamkan pendidikan karakter. Sikap dan perilaku berkarakter bangsa Jepang, menurutnya, merupakan hasil dari penanaman pendidikan karakter, yang tidak hanya tercantum secara tekstual dalam undang-undang, tetapi juga sudah terintegrasi dalam kurikulum pendidikan dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mata pelajaran lainnya.

Tulisan lainnya yang menarik, walaupun sebetulnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan dua artikel sebelumnya, adalah artikel yang ditulis oleh Usep Romli HM yang berjudul ”Dosa-dosa yang terlupakan”. Menurut penulis, berdasarkan inspirasi dari judul artikel yang ditulis Usep Romli, sadar tidak sadar, kesalahan fatal bangsa ini adalah mengganggap sikap linglung, kehilangan jati diri, “kokod monongeun”, stroke dan kurang gizi dalam mengurus pendidikan nasional, tidak dianggap sebagai sebuah perbuatan “dosa” oleh elit pemimpin bangsa ini. Elit pemimpin bangsa ini sepertinya meyakini bahwa “salah urus” dalam dunia pendidikan sebagai sesuatu hal yang tidak perlu disikapi secara serius, karena dianggap tidak ada hubungannya dengan “adzab” Tuhan pada bangsa ini.        

Kembali ke Jati Diri
Bila digali lebih dalam, bangsa ini sebenarnya sangat kaya dengan warisan peradaban yang bisa dijadikan referensi dan inspirasi dalam pengembangan dunia pendidikan nasional. Dari Sabang sampai Merauke ada beragam kearifan lokal (local wisdom) yang secara tersurat dan tersirat, sesungguhnya selama berabad-abad telah menjadi bagian integral dalam karakter kepribadian bangsa ini.

Kejujuran, kerja keras, ulet, inovatif, loyal, disiplin, malu, mandiri, hidup hemat, toleransi, menjaga tradisi dan selalu hormat kepada orang tua, adalah sikap dan perilaku hidup yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Keramah-tamahan dan kejujuran orang Sunda, ulet dan pekerja kerasnya orang Bugis, inovatif dan loyalnya orang Padang, disiplin dan hematnya orang Jawa, mandiri dan menjaga tradisinya orang Badui, toleransi dan hormat kepada orang tuanya orang Betawi, sudah lama dikenal bangsa lain sebagai kekayaan tak ternilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pertanyaannya adalah, kemana nilai-nilai karakter bangsa itu hari ini? Sampai-sampai untuk urusan membangun karakter bangsa kita harus mencontoh dari bangsa lain. 


Yang perlu dijadikan catatan, keberhasilan bangsa Jepang dalam pendidikan karakter, tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan mereka menentukan langkah penting dalam menentukan jati dirinya pasca ditaklukan oleh tentara sekutu pada perang dunia ke-2. Langkah mengumpulkan para guru dari beragam disiplin ilmu untuk berembuk menentukan langkah pengembangan bangsa Jepang kedepan adalah langkah yang sangat strategis.

Dari para guru inilah bangsa Jepang merumuskan tiga langkah utama dalam membentuk karakter dan jati diri bangsanya, yakni : mengubah lingkungan agar berorientasi pendidikan dengan cara menata peraturan serta konsekuensinya, baik di lingkungan sekolah, di rumah maupun di masyarakat; memberikan pengetahuan bagaimana melakukan sikap dan perilaku yang diharapkan agar bisa muncul dalam kesehariannya; dan mengkondisikan emosi peserta didik dengan cara memberikan informasi yang tepat agar informasi tersebut tetap melekat dalam hidupnya.

Membentuk Karakter
Secara konseptual, materi pendidikan kita sebetulnya sangat kaya dengan beragam materi pendidikan karakter, karena secara mudah materi pendidikan karakter bisa kita adopsi dari beragam kearifan lokal dan norma agama yang tumbuh kembang di Indonesia. Yang menjadi titik terlemah di bangsa ini adalah keseriusan dari elit-alit pemimpin bangsa untuk menjadikan pendidikan sebagai pilar utama pembentuk jati diri bangsa.

Tanpa membereskan hal ini, jangan harap bangsa ini bisa melepaskan diri dari penyakit linglung kehilangan jati diri, “kokod monongeun”, stroke dan bahkan kurang gizi dalam mengurus pendidikan.
Tiga langkah utama dalam membentuk karakter dan jati diri bangsa, seperti yang pernah dilakukan bangsa Jepang, mau tidak mau, harus menjadi bagian penting dalam program pendidikan nasional kita. Pertama, awali dengan mengubah lingkungan, baik lingkungan di sekolah, di rumah maupun di masyarakat, agar senantiasa berorientasi dan bernilai pendidikan.

 Tidak fair dan bijaksana rasanya jika mendidik karakter hanya dibebankan sepenuhnya kepada sekolah dan lingkungan rumah, tanpa dibebankan kepada lingkungan masyarakat dan negara. Sehebat apapun pendidikan karakter ditranformasi kepada peserta didik, maka semuanya akan terasa sia-sia ketika di lingkungan masyarakat yang tidak diawasi oleh negara (misalnya melalui sinetron dan tayangan televisi yang tidak bermutu) “diajarkan” sesuatu yang justru bertentangan dengan pendidikan karakter.
Kedua, sudah saatnya ditradisikan kembali konsep pembelajaran berbasis aplikatif ilmu dan amal, teoritik dan praktik.

Hasil berbagai riset tentang tehnik penyerapan informasi ke otak menyebutkan, bahwa metode pembelajaran yang berorientasi “mengatakan dan melakukan”, akan menghasilkan prosentase penyerapan informasi sampai 90%. Tradisi pembelajaran model ini memberikan pengetahuan bagaimana pentingnya melakukan sikap dan perilaku yang diajarkan agar bisa muncul dalam keseharian peserta didik. Sikap dan perilaku berkarakter harus menjadi bagian yang integral dalam kepribadian peserta didik. Dan ketiga, emosi peserta didik secara continue harus dikondisikan dengan cara memberikan informasi yang tepat agar informasi tersebut tetap melekat kuat dan menjadi bagian dalam consciousness (otak sadar) dan unconsciousness (otak bawah sadar) hidupnya.

Guru Berkarakter

Disamping harus tersedianya konsep pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mata pelajaran, yang lebih penting lagi adalah harus tersedia pula sumber daya manusia pendidikan yang berkarakter, dari hulu hingga hilir, dari pemegang kebijakan nasional, daerah sampai kebijakan di sekolah dan di kelas. Sektor ini yang selama ini dianggap paling lemah, termasuk oleh prof. Muhamad Surya dalam artikelnya di atas. Akibat “kokod monongeun”, pendidikan Indonesia menjadi “salah urus” yang akhirnya mengalami stroke dan bahkan kurang gizi, yang berujung pada linglung dan kehilangan jati dirinya bangsa ini.

Maka dari itu, upaya revitalisasi pendidikan nasional melalui model paedagogik transformatif seperti yang diusulkan oleh Prof. Muhamad Surya di atas, akan lebih bermakna dan berdaya guna bila diarahkan pada sektor sumber daya pendidikan yang lebih riil, yang berhadapan secara langsung dengan peserta didik, yakni sumber daya guru. Tidak syak lagi bahwa guru yang menjadi ujung tombak utama dalam pembentukan karakter bangsa. Dalam pandangan ahli fisika, Profesor Yohanes Surya, “sesungguhnya tidak ada anak didik yang “bodoh” (baca : tidak berkarakter), yang ada adalah anak didik yang tidak mendapatkan guru yang baik, berkualitas dan berkarakter”.
Jauh-jauh hari, Ki Hajar Dewantara, mewanti-wanti tentang beratnya tugas pokok dan fungsi seorang guru. Secara filosofis, Ki Hajar Dewantara menyimpulkannya dalam kalimat sederhana : “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Di depan, seorang guru harus bisa memberi teladan dan contoh tindakan yang baik; di tengah atau diantara anak didiknya, guru harus bisa menciptakan prakarsa dan ide yang baik; dan dari belakang, guru harus bisa memberikan motivasi dan arahan yang baik.
Cukup sumber daya manusia pendidikan lain yang mengganggap “salah urus” dalam pendidikan sebagai bukan perbuatan “dosa”. Jangan sampai anggapan ini menimpa juga pada seorang guru. Bagi guru yang berkarakter, “salah urus” dalam mendidik peserta didik harus diyakini sebagai sebuah perbuatan “dosa besar”. Konsekuensi dari keyakinan ini yang akan membawanya menjadi lebih professional dalam mendidik dan mengajar. Inilah karakter yang secara mutlak harus dimiliki oleh seorang guru.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BANGSA INI BUTUH GURU BERKARAKTER"

Post a Comment