MELAWAN MAUT


Oleh :

Sumyati, M.Pd. - SMPN 2 Kadungora Garut

Sore itu, tepat tiga puluh enam tahun silam, hujan makin lebat. Langit menumpahkan air ke bumi. Dari kaca jendela tampak jelas derasnya  hujan. Sawah yang terbentang luas  di depan sekolah, tak lagi terlihat. Kelabu, yah semua memutih.
Samar-samar terlihat anak-anak berlarian, ada yang pakai payung ada pula yang sengaja hujan-hujanan. Seketika, pintu terbuka. Anak-anak tercengang. Nampak jelas genangan air hujan di halaman sekolah. Rupanya angin di luar amat kuat. Dingin pun mulai merambat menyusuri seluruh nadi.
SMP Negeri angkatan pertama. Satu-satunya SMP Negeri yang terletak tak jauh dari Samudera Indonesia. Wilayah Cianjur Selatan yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Sebuah daerah terpencil jauh dari keramaian kota.
Kelas I semester pertama,  terdiri dari tiga kelas, A, B, dan C. Di kelas I A, pelajaran terakhir matematika. Pak Dudung selalu tepat waktu. Ia tak pernah bisa kompromi, walau hujan badai sekalipun. Tak ada korupsi waktu. Konsentrasi belajar saat itu telah pudar. Menghitung luas lingkaran, nyaris tak pernah usai. Hasil perkalian selalu salah dan salah. Karenanya pak Dudung semakin marah-marah.
Hampir pukul lima sore. Kelas mulai gelap. Tak mampu lagi melihat goresan kapur di papan tulis. Begitu pun rumus luas lingkaran yang baru saja ditulis hampir tak terlihat. Tak ada listrik. Anak-anak mulai resah.  Makin gelisah, setelah mendengar teriakan anak-anak di luar.
Caah dengdeng... (banjir bandang), Cisokan banjir...., Cisokan banjir...!” suara anak-anak berteriak. Kelas IB dan IC mulai berlarian menembus derasnya air hujan. Pak Dudung pun, akhirnya tak bisa menghalangi anak-anak pulang. Sekolah di desa, tantangan alam memang tidak bisa disepelekan. Bagi siswa yang dekat sekolah memang tidak ada masalah. Tapi bagi siswa yang jauh, hal itu adalah masalah besar. Lebih-lebih bagi kampung yang melewati sungai. Sedangkan hampir semua sungai tidak ada jembatan.
Kemana harus pulang, apakah nginep atau pulang? Bimbang dan ragu. Membayangkan jalan yang panjang. Delapan kilometer menempuh sawah yang becek, beberapa perkampungan dan hutan. Senja mulai menyapa. Entah jam berapa bisa sampai di rumah. Bila pukul lima baru keluar sekolah. Beranikah menghadapi gelapnya malam? Rangkaian pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Hai... Mi, jangan melamun! Ayo pulang!” Teti membangunkan hayalan.
“Hai... juga!” jawabku sambil berdiri di teras sekolah.
“Ayo pulang, takut banjir bandang!” Teti mengingatkanku sambil membukakan payungnya.
“Hati-hati yah, dadah....!” kata anak-anak itu serempak. Mereka melambaikan tangan. Setelah dibalas lambaian tangan mereka pun berlarian. Sedangkan aku berdua bersama si Enur mengemasi sepatu, dimasukkan keresek kemudian dimasukan lagi ke dalam tas buku. Jika sepatu dipakai, mungkin hari itu akan hancur terkena lumpur.
Aku berdua menyusuri jalan sawah yang  sangat becek. Payung yang dipakai kadang meliuk-liuk terkena derasnya air hujan. Kadang meliuk ke kanan, kadang ke kiri. Payungku saat itu, tak mampu menahan. Rok dan kemeja putihku mulai basah kuyup. Bahkan tas buku yang kugendong pun, tak mampu kulindungi. Ini bukan hujan biasa.
Petir dan kilat bersahutan. Aku dan Enur, dua anak perempuan yang baru dua belas tahun, tertinggal  oleh teman-teman. Mereka anak lelaki telah jauh berlari. Kini tak ada yang bisa dijadikan teman, saat aku berdua ketakutan.
Menyusuri jalan sawah yang becek, sering terpeleset. Jari-jari kakiku terasa sakit, beberapa kali ditancapkan, menahan berat badan dari licinnya jalan. Terkadang terasa pedih terkena duri yang tak terlihat dalam lumpur. Sakit dan pedih seakan tak pernah kurasa, hanya takut dan takut yang memenuhi kepalaku.
“Mi, nginep di rumahku yah!” kata Enur kepadaku.
“Emmh, engga Nur, aku pulang ajah,” jawabku sambil terus berjalan mencari pijakan, agar tak lagi terpeleset.
“Maghrib, Mi. Hari hampir gelap,” ajak Nur.
“Memang. Tapi Nur, aku engga bawa baju ganti. Lagi pula tugas yang kemarin masih di rumah. Sedangkan besok dikumpulkan. Bagaimana, nanti aku dimarahin. Gini aja, kalau besok-besok hujan aku nginep. Oke Nur ?”
“Siip lah!” jawab Enur sambil menghentikan langkahnya, karena telah sampai di depan rumahnya.
“Mi, apa kamu berani pulang sendiri? Ingat, ini udah magrib. Dengar tuh, adzan! Bentar lagi juga gelap,” si Nur tengadah menunjuk suara adzan yang bersahutan di tiap mesjid.
Anehnya pula, suara kentongan sejak tadi tak berhenti. Tidak biasanya, padahal jika sudah terdengar adzan kentongan suka berhenti. Ini sudah hampir satu jam, terus menerus berbunyi. Dulag, bukan. Mana mungkin ada orang dulag, ini buka mau lebaran.
“Nur, ada yang aneh tidak menurutmu?”
“Apa yah, Mi?”
“Kentongan!”
“Oooh, bener. Kenapa yah dari tadi berbunyi? Padahal kalau sudah adzan kentongan berhenti. Dulag juga bukan,” si Nur mengerutkan keningnya sambil memicingkan kupingnya.
“Mungkin tanda bahaya,” jawabku sedikit takut.
“Benerkan, kataku? Kamu nginep di rumahku, kamu sih, bandel. Mia..., Cireang pasti banjir bandang. Kalau kamu masih bandel juga, jangan pakai jalan itu,” Enur melarangku sambil memegang tanganku. Namun aku berusaha melepaskan tangannya.
“Nur, hari ini aku harus pulang. Doakan saja aku. Yah, aku mau jalan jembatan. Biar pun jauh, aku ke situ aja. Doakan aku yah!” aku berpandangan, lalu pergi diantarkan tatapan sahabat sejatiku.
Jalan masih panjang, sekitar empat kilometer lagi. Kalau tidak hujan, dengan jalan biasa satu jam juga sampai. Tapi, dengan kondisi jalan seperti ini yang licin, becek dan jauh, belum terbayang jam berapa sampai di rumah. Lahaola  saja, semoga dimudahkan.
Tiba di jembatan Cireang pertama, air setinggi enam meter. Jembatan setinggi enam meter itu telah rata dengan air. Dapat dibayangkan, jika aku tadi memaksakan jalan lewat ketempat biasa, langsung hanyut terbawa arus. Setengah berlari aku melewati jembatan itu, takut jembatan itu hanyut lagi seperti dulu.
Aku terus berjalan setengah berlari, jika ada jalan menurun aku berlari kencang. Bila tiba di pemukiman, hatiku tenang. Namun jika masuk hutan apalagi di tempat itu dikabarkan angker, bulu kuduk ini berdiri. Ancang-ancang berlari, tak pernah berani tengok kanan dan kiri. Bahkan, sekali pun ingin nengok ke belakang, aku tak berani. Kata orang, jika malam berjalan sendirian jangan nengok ke belakang. Dengan nafas engos-engosan aku berlari kencang.
  Tak ada orang kutemui dijalanan sepanjang jalan. Mungkin mereka tengah shalat magrib, mengaji atau mungkin ketakutan karena di luar hujan. Ditambah lagi suara kentongan masih juga berbunyi. Padahal waktu magrib telah lewat. Apa mungkin kentongan menjelang Isya? Ah, itu tak mungkin. Biasanya juga tidak begini.
Tiba di Pagadungan, sebuah kampung yang bersebrangan dengan kampungku. Jika memang disatukan dengan jembatan layang, tidak perlu waktu lama bisa sampai. Kampung itu dipisahkan dengan sungai Cireang yang jauh di lembah sana. Dari tempat aku berdiri, turun ke Cireang melewati jalan berbatu dan hutan. Hanya dua kilometer lagi jalan yang harus ditempuh. Tapi tempat inilah yang paling menakutkan.
Antara terus berjalan atau berhenti. Beberapa menit aku menatap jalan yang akan kulalui. Terbayang, apa yang akan terjadi sepanjang jalan itu. Ya Tuhaaan... Sejenak aku berpikir dan memanjatkan doa. Andai aku harus terus berjalan, berikan aku keberanian. Andai tempat itu berbahaya bagiku, maka hentikan langkahku sampai di sini.
Meskipun hati ini ragu, aku berusaha memantapkan hati. Menuruni jalan berbatu yang berliku. Tibalah di jembatan yang membentang sepanjang duapuluh meter. Tinggi jembatan dari dasar sungai sekitar lima belas meter.
Dengan hati-hati aku mendekat. Tertatih-tatih melintasi licinnya batu cadas bercampur tanah merah. Hatiku makin cemas. Sedikit saja terpeleset jatuh terpental.
Tiba di ujung jembatan, jantungku berdebar tidak karuan. Inikah hari terakhirku? Gumpalan air itu menyurutkan langkahku. Deru air bah, yang berbuih di kolong jembatan seketika menghapus semua impianku. Kematian membayang di depan mata. Air bah itu akan mengakhiri hidupku.
Hanya doa yang bisa aku panjatkan, lahaula wallakuwwata illabillahi aliyill adziim. Selangkah, dua langkah berhenti, selangkah dua langkah berhenti. Begitu pun selanjutnya. Kaki bergetar, hatipun menggelepar. Aku sedang bercanda dengan maut, atau menantang maut?
“Ya Allah...!”Aku terkejut setengah mati. Kuangkat kedua tanganku, memohon pada yang Maha Kuasa.
“Jembatan ini putus. Bagaimana mungkin aku kembali ke belakang. Satu kilometer lagi aku sampai ke rumah. Ya Allah, tolonglah hambamu ini! Ibu, Umi, Apih, tolong Mia. Doakan Mia, Ibu..., Mia masih mau hidup. Beri Mia kesempatan untuk membahagiakan orang tua, Ya Allah. Beri kesempatan Mia mewujudkan impian.”
Air mata pun mengalir di pipiku. Tempat ini, akan menjadi akhir semua ceritaku. Inikah hari penghabisanku?
Kulihat pegangan tangan dari bambu masih kuat. Walau titiannya telah tiada, masih ada pijakan dari pohon kelapa. Rupanya itu bekas penyangga titian yang masih tersisa. Meskipun banyak paku menancap, dengan hati-hati aku merayap hingga tiba diujung jembatan. Alhamdulillah.
Di ujung jembatan itu, kembali aku gelisah. Tanjakan itu berliku bagaikan ular. Di bawah pohon sawo yang besar, banyak cerita orang. Jika ada yang lewat, tiba-tiba pohon itu diterjang angin besar, dengan ringkikan serem wanita tertawa. Sedangkan rumpun bambu di tanjakan itu, ada penghuninya. Yang lebih mengerikan,  di ujung hutan ini, ada pekuburan besar yang angker.
“Ya Allah, berikan aku kekuatan dan keberanian. Jauhkan aku dari hal-hal yang menakutkan,” bibirku terus-menerus berdoa.
Kemudian aku membacakan Ayat Kursi, Al-Ihlas, Al-Falaq, serta An-Naas, berulang kali dengan suara keras, hingga tiba di perkampungan. Pikirku, semua jin, syaitan dan genderewo akan lari kocar-kacir mendengar ayat-ayat Allah. Alhamdulillah dengan keyakinanku kepada yang Maha Kuasa, akhirnya aku tiba di rumah tepat adzan Isya. Terlihat ibu sedang berdiri di pintu menungguku.
“Aduh... Mia anak ibu. ternyata benar kamu itu nekad pulang. Ibu cemas sekali sayang....” ibu memelukku sambil menciumiku kiri dan kanan. Ibu menuntunku ke dapur, karena seluruh badanku basah kuyup.
Aku hanya terdiam. Tak ada yang ingin aku sampaikan. Semua ketakutanku telah berakhir.
“Mia, kamu pakai jalan mana sayang? Cireang airnya besar. Tak ada orang yang berani menyeberang,” kata ibu cemas.
“Jembatan bu.”
“Mia, bisa lewat jembatan itu? Sama siapa sayang? Jembatan itu putus, sudah lama,” jawab itu keranan. Lalu ibu memberikan handuk kering kepadaku.
“Iyah Bu, jembatannya putus,” kataku sambil menggigil kedinginan.
“Kamu sendirian?” kata ibu cemas.
“Sendiri, Bu, emang sama siapa lagi. Tak ada orang sepotong pun, hmmh....hmmmh...” aku makin menggigil, tanganku menggelepar, gigipun bergetar sampai terdengar bunyinya.
“Ganti baju dulu, nanti aja ceritanya. Kamu kedinginan, nanti sakit,” ibu menarik tanganku agar segera ganti baju ke kamar mandi. “Ini ibu buatkan teh manis panas, biar anak ibu tidak kedinginan.”
 Selesai mandi dan ganti baju, aku minum teh manis panas dari ibu. Tiba-tiba, Wa Rati datang.
“Mia, baru datang? Ua cemas sekali, Nak.”
“Iyah, Kak..., baru aja tiba,” jawab ibu.
“Duh... dari tadi tak enak hati. Dengar suara kentongan sejak tadi  sore tak berhenti sampai sekarang. Pasti besok pagi ada kabar duka,” kata ua Rati.
“Itulah Kak dari tadi, aku sama gelisah. Tapi alhamdulillah selamat,” jawab ibu.
“Iya istirahat saja, cape. Tidurkan!” kata Ua Rati, kemudian ia pergi lagi dan hilang ditelan gelapnya malam. Sedang aku, usai makan pegi ke kamar untuk melepas lelah dan tertidur pulas.
Keesokan harinya, seperti biasa aku ke sekolah. Di jalan banyak orang yang bertanya. Katanya ada anak-anak sekolah yang hanyut di sungai. Aku tidak tahu, tak bisa jawab apa-apa. Entah mengapa, mereka bertanya padaku. Makin dekat ke sekolah, makin jelas kabar itu, katanya ada tiga orang anak SMP Negeri yang hanyut kemarin sore. Berita ini makin menambah aku penasaran. Benar ataukah bohong?
Di depan sekolah banyak orang berkerumun, terbaca dari raut wajah-wajah mereka yang sendu. Bahkan, matanya memerah. Yakin hatiku, bahwa kabar itu memang benar. Tak ada lagi canda tawa seperti biasa.
“Mia, apa kamu sudah tahu?” Yuli bertanya sambil menatap mukaku.
“Tahu apa?” aku balik bertanya.
“Tiga orang teman kita hanyut, mereka kelas B dan C, kamu tahu tidak?” Yuli  menyampaikan berita duka.
Innalillahi wainnaillaihi rojiun, siapa?” aku penasaran
“Teti dua-duanya kelas B dan C, lalu maesaroh kelas C,” sahut Yuli.
“Subhannallah,”
“Satu lagi, pabelahnya, Mang Juher,” ujar Indri.
“Dari perahu?” aku penasaran, ingin meyakinkan kabar dari orang-orang tadi di jalan.
“Iya perahunya hanyut. Satu perahu dua puluh orang. Yang lain selamat, empat orang hanyut. Sekarang sudah ketemu tiga orang, Teti I-B, ketemu dari tumpukan sampah dan badannya tertimbun lumpur sebagian. Teti I-C ketemu tersangkut di akar pohon besar dekat muara. Maesaroh I-C, ketemu di sebuah leuwi tersangkut di akar pohon yang malang. Kasihan yah, nasib mereka,” kata Yuli menutup ceritanya. Terlihat air matanya menggenangi kelopak mata.
“Ya Tuhan, alhamdulillah engkau telah menyelamatkan hamba. Mungkin nasib hamba akan seperti mereka jika tanpa pertolonganmu. Di jembatan itu, riwayatku hampir tuntas. Karena pertolongan-Mu ya Allah, aku biasa selamat. Namun kini, temanku telah Engkau ambil. Semoga Engkau berikan tempat yang indah disisi-Mu. Tak ada yang bisa menolak kuasa-Mu. Selamatkanlah semua siswa-siswi SMP Negeri ini, hingga tercapai semua cita-citanya.”

Kisah memilukan masa kecil penulis
( Bandung, 29 Januari 2018.)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MELAWAN MAUT"

Post a Comment