RESTORASI MEIJI DALAM PARADIGMA PENDIDIKAN




RESTORASI MEIJI DALAM  PARADIGMA PENDIDIKAN.

Oleh:
Yanuar Iwan.S.*)

 Pada pertengahan abad ke 19 kekuatan-kekuatan maritim Eropa telah menemukan bentuknya menguasai Asia Selatan, sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan sebagian besar Asia Timur. Melalui Perang Candu (1839-1842) Inggris menanamkan pengaruhnya atas Cina. Keadaan geopolitik di Asia pada abad ke 19 tersebut benar-benar membuat Jepang paranoid, Letak geografisnya yang dekat dengan Cina menarik minat bangsa-bangsa barat untuk menjadikannya daerah kedua di Asia Timur setelah Cina bagi pemasaran hasilhasil industri.
Tahun 1853 Amerika Serikat dengan 4 (empat) buah kapal perangnya berhasil membuat kegaduhan di Jepang, Kapal uap dengan persenjataan yang lengkap meriam disisi dan depan haluan kapal membuat pemerintahan Edo Bakufu (pemerintahan sebelum zaman Meiji) dilanda dilema. Membuka hubungan diplomasi dan perdagangan dengan Amerika Serikat berarti membuka isolasi dan membuka kotak pandora yang membuka peluang bagi negara-negara Eropa untuk memporakporandakan Jepang.
Tetap meneruskan politik isolasi berarti pemerintahan Edo Bakufu dan rakyat Jepang bersiap untuk menghadapi perang melawan Amerika Serikat, Kegamangan dan kegundahan pemerintahan Edo Bakufu di bawah keluarga Tokugawa berbanding lurus dengan sikap rakyat Jepang yang khawatir dan takut negaranya akan menjadi korban ekspolitasi Bangsa-bangsa Barbar (orang Jepang menyebut Bangsa Barat abad ke 19 adalah Bangsa Barbar). Hanya perasaan tertinggal di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiliteran serta sikap rasional bahwa Jepang tidak akan mampu menghadapi 4 (empat) kapal perang AS tersebut yang membuat Bakufu terpaksa menuruti keinginan Amerika Serikat di bawah Commodor Perry dan mengambil kebijakan untuk membuka isolasi.
Perjanjian antara AS dan Jepang tahun 1854 menandai dibukanya Jepang bagi pengaruh asing. Masuknya konsul dagang AS Townsend Harris dan kemudian ditindaklanjuti dengan pembukaan kantor dagang dipelabuhan-pelabuhan Yokohama, Nagasaki, Kobe, Osaka, Niigata dan Tokyo adalah pembuktian sekaligus pengukuhan pengaruh asing tersebut.

REAKSI SOSIAL POLITIK ATAS PEMBUKAAN JEPANG.
Adanya sikap dan perasaan rasional serta sikap otokritik yang mendasar didalam diri bangsa Jepang khususnya terhadap kesadaran akan ketertinggalan dari bangsabangsa barat justru diperoleh dari sikap menentang politik pintu terbuka dari Edo Bakufu. Keluarga Satsuma dan keluarga Chosu adalah 2 (dua) representasi dinasti keluarga yang menentang pembukaan politik isolasi, mereka menuntut pengembalian kekuasaan kepada kaisar, tindakan Shogun membuka Jepang dianggap sebagai suatu penghinaan. Persatuan antara Kaisar dan militer serta semboyan politik hormatilah kaisar disertai semboyan politik “usir orang-orang biadab”.Segera memicu sebagian Ronin (samurai tanpa tuan ) untuk melakukan teror dan pembunuhan-pembunuhan terhadap pejabat-pejabat shogun ( tuan tanah ), beberapa pedagang barat bahkan diplomat, penyerangan terhadap AL Amerika Serikat dipelabuhan Shimonoseki. Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Perancis kemudian menyerang dan menduduki Shimonoseki.Satsuma dan Chosu menyerah dan sadarlah mereka, bahwa bangsa asing tidak dapat ditolak dengan kekuatan militer Jepang yang masih tertinggal dari Barat.
Diberlakukannya kembali pemerintahan kaisar secara langsung lebih dikenal dengan zaman Meiji pada tanggal 3 januari 1868 menandai berakhirnya zaman Edo, Tugas utama dari keluarga Chosu dan Satsuma adalah mengganti sistem feodal lama dengan kekuasaan terpusat yang lebih efektif serta mulai melaksanakan modernisasi disegala bidang kehidupan utamanya adalah keamanan asetaset bangsa dari penguasaan,aneksasi dan hegemoni Bangsa-bangsa Barat.
Yang menarik dalam perjalanan sejarah bangsa Jepang adalah orientasinya di bidang pendidikan. Adanya pemikiran membentuk manusia melalui pendidikan, kesadaran terhadap pentingnya pendidikan sudah ada sejak sebelum zaman Meiji dan menemukan bentuknya pada zaman Meiji,pembangunan modernisasi teknologi,memperkuat negara dan militer dasarnya adalah pendidikan.Ada peristiwa yang bisa menjadi pelajaran, Klan Nagaoka yang hidup pada awal zaman Meiji hidup serba kekurangan ketika mendapatkan bantuan beras dari Klan lain,mereka malah menjualnya untuk mendirikan gedung sekolah. Kobayashi Torasaburo pemimpin Klan tersebut berkata “Biar sekarang  beras pun bisa habis dimakan maka kota akan hilang. Tetapi dengan pendidikan, dimasa yang akan datang mungkin ada sepuluh ribu, bahkan sejuta karung beras. Pembangunan Jepang masih tertinggal dan mungkin sekarang akan diinvasi oleh bangsa asing seperti Amerika, Eropa dan Tiongkok. Mulai saat ini, kendati lapar kita akan mendirikan sekolah membangun manusia, dan memperkuat Jepang.”Ia berhasil meyakinkan rakyatnya dengan perkataan itu.( Yusuke Shindo, “Mengenal Jepang”).




MODERNISASI PENDIDIKAN
Sejak sistem dengan modernisasi pendidikan diberlakukan, hanya dalam 3 (tiga) tahun telah didirikan 24.303 sekolah dasar ( tahun 1875 atau tahun Meiji ke8 ). Kecepatan yang luar biasa sekaligus mencerminkan kesungguhan orang Jepang terhadap pendidikan. Adanya kepedulian yang tinggi dan sikap rela berkorban memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi proses pembangunan sekolah di Jepang. Prioritas utama dan sinergi terhadap pendidikan menjadi salah satu rahasia pembangunan manusia era Meiji.
Tentu saja ada tahapan trial and error, Proses jatuh bangun,gugur tumbuh dan berkembang disertai sikap menentang, menerima, mendukung, menolak yang pada akhirnya menjadi harmoni sosial. Proses dinamisasi berupa dialektika terhadap sistem pendidikan yang kiranya paling sesuai untuk masyarakat Jepang.
Sistem modernisasi pendidikan dizaman Meiji menurut Prof. Dr Hj Rochiati Wiriaatmadja M.A. dalam Pendidikan Sejarah di Indonesia perspektif lokal, nasional, global terbagi menjadi:

A.    Pembaruan gaya Perancis ( Gakusei 1872 ).
    Pembaruan gaya Perancis banyak dipengaruhi oleh laporan-laporan yang diberikan oleh misi yang dikirim pemerintahan Meiji untuk mengkaji sistem-sistem pendidikan di negara-negara Eropa dan Amerika.I nti dari pembaruan gaya Perancis adalah pembaruan yang diarahkan dari atas kebawah (Top Down ),seluruhnya diatur pemerintah mulai dari pengaturan jumlah sekolah disetiap distrik,Jepang memiliki 8 (delapan ) distrik setiap distrik terdapat sebuah universitas 32 sekolah menengah dan 210 sekolah dasar.Setiap sekolah dasar terdiri dari 2 ( dua ) tingkatan yang masing-masing berlangsung selama 4 ( empat ) tahun. Diatur pula persyaratan siswa dalam hal usia dan kualifikasi juga tentang gaji guru diketiga tingkatan persekolahan.

B.     Pembaruan gaya Amerika ( Kyoiku- rei 1879 ).
Pembaruan gaya Amerika dirancang untuk merevisi kelemahan-kelemahan dalam Gakusei. Kebijakan yang menganut desentralisasi ini mengharapkan bangkitnya daya pembaruan dari bawah keatas ( Bottom Up ). Jelas sekali pengaruh Amerika di dalamnya, dengan adanya tekanan pada kebebasan, otonomi lokal dan kemajemukan. Berbeda dengan Gakusei dalam Kyoku rei mulai diakui keberadaan sekolah-sekolah swasta,menyebabkan berkembangnya sekolah-sekolah dasar swasta dan memberikan kesan seakanakan sistem Terakoya ( sekolah kuil ) kembali lagi.Sistem Terakoya adalah sekolah kuil yang mulai berkembang pada zaman Edo dan mencapai puncaknya pada era Tokugawa,sekolah Terakoya ini termasuk yang berkontribusi pada tingkat melek huruf yang tinggi pada kelas masyarakat biasa. Dengan sistem Kyoiku rei pendidikan dan modernisasi sekolah diJepang mulai berkembang keseluruh penjuru negeri.

C.    Pembaharuan gaya Prusia.
Sistem Prusia tidak begitu berbeda dengan sistem Perancis, kecuali dalam hal tujuan.Sistem Perancis dengan kepemimpinannya yang sentralistis bertujuan untuk mengembangkan pendidikan manusia dalam prinsip liberte, egalite,dan fraternite, sedangkan sistem Prusia bertujuan untuk memperkuat kekuasaan negara dan kesejahteraan rakyat serta melatih manusianya yang akan mengabdi kepada negara tersebut.
Kekhawatiran dan keresahan masyarakat Jepang dengan program modernisasi ala barat memang sempat menimbulkan ketegangan antara pihak-pihak yang mendukung modernisasi barat dengan pihak-pihak yang menolaknya. Dengan diundangkannya Kyogaku-taishi yang berisi tiga hal, pertama tentang akibat-akibat diperkenalkannya peradaban barat. Kedua hilangnya atau pudarnya budaya Jepang akibat westernisasi. Ketiga solusinya adalah kembali diadakan pendidikan moral berdasarkan ajaran Confusianisme ala Jepang yang sudah mengalami sinkretisme dengan unsur-unsur kepercayaan Jepang dan menghasikan sintesa Sintoisme. Kombinasi Kyogaku-taishi dan pendidikan bergaya Prusia adalah hasil refleksi diri dan otokritik yang dalam bangsa Jepang terhadap pembaharuan pendidikan gaya barat.
Fondasi mentalitas Jepang sejak zaman Tokugawa yang lebih dikenal dengan semangat Bushido ( kode etik kaum samurai ) yang antara lain berisi :
-   Kejujuran
-   Tanggung Jawab
-   Menghormati dan menghargai yang tua
-   Kerja keras
-   Disiplin
-   Cinta tanah air (dalam sikap berikan yang terbaik kepada tanah air dan bangsa ).
Ternyata bisa ditransformasikan bangsa Jepang untuk membangun kekuatan diri akibat kekhawatiran dan ketakutannya terhadap imperialisme dan kolonialisme. Konsep “negara kaya militer kuat ( Fukoku Kyohei ) mencapai titik kulminasinya pada tahun 1905 dalam peristiwa bersejarah bukan saja untuk bangsa Jepang tetapi juga secara umum untuk harga diri bangsa-bangsa Asia, stereotype bahwa bangsa kulit putih adalah bangsa yang paling unggul bisa dihancurkan dengan kemenangan Jepang atas Rusia.
           
*) Penulis adalah guru IPS  SMPN 1 Cipanas. Cianjur

sumber photo: 
http://fataranaku.blogspot.com/2010/06/modernisasi-jepang-restorasi-meiji.html 
www.okezone.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RESTORASI MEIJI DALAM PARADIGMA PENDIDIKAN"

Post a Comment