BERJUANG SENDIRI MELAWAN KANKER (1)


Oleh: 

Lina Herlina

Dua Puluh Tujuh bulan berlalu, aku hidup bersama kanker. Bukan waktu yang sebentar untuk ukuranku yang berjuang untuk bertahan dari ganasnya kanker. Segala rasa sakit, nyeri yang bertubi-tubi telah kurasakan. Bahkan air mata pun telah enggan keluar dari mataku. Sejak saat itu setiap detik, menit dan setiap jam selalu kunantikan saat-saat kematian yang seakan telah siap menjemputku.
Semula segalanya berjalan apa adanya. Aku merasakan begitu bahagia ketika aku bersanding dengan seseorang yang kucintai. Dan tak lama setelah itu lahirlah buah cinta kami seorang bayi tampan yang begitu mempesona. Selang tiga tahun berikutnya lahir kembali seorang bayi laki-laki lagi untuk menemani sang kakak. Tadinya aku berharap bisa mendapatkan adik perempuan buat abangnya. Akan tetapi Allah berkata lain, aku hanya dapat mensyukurinya karena inilah pemberian yang terbaik dari Allah.
Hingga suatu malam, aku merasakan ada yang enggak enak di tubuhku. Ku pikir mungkin ini hanya masuk angin. Aku merasa pusing, dadaku agak ngilu, hingga menjalar ke punggung. Kucoba untuk memanggil tukang pijit. Setelah diurut-urut, agak sedikit lega, tapi perasaan enggak enak itu sebenarnya masih ada. Kupikir, mungkin tadi terlalu bersemangat mengajar di kelas. Atau aku agak telat sarapan hingga masuk angin.
Meski semalaman kurang nyenyak tidur, tetap aku harus bangun lebih awal. Karena aku harus mempersiapkan keberangkatan suamiku ke tempat kerjanya, serta anakku ke sekolah. Cuaca subuh yang dingin dan kondisi tubuhku yang kurang enak memaksaku untuk mandi dengan air hangat seperti anak-anak.
Guyuran air hangat terasa mengalir ditubuhku yang agak ngilu. Mungkin bekas pijatan atau masuk anginnya belum reda. Kugosok-gosok tubuhku dengan sabun tanpa menggunakan sepon karena takut sakit. Ketika kuraba dibagian payudaraku, terasa ada sesuatu yang berbeda. Seperti sebuah benjolan sebesar kelereng tapi ketika kutekan sedikit agak sakit. Mungkin ini alami saja pikirku, karena aku masih menyusui anak ke duaku.
Berkali-kali ku gelang-gelang bagian payudara kiriku itu setiap akan menyusui si kecil. Tapi bulatan itu masih terasa ada dan mengganjal. Bahkan kian hari seakan kian membesar.
“Cepat periksa Bu,” kata sahabatku ketika kuceritakan di saat istirahat.
“Kalau masih dini kan masih bisa diobati, mudah-mudahan bukan penyakit berbahaya.”  Ujarnya sambil menekan-nekankan tiga jarinya ke sisi payudara kiriku yang membenjol.
“Iyah sih Bu, tapi aku takut untuk periksa.” Jawabku lirih.
“Terus kalau periksa, harus ke mana yah?” Aku balik bertanya.
“Coba saja ke dokter  penyakit dalam, di Garut kan ada.” Sahut dia sambil sibuk menilik-nilik benjolanku.
Sampai di rumah perbincanganku dengan bu Mila, sahabatku, terus menghantui pikiran. Aku harus segera memeriksakan diri, sebelum rasa sakit ini semakin menjadi. Tapi aku belum cukup uang untuk bekal periksa. Karena gajiku sebagai guru honorer terkadang tak menentu. Meskipun aku bekerja di sekolah negeri, kalau dana BOS belum cair, kepala sekolah yang pusing mencari dana talang untuk membayar tenaga honor. Jadinya honor yang biasa dibayarkan paling lambat tanggal 3, terkadang bisa mundur beberapa hari ke depan.
Sekarang pun, tanggal 6 aku belum dapat menerima gaji, sehingga belum dapat memeriksa diriku. Perasaan semakin hari rasa sakit di dada sebelah kiriku semakin menjalar ke tangan kiri dan punggung sebelah kiri. Kalau aku menunduk ada yang berat di pundak, rasanya ada yang tertarik dari otot dadaku.
Hari ini, aku ijin cuti dengan memberikan surat ijin dan tugas untuk di kelas, karena kebetulan aku ada jam di kelas 8. Kubulatkan tekad, bismillah, aku akan ke dokter dalam yang ada di Garut untuk periksa.
Cukup banyak juga pasien yang antri di dokter ini. Aku yang lebih awal berangkat ternyata kebagian nomor antrian yang cukup besar. Nomor 52 yang tertera di kartu panggilan. Sementara pasien yang tengah diperiksa baru sampai nomor panggilan 8. Aku harus sabar menanti, sambil kupeluk anak bontotku yang baru berusia setahun lebih.
Aku memang terbiasa mandiri. Tak seperti ibu-ibu rumah tangga yang lain. Kemana-mana harus selalu diantar suaminya termasuk periksa ke dokter. Mungkin karena suamiku yang pegawai swasta selalu sibuk bekerja, atau aku yang enggan merepotkannya, jadi aku selalu berangkat sendirian. Termasuk memeriksakan diriku juga. Aku pergi sendiri ditemani anak bungsuku yang tak bisa ku tinggal karena tak ada yang mengasuhnya.
Ku peluk erat anakku yang duduk dipangkuanku, tak sadar ku remas punggungnya. Suara dokter terdengar lamat-lamat, ku tahan isakku. Tapi air mata tak dapat ku bendung.
“Bu Yulia, diagnosa sementara, ini kanker payudara.” Itu ucapan dokter yang terdengar bagai petir di siang bolong. Aku kaget, takut, sedih dan ... lemas.           
Lama aku terisak, dengan memeluk anakku yang semakin erat memeluk tubuhku dan ikut terisak juga mendengar tangisanku. Kepalaku sakit, mataku gelap pikiranku kacau, apa yang akan terjadi denganku selanjutnya. Anakku yang masih kecil ini, kakaknya yang baru menginjak kelas satu Sekolah Dasar, masih benar-benar membutuhkan perhatianku.
Melihat keadaanku, dokter membiarkanku supaya tenang sebentar hingga melanjutkan kata-katanya.
“ Bu Yulia, ini baru diagnosa sementara, yang lebih akurat ibu harus melakukan oprasi untuk biopsi.”
“Mudah-mudahan hasil biopsinya negatif.”
“Kalau negatif, ini bisa disembuhkan dengan obat dan akan cepat mengecil.”
“Kalau hasilnya positif, maka Ibu harus melakukan operasi pengangkatan dan  kemoterapi.”
“Tapi kalau bisa secepatnya Bu, karena biasanya ini cepat berkembang dan bisa menjalar ke bagian vital tubuh.”
Aku hanya mengangguk lemah tanpa dapat berkata apa-apa karena air mata tak dapat berhenti mengalir deras membasahi kain kerudungku.
Setelah itu, pikiranku penuh dengan rasa takut. Jangan-jangan ini seperti yang terjadi pada almarhum bapakku. Bapak meninggal tahun 2009 setelah berjuang melawan kanker getah bening. Meski berbeda jenis kankernya tapi yang namanya keturunan tetap ada kemungkinan.
Kalau biasanya perjalanan Garut- Limbangan menghabiskan waktu satu setengah jam menggunakan angkutan umum. Kali ini satu setengah jam ini terasa berhari-hari ku lalui. Di angkot aku tak henti-hentinya menangis. Aku berusaha menyembunyikan wajahku dibalik kepala anakku karena malu dengan penumpang yang lain. Sementara anakku lelap tertidur setelah lelah menangis menemani tangisanku.
Tiba di rumah, aku cepat menidurkan si kecil sementara kakaknya sedang tidak ada pergi mengaji. Niatnya hendak kuambil air wudlu, tapi aku malah terduduk lemas bersender ke dinding WC sambil kembali menangis, dan ... pecahlah tangisan yang ditahan sejak siang tadi.
Setelah lelah aku menangis sendirian, tak ada tempat mengadu. Rumah begitu sepi, sesekali terdengar desahan nafas anakku yang tengah lelap tertidur. Mungkin ia tengah bermimpi indah serasa dalam pelukan ibunya. Kembali ku adukan dukaku kepada Yang Maha Kuasa. Ku lalui shalat maghribku dengan begitu khusyu bersama deraian air mata. Begitu pun selesai shalat ku lanjutkan doaku kepada Sang Illahi Rabbi.
“Ya Allah, Sang Pemilik ragaku ini, jika ini sebagai azab dari segala dosaku, maka ampunilah aku. Jika ini sebagai ujian buatku kuatkanlah aku dan berilah kesabaran untuk melaluinya. Maka sembuhkanlah aku, karena Engkau Maha Penyembuh.”
“Jika ini jalanku untuk kembali kepadamu, aku pasrah Ya Rabb, tapi jangan biarkan anak-anakku menderita karena aku. Ku mohon berilah kemudahan bagiku untuk melaluinya.”
“Jika aku diperkenankan untuk memohon, berilah kesembuhan dan usia panjang kepadaku, karena aku ingin dapat mengurus dan mendidik anak-anakku yang masih kecil. Jangan biarkan mereka terlantar ya Rabb”.
Malam itu kulalui tanpa bisa terlelap sedikitpun. Bukan karena rasa sakit yang kurasakan, tapi ketakutan dan berbagai bayangan yang terus terpikirkan hingga aku sulit untuk memejamkan mataku. Alhasil, keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan agak keleyengan karena kurang tidur.

BERSAMBUNG ...

  *) Lina Herlina, S.Ag, M.Pd.I guru PABP di SMPN 3 Limbangan.
**) Cerpen ini diambil dari kisah hidup sahabatku Ibu Yuli Susilawati, S.Pd Guru IPA di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut. Tulisan ini didedikasikan untuk beliau yang sedang berjuang melawan kanker, semoga menjadi motivasi buat semua orang yang terkena kanker. Tetaplah tabah dan kuat berjuang seperti beliau

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "BERJUANG SENDIRI MELAWAN KANKER (1)"

  1. Aku gak nyangka ternyata di balik kebahagiaan senyuman ibu ada rasa sakit yg dalam 😭😭😭😭😭 semoga ibu selalu sehat

    ReplyDelete
  2. Syafakillah ibu 😭😭😭😭😭😭

    ReplyDelete
  3. Semoga cepat sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala guruku tercinta

    ReplyDelete