CERPEN


NERAKA KECIL DI SURGAKU
Oleh: Iwan Al-Aswad

    




Hari ini menjelang akhir pekan. Kuputuskan untuk pulang lebih awal. Ya, aku harus berkemas lebih awal untuk mengejar waktu perjalanan yang tidak singkat. Jarak antara tempat tugas dengan rumahku lumayan jauh. 150 km, jauh, ya. Jarak itu biasa kutempuh 4-5 jam.
     Kupacu tungganganku dengan kecepatan agak tinggi. Kulakukan itu karena lalu lintas jalan jalur ini cukup lengang. Sesekali kuperlambat saat jalan menikung tajam.
     Tak kunikmati lagi pemandangan indah sepanjang jalan ini karena ku anggap sudah tidak asing lagi. Perkebunan karet yang daunnya mulai menghijau setelah meranggas, ladang petani yang padinya mulai menguning, rumpun perdu yang tumbuh subur, atau tebing batu kapur yang membentuk dinding ukir batu alam tidak lagi membuat rangsangan untuk berdecak kagum. Yang kubayangkan hanya jingkrakan kegembiraan  anak-anak menyambutku, senyum istri di depan pintu rumahku. Terbayang pula sajian masakan kampung buatan istriku.
     Dering telepon menyadarkanku dari dari lamunan. Sekilas kupandang layar telepon, rupanya sambungan dari istriku. Sambil menatap ke depan, kuangkat telepon.
     "Asalamualaikum," ucap istriku di seberang sana.
     "Waalaikum salam," sambutku.
     "Bapak kapan pulang?" ucapnya.
     "Sekarang, doong, ini lagi di jalan," balasku.
     "Hah ...! Udah jalan?" teriaknya seolah tak menyangka.
     Ups .... Hampir saja ban depan tungganganku terperosok ke lubang tepi jalan. Beruntung gerak reflek tanganku masih sigap.
     "Oke, Mah. Aku lagi nyetir. Udah dulu, ya," ucapku.
     "Oke, Pa. Hati-hati di jalan," balasnya.
     "Oke, Mah," sahutku menutup percakapan.
     Laju mobil mulai kuperlambat. Jalan yang mulai berkelok-kelok membuatku sedikit “jiper”. Pada jalur ini kewaspadaan dan konsentrasi harus terjaga. Bagai mana tidak, jalan yang kulewati seolah berada di tengah lintasan di tengah lereng memanjang. Sebelah kanan tebing terjal, sedangkan sebelah kiri lereng curam. Belum lagi banyak gundukan tanah bekas longsoran kecil akibat guyuran hujan tadi malam, membuat jalan terasa becek dan licin.
      Satu jam medan ekstrem itu kulalui. Kini kuarungi jalan yang sedikit membuat tanganku agak santai memegang stir. Hamparan kebun teh menyegarkan pandanganku. Di depan kulihat lapak kecil penjual hasil kebun. Kulihat beberapa ikat petai yang masih berdaun tergantung di depan lapak. Kutepikan mobilku tak jauh dari lapak itu.
     "Petai baru panen ya, Pak?" tanyaku pada penunggu lapak.
     "Ya, Pak. Baru dipetik pagi tadi," jawabnya.
     "Ini buah manggis dari kebun Bapak juga?" tanyaku seraya memegang ikatan buah manggis.
     "Ya, Pak. Musim buah manggis biasa berbarengan dengan musim petai," katanya memberi penjelasan tambahan.
     Tawar menawar pun berakhir dengan kesepakatan. Kubeli beberapa petai yang sesuai seleraku dan istri. Tak lupa pula buah manggis kesukaan anakku.
     Sepanjang perjalanan kubayangkan menu rumahan karya istriku. Nasi putih, goreng ikan asin, sambal tomat, dan sayur asam. Tak terasa pinggiran lidahku mulai berliur.
     Hampir lima jam kutempuh perjalanan. Menjelang sore aku tiba di rumah. Anakku yang ketiga berlari membuka pintu. Ya, anakku yang ketiga inilah yang masih ada di rumah. Karena kedua kakaknya tinggal di rumah kos di kota tempatnya kuliah. Ia hanya membuka pintu kemudian berlari kembali ke dalam sambil berteriak, "Mah Bapak pulang, Bapak pulang tuh, Mah."
     Tak lama kemudian istriku ke luar mendekatiku. Tangan kirinya digelayuti anakku.
     "Pasti ngebut nih," katanya.
     "Biasa aja, nyantai, kok,” ucapku sambil menyodorkan ikatan buah petai yang tadi kuterima dari pemilik lapak di perkebunan teh. Sementara anakku menyelinap masuk ke dalam mobil. Mungkin dia mencari oleh-oleh bawaanku.
     "Wuih .... Pasti baru dipetik ya, Pak?" tanya istriku sambil menimang-nimang buah petai.
     "Kata penjualnya, sih ...," ucapku.
     Aku langsung masuk diikuti istriku. Dari arah dapur kudengar suara Ibu Mertuaku sedang bercakap- cakap dengan seseorang.
     "Ada Bibi dari Cikarang," kata istriku. Sepertinya dia tahu apa yang kupikirkan.
     "Oh, Bibi. Sudah lama?" tanyaku.
     "Tadi  datang sebelum zuhur," jawab istriku.
     Perutku mulai terasa lapar. Hasrat ingin makan dengan lalap kesukaan tak terbendung. Maklum, sejak tawar menawar dengan pemilik lapak di perkebunan teh sudah terbayang nikmatnya makan di rumah.
     "Kebetulan! Kita makan bareng," ucapku penuh semangat.
     "Tapi, Pak .... Anu ...."
     "Anu apa?  Kan langka kesempatan kita makan bareng sama Bibi," sambarku.
     "Aku lupa masak, Pak."
     "Hm ... lupa? Tahu suami mau pulang tapi lupa masak? Ngapain aja di rumah?" semprotku dengan nada agak tinggi. Ada rasa kecewa menyesak di dadaku. Dalam benakku terpikir mengapa ada tiga wanita di rumah, tapi tak ada yang mengingatkan untuk memasak.
     Suara obrolan di dapur tak terdengar lagi. Rupanya dialog antara aku dan istriku mereka dengar.
     "Baru datang ya, Pak Guru," sapa bibiku seraya tergopoh-gopoh mendekatiku. (Dia memang menyebutku demikian meski dia adalah bibiku).
     "Ya, Bi," jawabku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Hanya saling tanya kabar masing-masing. Obrolan berlangsung singkat.
     Kuhempaskan tubuhku di kursi tamu.
     "Ngerumpi memang asyik. Sampai lupa menjamu suami, meski hanya sekedar air minum," gerutuku menyindirnya.
     "Maklum, Pah. Kita sudah lama tak berkunjung ke rumah Bibi. Jadi tak terasa ngobrol panjang karena kangen, jadi lupa memasak. Sabarlah sebentar, mamah masak dulu. Gak lama, kok," kata istriku mencari alasan pembenaran.
     "Sudahlah! Tak perlu masak! Udah hilang nafsu makanku," ketusku.
     Tak menjawab. Istriku ngeloyor masuk kamar diikuti anakku. Sayup- sayup terdengar isakan dari arah kamar.
Lelahku tak tertahankan. Obrolan Bibi dan Mertuaku masih berlanjut di ruang makan. Terdengar sayup-sayup lalu menghilang.
*
     Ada rasa gatal di mata kakiku, kugaruk, dan matakupun terbuka. Lampu di ruang tamuku sudah menyala. Obrolan di ruang makan tak terdengar lagi. Rupanya aku tertidur di kursi tamu.
     “Ada apa dengan istriku? Tak biasanya dia membiarkanku tertidur di kursi tamu,” aku bergumam sambil menggosok-gosok kelopak mataku.
     Aku berjalan menuju kamarku. Perlahan kubuka pintu, masih ada suara isakan di sana. Kudekati istriku yang sedang mendekap anakku. Kutepuk pundaknya.
“Kenapa, Mah?” tanyaku. Tak ada jawaban. Badannya masih berguncang-guncang menahan senggukan.
Kubaringkan badanku di sisinya. Kubiarkan istriku menumpahkan perasaannya dengan menangis, meski aku tak tahu penyebab tangisannya. Sepi.... Aku hanya menatap langit-langit kamar menyaksikan sinar lampu yang dirubung beberapa laron.
Tak biasanya suasana rumahku seperti ini. Sebelum hari ini, saat kepulanganku sebelumnya, suasana rumah sungguh menyenangkan. Gelayut manja anakku memandu gerak tanganku mengiringi langkah, sambil mulutnya tak henti bercerita tentang kegiatannya selama kutinggal. Di sela celoteh anakku, istriku menimpali sambil sedikit mengolok-olok anakku. Sungguh...! Suasana itu kurindukan. Tidak seperti saat ini, sepi dari celoteh anakku, tak ada kopi hangat yang tersaji, tak ada gelak tawa yang menghiasi.
“Neraka Kecil” sedang hinggap di suasana “Surga”-ku.
Ada sentuhan di punggung membuyarkan lamunanku. Rupanya sikut istriku yang perlahan berbalik posisi. Kulirik ke arahnya. Nyaris berbalik kembali, namun kutahan pundaknya.
“Mah ...! Ada apa dengan Mamah? Bukannya gembira Bapak pulang,” ucapku sambil menatap wajahnya.
Dia tertuduk .... Tak membalas tatapanku. Tangannya berusaha melepas peganganku di pundaknya.
“Gak perlu mamah jelasin! Papah pasti tahu jawabannya.”
 Sudah kuduga .... Pasti jawabannya seperti itu. Padahal aku sama sekali tak tahu. Sumpah...!
Emak-emak memang begitu. Mereka selalu benar. Gak percaya?
Beberapa minggu yang lalu aku menikmati libur di rumah. Hari Minggu pagi, saat itu aku baru saja selesai mandi.
“Pah, mau makan sama lele?” tanya istriku
“Mau dong,” jawabku.
“Tapi lelenya udah lama,” katanya
“Ya udah, jangan,” aku mulai agak kesal.
“Tapi disimpan di freezer, da,” imbuhhnya.
“Aaargh ...! Mamah ini maunya apa, hah?”
“Kan Papah yang mau makan,” jawab istriku. Wajahnya agak memerah, tangannya mulai sibuk mengusap air mata. Sementara aku tak tahu apa yang membuatnya menangis. Bukankah seharusnya aku yang menangis karena liku-liku tawarannya?
Peristiwa demi peristiwa kurenungi. Akupun tersadar, Ternyata nada suaraku yang agak ketus, sindiranku yang agak pedas, tatap mataku yang “sinis”, membuat hatinya tergores. Hal itu membuatnya merasa dipersalahkan dan akhirnya “Bad Mood”. Ya, aku tahu kini....  Membuatnya “Bad Mood” akan mengundang “Neraka Kecil” hinggap di rumah.
Malam semakin larut dan kantuk pun menggelayut. Suara nyanyian jangkrik terdengar sayup-sayup hingga akhirnya sirna.
**
Ada tepukan lemah di telapak kakiku. Kubuka mataku. Dengan sedikit malas aku bangkit dari berbaring.
“Subuh, Pak. Air hangat udah di kamar mandi,” kata istriku sambil menyodorkan handuk.
“Oh, ya,” jawabku seraya mengambil handuk dari tangannya.
 Aku berjalan ke kamar mandi sambil terkantuk-kantuk. Kusiram kepalaku dengan air hangat. Ada rasa segar meresap dan menjalar ke seluruh tubuh. Bukan karena air hangat, tapi penyajian dengan kehangatanlah yang menebarkan rasa segar.
Dalam hati aku bersyukur karena “Baiti Jannati” kuraih kembali.

Sukabumi, 8 Januari 2018

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CERPEN"

Post a Comment