Cerpen Annida Sofia (Siswi SMKN 4 Bandung)


HIRAETH: AKU RINDU RUMAH





Annida Sofia
(Siswi SMKN 4 Bandung)


Sore itu, aku berjalan cukup jauh. Embusan angin mendekapku begitu erat. Barisan lampu taman yang mulai menyala seolah menyemangatiku untuk terus berjalan. Jangan tanya ke mana tujuanku. Aku pun tidak tahu, yang aku tahu, aku sedang merindu. Aku rindu. Rindu akan rumah.
Di tengah perjalanan, aku berhenti sejenak. Melihat ke arah kedai kopi yang dulu sering sekali kukunjungi bersama temanku. Kulihat cukup banyak orang yang datang. Ada yang hanya sekadar mengobrol santai untuk melepas penat sepulang kerja. Ada pula yang menikmati secangkir kopi berdua dengan sang pujaan hati.
Dari luar pintu kedai, tiba-tiba kenangan masa lalu terlintas di benakku, membuatku ingin bernostalgia di dalam kedai itu. Sendirian.
“Jangan masuk! Teruslah berjalan sampai kamu menemukan arti rumah,” ucapku dalam hati.
Aku mengikuti kata hatiku. Meskipun lelah aku terus berjalan. Aku mendengar suara motor mendekat ke arahku.
“Hey ..., Alya, kan? Sendirian aja, nih? Ayo naik, biar kuantar kau pulang!” ucapnya.
“Eh, Rama. Bikin kaget saja kamu ini,” balasku.
“Hahaha iya. Aku Rama. Ya udah, ayo naik cepetan!” timpal Rama sambil  menarik tanganku.
“Iya, deh, ayo!” balasku.
Rama adalah teman sekelasku saat duduk di bangku SMP. Dulu dia seorang yang penakut, culun, juga ceroboh, aku hampir tak mengenalinya. Akhirnya  aku memutuskan untuk ikut dengannya. Sepanjang jalan terasa begitu menyenangkan. Sampai di ujung jalan, Rama mendapat telepon dari pacarnya bahwa dia harus segera menjemputnya.
“Alya maaf ya, aku harus segera menjemput pacarku, kasihan dia, orang tuanya mengalami kecelakaan dan aku harus segera mengantarnya ke rumah sakit,” ucap Rama.
“Ah, ya sudah, turunkan aku di ujung jalan sana, ya!” balasku.
Aku pun turun dan kembali melanjutkan perjalanan. Rupanya kali ini pejalananku tidaklah mulus. Ada banyak kerikil. Sesekali aku tersandung, hampir saja terjatuh namun masih bisa menjaga keseimbanganku. Saat merasa sangat lelah, aku memutuskan untuk duduk di dekat toko yang sudah tutup. Setelah merasa siap untuk melanjutkan perjalanan aku pun mulai berdiri dan berjalan kembali. Tidak lama kemudian, hujan mulai turun dengan derasnya. Seorang pria yang berada di belakangku datang menghampiriku membawa payung hitam dan meneduhkanku.
“Kamu mau ke mana?” tanya seorang pria.
“Aku ingin kembali ke rumah,” balasku.
“Aku payungi, ya?” timpalnya.
“Terima kasih,” balasku lagi.
Sepanjang perjalanan aku masih sesekali tersandung kerikil. Ia tidak bisa menolongku ketika aku hampir terjatuh karena sibuk memegang payung agar kami berdua tidak kehujanan. Aku mendengar seperti ada suara yang memanggil teman sepayungku ini. Kami berhenti sejenak, melihat ke arah suara berasal. Ternyata benar memang ada seseorang di sana, dan itu adalah teman pria sepayungku.
“Kamu aku antar ke tepi saja untuk berteduh, ya? Aku harus menghampiri temanku,” ucapnya berkejaran dengan suara hujan.
“Tidak usah, kamu hampiri saja temanmu, rumahku sudah dekat, terima kasih, ya,” balasku kepada pria payung itu.
Pria berpayung itu langsung datang menghampiri temannya. Lagi-lagi aku sendirian. Kali ini jalan yang kulalui banyak yang berlubang dengan dipenuhi air hujan, hingga sulit untuk menghindarinya, karena aku takut lubang itu dalam dan membuatku terjatuh. Aku harus berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang dipenuhi oleh air yang menyatu dengan tanah. Beberapa kali aku melompat untuk menghindarinya. Sering juga aku terjatuh ke dalam lubang yang tak terlihat karena lampu penerangan yang sedang rusak. Meskipun terluka, aku berusaha bangkit dan kembali berjalan. Di tengah perjalanan aku melihat dua lubang besar menghalangi jalanku. Aku bingung. Ke mana ku harus menghindarinya?
Aku berusaha melompat dengan rasa sakit yang masih terasa. Aku terjatuh. Sakit rasanya hingga susah untuk bangkit. Hujan yang perlahan reda seakan mengajakku untuk diam di tempat ini hingga aku merasa membaik. Aku ingin bangkit namun sakit. Aku pun memutuskan untuk diam di sini, entah sampai kapan.
Tak lama terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Suara itu semakin dekat. Sepertinya suara itu akan datang menuju ke arahku. Aku melihat ke belakang, terlihat seorang pria berkaos hitam dengan celana jeans panjang menghampiriku dengan tertatih-tatih, sangat kelelahan. Ah, aku mengenalnya. Dia adalah Dean. Pria lugu yang selalu duduk di belakangku saat SMA. Iya, dia teman sekolahku.
“Genggamlah tanganku!” ucap Dean sembari kelelahan.
“Bantu aku bangkit, Dean!” balasku sambil mengulurkan tangan kepadanya.
Aku masih merasa sakit, namun genggaman erat tangannya meyakinkanku untuk berjalan menuju rumah yang hampir sampai. Sambil berjalan ia menceritakan kepadaku tentang dirinya yang mengikuti seseorang dari belakang, melihatnya naik motor bersama pria lain, melihatnya di bawah payung bersama pria lain, melihatnya melompati lubang-lubang hingga terjatuh beberapa kali.
Aku terdiam. Aku yang awalnya mengira seorang diri ternyata ada yang diam-diam mengikuti setiap langkahku. Mengetahui setiap masalah yang kuhadapi selagi di perjalanan menuju rumah.
Kami berdua berjalan. Di perjalanan masih ada kerikil dan lubang di jalanan. Dia memeganggku tiap kali aku hampir terjatuh. Dia memberitahuku tiap ada lubang di hadapanku agar aku tidak terjatuh. Dia terus menggenggam erat tanganku.
Berdua bersamanya, aku merasa aman. Saat ini aku sedang menuju rumah dengan seseorang yang menggenggam erat tanganku agar aku tidak terjatuh. Bukan dengan kendaraan agar aku cepat sampai. Bukan dengan payung agar aku tidak kehujanan. Tapi dia yang tidak mau melepaskan genggamannya agar aku tidak terjatuh.*



*Dikutip dari buku antologi cerpen "Bagai Bulan Merindui Pagi" karya siswa-siswi SMKN 4 Bandung, alumni pelatihan menulis cerpen bersama Guneman.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen Annida Sofia (Siswi SMKN 4 Bandung)"

Post a Comment