EDUKASI YANG MENGINSPIRASI



Oleh: 
Mohamad Nursodik, M.Pd.
Kepala SMP Negeri 2 Sukatani Kabupaten Purwakarta

If you born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s your mistake, ungkapan tersebut jika diterjemahkan secara bebas, “Jika Anda lahir dalam keadaan miskin, itu bukan kesalahan Anda. Tetapi jika Anda mati dalam keadaan miskin, itu kesalahan Anda”. Ungkapan tersebut pernah disampaikan oleh William Henry Bill Gates III (sering dikenal dengan Bill Gates). Seorang pengusaha yang produknya kita pakai setiap hari, yaitu Microsoft.
Seorang bayi tidak bisa memilih harus lahir dari rahim siapa, karena kelahiran itu adalah given. Sehingga yang menjadi masalah bukan dari rahim mana bayi itu lahir, tetapi menjadikan bayi itu sebagai manusia yang utuh, itulah yang menjadi masalah. Pengaruh-pengaruh dari luar, baik dari keluarga atau lingkungan sekitarnya itulah yang menjadikan bayi itu tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain, pendidikan yang diterima oleh sang bayi, itulah yang banyak memperngaruhi tumbuh kembangnya.
Pandangan klasik tentang pendidikan pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat dijalankan pada tiga fungsi sekaligus; Pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat di masa depan. Kedua, mentransfer atau memindahkan pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan, dan, Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban.
Pendidikan tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, pendidikan harus sampai mentransfer nilai (transfer of value). Selain itu, pendidikan juga mengandung unsure budaya yang menuntut peserta didik untuk selalu mengembangkan potensi dan daya kreatifitas yang dimilikinya agar tetap survive dalam hidupnya. Karena itu, daya kritis dan partisipatif harus selalu muncul dalam jiwa peserta didik.
Realitas yang ada pendidikan sekarang belum mampu (kalau tidak mau disebut gagal) melahirkan peserta didik yang kompeten, baik dari segi keilmuan, keahlian, ketrampilan yang berorientasi pada kehidupan individualnya maupun dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat yang lebih luas. Akibatnya, bias dipahami, pendidikan belum mampu merubah pola piker peserta didik kearah yang lebih baik. Pendidikan belum mampu menginspirasi peserta didik untuk berbuat sesuatu guna merubah dirinya.
Adalah tugas kita mengahadirkan pendidikan yang inspiratif, pendidikan yang mampu menyentuh jiwa. Pendidikan yang inspiratif adalah pendidikan yang “tidak hanya sekedar”. Selama ini masih banyak terjadi pendidikan itu “hanya sekedar”, pendidikan dilakukan hanya sekedar melaksanakan tugas, hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulum, ataupun hanya sekedar memenuhi jam kerja. Sehingga hasilnya pun hanya sekedar lulus, hanya sekedar mendapatkan ijazah dan SKHU.
Sudah saatnya pendidikan harus mampu memberikan stimulasi mental pada peserta didik. Stimulasi mental ini mempengaruhi siswa tidak hanya pada aspek kognitif tetapi melibatkan rasa atau emosi positif sehingga member dampak yang lebih kuat terhadap pemahaman siswa. Semakin banyak emosi positif yang dirasakan oleh siswa pada waktu belajar, maka penguasaan materi pelajaran akan semakin baik.
Berkaitan dengan pendidikan yang inspiratif, ada beberapa hal penting yang harus menjadi konsen pendidikan saat ini, pendidikan harus mampu menumbuhkan rasa percaya diri (confidence), yaitu kemampuan individu untuk dapat memahami dan meyakini seluruh potensinya agar dapat dipergunakan dalam menghadapi penyesuaian diri dengan lingkungan hidupnya. Orang yang percaya diri biasanya mempunyai inisiatif, kreatif, dan optimis terhadap masa depan, mampu menyadari kelemahan dan kelebihan diri sendiri, berpikir positif, menganggap semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya.
Pendidikan juga harus mengajarkan kepada peserta didik untuk berani mengambil resiko. Berani mengambil resiko itu penting, karena hal itu menujukkan seseorang telah berbuat sesuatu. Mereka yang tidak berani mengambil risiko berada di jalan menuju “jaminan kegagalan”, menurut pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Pendidikan harus mengajarakan kepada peserta didik untuk berbuat sesuatu dengan segala resikonya.
Selanjunya, pendidikan harus mengajarkan kepada peserta didik untuk berorientasi pada masa depan. Orientasi masa depan adalah upaya antisipasi terhadap masa depan yang menjanjikan. Peserta didik diajak untuk mulai memikirkan kebutuhan tentang masa depan secara sungguh-sungguh. Peserta didik mulai diarahkan untuk memberikan perhatian terhadap bebagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya.
Contoh konkret dari upaya menginspirasi peserta didik adalah memberikan pengalaman langsung dengan mengunjungi obyek-obyek yang sekiranya dapat memotivasi siswa, misalnya kunjungan ketempat-tempat wirausaha di sekitar sekolah. Kunjungan ketempat-tempat wirausaha ini bertujuan lebih memperkenalkan peserta didik kedalam dunia wirausaha yang sesungguhnya. Sehingga dengan pengalaman tersebut diharapkan menggugah inspirasi dan menumbuhkan motivasi belajar.
Upaya lain yang dapat dilakukan ,yaitu dengan menghadirkan seorang tokoh ke dalam pembelajaran, misalnya tokoh wirausaha, atau figure sentral lainnya. Dengan menghadirkan pelaku wirausaha dalam pembelajaran akan menambah wawasan peserta didik, dan akan mengubah kesan pembelajaran yang cenderung teoretis menjadi pembelajaran yang praktis dan kontekstual.
Dengan berbagai upaya di atas diharapkan mampu merubah pola piker peserta didik, agar mereka yang terlahir miskin, mampu merubah jiwanya menjadi jiwa kaya, sehingga tidak mati dalam keaadaan miskin juga. Pendidikan harus mampu memberikan inspirasi. Satu orang yang terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat “Aku ingin jadi seperti dia” atau “Aku bias lebih hebat lagi”.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "EDUKASI YANG MENGINSPIRASI"

Post a Comment