ENDORFIN BERNAMA TAWA



J. Firman Sofyan 
(SMART Ekselensia Indonesia)

Apa yang terjadi dalam otak kita saat teror datang? Sekurang-kurangnya, hormon rasa takut scotophobin dan kimia otak norepinefrin meningkat di otak. Respons kimia otak seperti ini lalu membuat manusia menjadi takut sekaligus merasa cemas.

Teror bisa datang di mana dan kapan saja. Bahkan, teror bisa terjadi di dalam lingkungan yang lebih sempit, seperti keluarga dan sekolah. Anak mungkin menganggap kemarahan orang tua saat anak melakukan kesalahan adalah sebuah teror.

Di sekolah, siswa mungkin menganggap beberapa pelajaran adalah sebuah teror. Selain itu, tugas, PR, ulangan harian, ujian tengah semester, ujian nasional, pembagian rapor, dan semua kegiatan yang berhubungan dengan sekolah bahkan bisa dianggap teror. Bahkan, jangan-jangan, kata sekolah justru adalah teror sesungguhnya. Jika ini terjadi, bisa jadi semua anak Indonesia enggan bersekolah.

Sebelum ini semua terjadi, sekolah tentu harus punya usaha preventif. Selain harus memiliki visi dan misi yang bagus, sarana prasarana yang memadai, lingkungan yang kondusif, sekolah pun harus memiliki amunisi utama dalam keberlangsungan usahanya, yaitu guru. Guru adalah aktor utama yang akan menentukan nasib sekolah: menjadi sebuah teror atau menjadi jalan pertama agar siswa bisa menjadi seorang profesor.

Kondisi di Bawah Bayang-bayang Teror
Di bawah bayang-bayang teror, selain rasa takut dan cemas mendera kehidupan, fisik juga menjadi tegang. Otot-otot menjadi kencang, pembuluh darah jantung dan otak lebih menguncup, darah menderas, jantung berdebar, dan napas memburu. Kondisi fisik dan jiwa menjadi tegang kemudian membuat orang begitu cepat marah, mengamuk, gampang tersinggung, mungkin agresif. Adrenalin tubuh pun membanjir pada saat teror mengancam.

Pada orang berbakat pencemas, teror memicu munculnya penyakit gangguan kecemasan. Pada gangguan kecemasan, serangan panik mudah berkembang. Selain kimia otak norepinefrin, kimia otak GABA (Gama-amini-butric-acid) yang meningkat pun akan membuat orang mudah panik. Pada orang berbakat panik, reseptor GABA di otaknya memang sensitif sejak lahir. Bahkan, mungkin bisa menjadi pemicu seseorang mengidap bipolar (ODB).

Segenap rasa yang lazim muncul dalam hidup keseharan kita, seperti takut, cinta, sedih, senang, agresif, dan panik dimainkan oleh sekian banyak neurotransmiter. Normalnya, kimia otak ini berfluktuasi dari jam ke jam, dan dari musim ke musim. Celakanya, jika seorang siswa menganggap sebuah guru adalah sebuah teror, bisa dipastikan zat kimia ini akan senantiasa memainkan perasaan negatif.

Norepinefrin dan serotonin merupakan neurotransmiter otak paling menonjol dalam kehidupan manusia. Keduanya membangun rasa sedih dan gembira, sejahtera dalam pasang surut hidup keseharian manusia. Rasa sedih membuat faali tubuh cenderung kuncup dan layu. Orang jadi agresif, lalu depresi jika norepinefrin meningkat. Sebaliknya, orang menjadi tenang jika serotonin otak yang meningkat.

Agar guru atau sekolah tidak menjadi teror bagi siswa, guru harus senantiasa mempertahankan agar zat serotonin otak siswa tetap tinggi. Jangan sampai zat norepinefrin mendominasi otak siswa.

Lantas, bagaimana caranya? Di mata biometeorolog, di negara-negara yang memiliki empat musim, perbedaan musim memberi pengaruh terhadap sosok biologis manusia. Pada bulan Januari dan Juli, norepinefrin yang membuat orang depresi mencapai titik puncaknya. Adapun serotonin yang membuat orang jadi kalem dan ada pada titik terendah, terjadi pada Mei dan Oktober. Akan tetapi, guru tidak bisa bergantung terhadap musim apa pun. Apalagi guru-guru di negara dua musim, seperti Indonesia, mustahil menggantungkan emosi belajar siswanya terhadap musim.

Berbagai cara bisa dilakukan agar kondisi siswa tenang, kalem, dan tentu siap untuk bersekolah. Cara yang biasa adalah dengan menyentuh sisi rohaniah siswa dengan berdoa, berzikir, melaksanakan salat atau sembahyang, dan ibadah-ibadah lainnya. Kegiatan-kagiatan ini tentu saja akan berdampak terhadap aspek spiritual siswa.

Orang yang tinggi spiritualitasnya, tinggi pula gelombang alfa di otaknya. Gelombang alfa yaitu kondisi gelombang yang ideal untuk perenungan, pemecahan masalah, dan visualisasi. Gelombang alfa pun berperan sebagai gerbang kreativitas manusia. Dalam kondisi seperti ini, manusia menjadi lebih tenang, sekalipun badai kecemasan, ketakutan, dan kepanikan terus menerjang, meski tanpa meminum obat atau meminta bantuan kepada “orang pintar”.

Sisi jasmaniah pun tentu harus diperhatikan agar siswa tetap tenang, kalem, dan berada dalam gelombang alfanya. Caranya hanya satu: buat siswa tertawa. Tingkatkanlah dosis tertawa siswa menjadi tiga kali sehari, kalau bisa sampai siswa terpingkal-pingkal. Tertawa lepas meningkatkan kadar endorfin tubuh. Hormon ini merupakan sejenis morfin alami yang diproduksi tubuh untuk meredakan duka nestapa, dan penawar jitu rasa perih, pedih, dan luka hidup

Bagaimana agar siswa tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal? Guru memang tidak harus berpakaian layaknya badut yang berperut gempal. Guru pun tidak harus bertingkah aneh apalagi abnormal. Guru tetap harus melakukan kegiatan atau aktivitas rasional serta masuk akal.

Sekadar main tebak-tebakan, meski “garing”, bolehlah dipraktikkan. Memelesetkan materi atau nama siswa tidak ada salahnya dilakukan. Video hasil unduhan dari media sosial penyedia video terbesar di dunia juga bolehlah ditayangkan. Biar terkesan lebih kekinian, gambar meme yang tidak hanya lucu, melainkan juga bisa sekalian menjadi sebuah anekdot, silakan dibagikan.  Jika ini bisa dilakukan, sekolah akhirnya betul-betul bisa menjadi sebuah tempat yang sangat menyenangkan, bukan lagi sebuah teror yang mencekam!

Referensi
Naskah, Kolektor: Pusat Informasi Kompas (PIK). 2003. Memahami Otak. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "ENDORFIN BERNAMA TAWA"