KREATIVITAS GURU DAN IKLIM SEKOLAH

Oleh:
Suciati, M.Pd.
(Guru IPS SMP N 8 Bandung, anggota TPK  Propinsi Jawa Barat)


”Untuk meningkatkan kreativitas guru dalam melakukan inovasi pembelajaran diperlukan iklim kerja yang kondusif dan produktif ”


Sumber gambar: staimaarif-jambi.ac.id
Pekerjaan guru bukanlan pekerjaan yang statis, tetapi pekerjaan yang dinamis yang harus dan terus menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, guru harus peka terhadap dinamika perkembangan masyarakat, baik perkembangan kebutuhan, sosial, budaya, politik, dan perkembangan teknologi. Untuk dapat menyesuaikan perkembangan tersebut, guru perlu memiliki kemampuan merancang, mengembangkan, dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran yang ada.
Pengalaman guru dalam melaksanakan pembelajaran selama ini umumnya dalam bentuk satu arah dan sementara siswa hanya sebagai pendengar. Guru beranggapan bahwa hanya mentransfer pengetahuan yang dimiliki guru agar target  pokok bahasan yang tertulis dalam dokumen kurikulum tercapai. Guru  dalam hal ini tidak memberi inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan tidak melatih siswa untuk berpikir sehingga siswa tidak menyenangi pelajaran. Permasalahan muncul di lapangan: (1) banyak guru yang tidak menyiapkan perencaaan dengan baik, kenyataan di lapangan guru  menyiapkan perencanaan pembelajaran bukan hasil karya sendiri akan tetapi sebagian besar menyalin dari perencaaan rekan guru lain; (2) guru lebih sering megikuti pelatihan akan tetapi dalam melaksanakan pembelajaran masih konvensional; dan (3) guru melakukan evaluasi hasil belajar akan tetapi tidak pernah melaksanakan secara tuntas, artinya guru hanya sekedar melaksanakan penilaian akan tetapi jarang sekali melakukan remedial.
Permasalahan tentang kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran menunjukkan rendahnya kualitas pembelajaran yang dilakukan guru. Rendahnya kreativitas guru  dalam mengembangkan pembelajaran  dilihat dari peran dan kemampuan guru tersebut, diperkuat dengan pendapat yang disampaikan oleh   Al Muchtar ( 2001: 233-234 ), antara lain :
1.      Guru lebih banyak bertindak sebagai pelaksana kurikulum dari pada sebagai pengembang.
2.   Memiliki orientasi yang lebih kuat pada tercapainya target kurikulum, implikasinya lebih menguasai materi pelajaran yang terdapat dalam buku, dari pada pemahaman terhadap karakteristik peserta didik.
3.      Memiliki kemampuan dan ketrampilan tentang berbagi pendekatan dan metode pembelajaran, namun kurang memiliki motivasi yang kuat untuk berani menggunakan metode yang bervariasi.
4.      Kurang menguasai teori belajar dan model-model belajar, sehingga kurang memiliki kekuatan untuk melakukan inovasi pembelajaran.
5.     Tidak berperan sebagai sumber-sumber informasi penelitian, sehingga pengalaman mengajar belum secara efektif dijadikan bahan masukan, bagi perbaikan dan rekonstruksi program pengembangan kurikulum.
6.     Belum dapat bertindak sebagai peneliti dalam pendidikan bidang pembelajaran, implikasinya terdapat kelangkaan teori-teori dan model pembelajaran. Kondisi ini akan berakibat tidak banyak dilakukannya inovasi dalam bidang proses pembelajaran.
7.     Cenderung lebih disebut sebagai aspek administratif bersifat formalistik, dari pada pemikiran dalam memperkuat proses pembelajaran.
8.   Kreativitas dalam proses pembelajaran terstruktur oleh terbatasnya dukungan sumber daya pendidikan.
9.     Budaya pembelajaran lebih dipengaruhi oleh rutinitas dan formalistik, dari pada akademik dan inovasi pembelajaran.
10.  Hasil Diklat tidak sepenuhnya dikembangkan dalam praktek pembelajaran.
      
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru dituntut untuk menunjukkan proses kreativitas tersebut. Kreativitas yang dilakukan guru dalam mengembangkan pembelajaran yaitu kecenderungan untuk  menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada  atau memperbaharui yang sudah ada. Sebagai seorang yang kreatif, guru hendaknya menyadari bahwa semua kegiatannya harus ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran sendiri.  Guru sebagai seorang kreator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan. Untuk menjalankan tugas tersebut, guru senantiasa berusaha menemukan cara terbaik dalam melayani peserta didik sehingga peserta didik merasa termotivasi untuk belajar. Tuntutan pendidikan saat ini seyogianya Guru mengembangkan keterampilan abad 21. Keterampilan yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, melakukan kolaborasi, meningkatkan kreativitas siswa, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Untuk itu mencapai ketrampilan abad 21 maka  Guru dituntut mampu mengembangkan ide atau gagasan kreatif agar dapat mengelola pembelajaran dengan baik sehingga siswa mampu menggali potensi dirinya dalam pembelajaran.
Kreativitas yang dilakukan guru dalam mengembangkan pembelajaran yaitu kecenderungan untuk  menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada  atau memperbaharui yang sudah ada. Sebagai seorang yang kreatif, guru hendaknya menyadari bahwa semua kegiatannya harus ditopang, dibimbing dan dibangkitkan oleh kesadaran sendiri.  Guru sebagai seorang kreator dan motivator, yang berada di pusat proses pendidikan. Untuk menjalankan tugas tersebut, guru senantiasa berusaha menemukan cara terbaik dalam melayani peserta didik sehingga peserta didik merasa termotivasi untuk belajar. Faktor pendorong kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran  dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yaitu yang berasal dari diri sendiri antara lain; ketrampilan dalam bidang yang ditekuninya dan motivasi intrinsik untuk bertindak kreatif,  dan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan sosial yang kondusif dan psikologis ( Rivai, 2004 ).
Salah satu faktor eksternal  yang mempengaruhi kreativitas guru dalam melakukan inovasi pembelajaran diperlukan iklim kerja yang kondusif dan produktif dengan memperankan dan menghargai guru sebagai sumber daya manusia pendidikan, dan memperkuat kembali posisi dan peran guru. Sekolah sebagai sebuah organisasi harus memenuhi kriteria iklim yang yang baik agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Kajian tentang iklim organisasi sekolah menurut Aan Komariah dan Cepi Triatna ( 2005 ) adalah kajian terhadap internalisasi kerja lembaga yang diarahkan  bagi kepentingan lembaga dan individu yang selaras sehingga terjadi sinergi produktivitas lembaga.  Sebagai lingkungan belajar ( a learning environment), sekolah dituntut untuk menciptakan suatu atmosfer yang tertib, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa belajar, guru yang mengajar dan bagi staf yang membantu dalam pendidikan.
Berkembangnya kreativitas guru  dalam melaksanakan pembelajaran tidak terlepas dari  iklim organisasi sekolah   tersebut. Iklim organisasi sekolah mempunyai pengaruh positif ataupun negatif terhadap kreatifitas guru dan dapat mempengaruhi hubungan personil di sekolah. Hubungan personil antar guru, guru dengan kepala sekolah, hubungan guru dengan staf, dan hubungan antara siswa dengan orang tua yang dilakukan secara harmonis tentu saja. Iklim kerja yang kondusif dapat mempengaruhi motivasi, prestasi, dan kepuasan kerja individu dalam organisasi. Sekolah sebagai sebuah organisasi, di mana merupakan tempat mengajar dan belajar serta tempat untuk menerima dan memberi pelajaran, terdapat orang atau sekelompok orang yang melakukan hubungan kerjasama untuk mencapai tujuan organisasi. Organisasi berfungsi sebagai wadah kerjasama yang terikat secara formal dalam hirearki wewenang dan tanggung jawab yang telah digariskan. Individu-individu dalam organisasi harus saling menjalin  kerjasama yang solit untuk  mencapai tujuan bersama. Dalam organisasi sekolah, guru merupakan individu yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan dengan berbagai ide/ gagasan dalam pembelajaran.
Untuk menciptakan iklim organisasi sekolah yang kondusif tersebut dapat dilakukan berbagai upaya, di antaranya: 1) adanya standar disiplin yang merupakan hasil kesepakatan bersama selain standar disiplin yang diberlakukan bagi PNS, diterapkan secara adil yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan sekolah tanpa adanya unsur lain ; 2)  Struktur pembagian tugas yang jelas yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan keahlian yang dimiliki masing-masing personil; 3) lingkungan fisik yang mendukung tersedia sarana prasarana yang dibutuhkan dan nyaman bagi berlangsungnya pengajaran dan pembelajaran; 4) pemberian imbalan tambahan seperti promosi dan kenaikan gaji berdasarkan prestasi dan jasa, bukan pada pertimbangan-pertimbangan lain seperti senioritas, favoritisme, kelompok yang memiliki kesamaan kepentingan dan lain sebagainya ; 5) adanya kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh guru; 6) Tekanan pada prestasi, keinginan pihak guru  untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik dan memberikan sumbangan bagi sasaran kerja organisasi yang dilakukan secara ihklas tanpa ada tekanan atau ketakutan; 7) minimalisasi tekanan yang menimbulkan perasaan kurang aman dan kecemasan pada para anggotanya; 8) Keterbukaan  atau transparansi pada setiap kegiatan atau program yang dikembangkan oleh sekolah; 9) Pengakuan atas potensi individu dari atasan dan manajemen terhadap pekerjaannya serta tingkat dukungan mereka atas dirinya secara proporsional ; 10) kompetensi dan keluwesan organisasi untuk mencapai tujuan dan mengejarnya secara luwes dan kreatif yang didukung oleh semua personil sekolah.
Iklim organisasi berpengaruh positif  terhadap kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran. Iklim organisasi sekolah yang kondusif mampu mengapresiasi guru untuk mengeluarkan segenap kemampuannya dalam kegiatan belajar mengajar. Memiliki perasaan nyaman dalam menjalankan tugas mengajar dan merasa mendapatkan penghargaan yang setimpal atas apa yang mereka lakukan.  Kondisi ini mendorong para guru menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran. Dengan demikian jika semua upaya iklim organisasi sekolah yang diungkapkan di atas dapat tercipta dengan baik maka akan tercipta sebuah sistem dimana kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran akan menjadi meningkat pula.


DAFTAR PUSTAKA

Al Muchtar, Suwarma. (2001).Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya. Bandung:  Gelar Pustaka Mandiri

Komariah,Aan dan Triatna,Cepi.(2005).Visionary Leadhership. Bandung : Bumi Aksara.

Rivai, Veithzal.(2004).Kiat Memimpin dalam abad ke-21. Jakarta : Raja Garafindo Persada.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KREATIVITAS GURU DAN IKLIM SEKOLAH"

Post a Comment