MAJALAH GUNEMAN SEBAGAI SEBUAH ALTERNATIF


Oleh:

Esep Muhammad Zaini, M.Pd
(Pemimpin Redaksi Majalah Pendidikan Guneman)


Mengapa Media Pendidikan?

Pendidikan merupakan pilar utama pembentukan karakter bangsa. Itu tidak bisa dinafikan lagi. Ketika terjadi ketidakberesan di sana-sini, dunia pendidikan menjadi sorotan secara masif. Apalagi kalau terjadi di lingkungan pendidikan sendiri. Seakan dunia ini telah hancur sebelum kiamat itu tiba. Pondasi yang telah dibangun oleh insan-insan pendidikan, seketika lenyap ditelan berondongan berita di berbagai media.

Media amat berperan untuk menyebarluaskan peristiwa-peristiwa dalam dunia pendidikan, baik yang membangkitkan inspirasi dan motivasi maupun yang membikin kita frustrasi. Perang opini di media luar biasa kejamnya ketika terjadi ketidakberesan di dunia pendidikan dibandingkan dengan ketidakberesan itu sendiri. Misalnya, berita tentang tawuran antarsiswa atau kebocoran soal UN oleh oknum guru yang tidak bertanggung jawab akan membuncah semburannya ke seantero nusantara bahkan belahan dunia. Kebaikan dan kesuksesan dunia pendidikan tertindih dan tertelan berita itu.

Kita yakin usaha-usaha menuju kebaikan di dunia pendidikan setiap saat terus berjalan, baik di sekolah-sekolah yang berada di perkotaan maupun di perdesaan. Baik secara fisik maupun psikhis. Persoalannya, kabar berita tentang itu cuma sayup-sayup bahkan nyaris tak terdengar menjadi kabar burung yang lewat begitu saja. Gosip miring di dunia pendidikan begitu menggema walau diucapkan secara bisik-bisik. Kabar inspiratif dan motivatif disuarakan secara lantang oleh para pelaku pendidikan (guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan), tetapi tetap sunyi sepi sendiri.

Sebagian besar guru mengeluh tak ada tempat untuk memamerkan hasil inovasi dan kreativitasnya. Riuhnya hanya berkutat di ruang kelas, kepala sekolah dan koleganya pun nyaris tak mengetahui, apalagi koleganya yang berbeda sekolah. Saling berbagi pengalaman belajar-mengajar nyaris tak terjadi. Sebab, di ruang guru dan di media jejaring sosial hanya menjadi cibiran orang (guru) lain. Dianggapnya sebagai sebuah kesombongan, ingin dipuji dan cari muka sendiri. Akhirnya, budaya literasi tak terbangun dengan indah dan megah.

Atas dasar itu, kami, segenap alumni MANAGEMENT TRAINING FOR WEST JAVA TEACHERS ADELAIDE – SOUTH AUSTRALIA tahun 2013 merasa terpanggil untuk ikut memajukan dunia pendidikan di Jawa Barat, bukan sekadar di tingkat sekolah. Salah satu jalan dari sekian banyak jalan menuju JABAR MAJU dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah menerbitkan MAJALAH PENDIDIKAN. Majalah tersebut akan menjadi arena tukar-menukar pengalaman dan ilmu bagi insan-insan pendidikan di Jawa Barat, khususnya antarguru. Pun, diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi para guru. Sehingga lebih meningkat kemampuan literasinya. Budaya literasi harus dimulai dari dunia pendidikan, khususnya di kalangan guru. Sebab, guru adalah manusia yang patut digugu dan ditiru (dianut dan diteladani) oleh semua orang, terutama oleh siswanya.

Akhirnya, kami bersepakat untuk memberi nama GUNEMAN pada majalah pendidikan ini. Kosakata bahasa Sunda, berlabel kedaerahan sebagai bentuk dari rasa memiliki dan ingin _ngamumulé_ atau memelihara keberlangsungan dan kegairahan hidup bahasa Sunda. Kalau bukan kita, siapa lagi? Bernama lokal tetapi berjiwa global. Bahasa menunjukkan bangsa. Kita bangsa yang mempunyai bahasa dan budaya yang berkarakter. Jangan luluh apalagi lantak oleh bahasa dan budaya asing. Semoga ini merupakan salah satu ikhtiar kita dalam ikut serta menduniakan bahasa Sunda. Suatu saat GUNEMAN akan menjadi ikon budaya global.

Meskipun namanya majalah GUNEMAN, tetapi isinya menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan lainnya. Tujuannya bukan hanya insan-insan pendidikan atau masyarakat Jawa Barat yang menikmati majalah ini, tetapi seluruh bangsa Indonesia. Apalagi masyarakat Jawa Barat berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Guneman adalah obrolan santai, tetapi mencerahkan. Bukan gosip murahan. Apalagi rumpian atau hoaks. Guneman bisa juga akronim dari Guru Néangan Pangalaman. Selain itu, ada sahabat saya, Deni Permana, berbisik, "Kang, Guneman juga bisa singkatan dari Guru _Nembrakeun Pangalaman_".  Saya terhenyak, wah benar juga itu. Saya mengamininya.

Guneman adalah tempat guru _nembrakeun_ (menyajikan) pengalamannya dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah, madrasah atau pesantren. Sungguh, sangat tepat!

#émz

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAJALAH GUNEMAN SEBAGAI SEBUAH ALTERNATIF"

Post a Comment