GEMBEL


Matahari perlahan menelusup dan merobek mataku dari balik jendela kereta ekonomi tua ini.Perjalanan panjang ini hampir sampai,titik jenuh kota yang merambat sudah mulai terlihat,aktifitas cepat di pagi yang menggeliat,setiap individu dipacu atau bahkan dilecut oleh waktu dan tuan muda kebutuhan atau nona gengsi hidup papa.

Ku coba perkosa mataku, melihatku di setiap sudut,ruang-ruang pengap dan lusuh ini,jerit tangis bayi di ujung sana dan celoteh-celoteh decak kagum, kami kaum Neo Urban yang siap dan rela menjadi gigi gerigi baru dari mesin raksasa Kota.Kota bagi kami mungkin adalah sesuatu yang luar biasa,dimana semuanya ada dan tentu saja berharap sukses menjadi orang kota kelak.

Gadis disudut sana yang kulihat kemarin,kini ia sedang sedang sibuk merapihkan dirinya,sepintas lalu dia sepertinya dia memperhatikan gerak-geriku,tapi entahlah,yang kutahu dia sungguh manis itu saja.dia sedang becakap dengan sorang bapak tua,mungkin bapaknya,ah apa urusanku.kini mataku sedang liar melihat segala sudut beton-beton gagah nan angkuh yang beserakan di segala penjuru sudut Jakarta.

Kereta tua ini perlahan tapi pasti merapatkan dirinya di stasiun yang menurutku kurang elok bila mesti kereta ini sebagai moda transportasinya.Seluruh isi kreta ini tampaknya mulai membuncah keluar,begitu juga gadis di ujung sana,kini ia telah menghilang diantara koper-koper besar jang jadi satu dengan manusia seperti aku manusia kelas dua,yang diduakan bahkan di remehkan.

Menjejak ku di kota metropolis ini, bergegas ku menuju toilet wc stasiun ini untuk membasuh muka dan melaksanakan urusanku yang tidak kau perlu tahu.

Di ujung sana tak sengaja mataku menangkap gadis manis dalam kereta,namun kini dia berdiri dengan seorang pria muda gagah berambut panjang,ya mungkin saja kekasihnya.

Memang ku akui ada sebersit lintasan bayangan untuk bisa berkenalan denganya ahhh…….mana mau dia bekenalan denganku ,lagian dia sudah punya kekasih.

Senyumku menampar fajar

Geliatku menusuk malam

Aku adalah gembel baru di sisi terdalam kota

Aku adalah anak haram ibu pertiwi 

Dari pelitnya bapak bangsa yang tidak rata membagi harta

Puisi bocah di depanku yang sedang mencari rejeki di stasiun megah ini sedikit mengalihkan perhatianku dari kegetiranku pada gadis dan kekasihnya di ujung sana,kini perhatianku beralih ,seorang bocah yang sedang menancapkan belatinya pada rakusnya Tikus raksasa yang perkasa.

Kini ku menatap sekelilingku,suara mesin-mesin kereta dengan harmoni suara dengungan manusia-manusia di dalam perjalanan.

Ayah….pagi ini aku di Jakarta.... (ONE)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GEMBEL"

Post a Comment