MENULARKAN VIRUS N’ACH DALAM PEMBELAJARAN


MENULARKAN VIRUS N’ACH DALAM PEMBELAJARAN

0leh : 
Dian Diana, M.Pd.
Guru SMPN 1 Cihampelas KBB

Berbeda dengan kebanyakan virus, ada satu virus yang justru harus dikembangkan. Virus ini adalah virus mental  mengenai kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) yang dipopulerkan oleh David McClelland. Virus need for achievement disingkat dengan virus n’ach, merupakan cerminan kualitas hidup seseorang berupa karakter yang harus dimiliki untuk pencapaian tujuan  pendidikan dan menentukan kemajuan peradaban suatu bangsa.

Virus N’ach harus sengaja ditularkan oleh guru kepada peserta didik, agar mereka terkena “demam” high achiever. N’ach perlu dijangkitkan kepada peserta didik melalui nilai budi pekerti yang diharapkan dalam setiap pembelajaran yang kita sajikan, dengan cara terorganisir, sehingga peserta didik tidak sadar bahwa kita telah memasukkan virus tersebut pada dirinya. Kita persiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang rinci dan utuh dengan distribusi waktu yang seimbang sesuai dengan peruntukannya dimulai darikegiatan pendahuluan, inti, sampai penutup.
          Ada beberapa ciri yang bisa dilihat dari orang yang memiliki n’ach yang tinggi. Pertama, selalu menghargai waktu dengan cara menggunakan waktunya untuk berbagai hal yang positif, produktif dan memberi nilai tambah untuk peningkatan kualitas dirinya. Setiap detik waktu yang dilalui selalu digunakan seefisien mungkin, diisi dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat, dan selalu ingin berbagi dan bekerjasama, bahkan berkompetisi di lingkup lokal, nasional, atau internasional. Jika waktu berlalu tanpa suatu kegiatan, maka akan ada rasa penyesalan karena merasa menghilangkan kesempatan. Pembiasaan karakter ini dapat kita munculkan dengan mendisiplinkan kegiatan pembelajaran dengan aturan waktu yang ketat. Setiap peserta didik mengerjakan sesuatu maka kita ingatkan pengerjaannya sesuai waktu yang telah kita buat dalam RPP.
Ciri kedua, selalu bertanggung jawab pribadi atas apa yang diperbuatnya. Orang yang bertanggung jawab tentu siap menanggung segala resiko dari perkataan dan perbuatan yang telah dilakukannya. Karakter tanggung jawab akan membuat seseorang berhati-hati jika akan melakukan sesuatu. Agar peserta didik memiliki karakter bertanggung jawab harus dimulai dari memberikan tugas dalam kelompok. Dalam setiap pembelajaran, bentuklah selalu kelompok belajar, kondisikan setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing untuk dikerjakan, tidak ada peserta didik yang menganggur, semua aktif dalam pembelajaran. Kesadaran peserta didik untuk mengerjakan tugasnya akan muncul dengan sendirinya, karena jika tugas tersebut tidak dikerjakan, maka pekerjaan kelompoknya tidak akan usai. Dengan demikian sanksi tidak muncul dari guru, tapi langsung dirasakan oleh peserta didik sendiri, yaitu malu karena tidak bertanggung jawab akan tugasnya.
Ciri ketiga, orang yang memiliki n’ach yang tinggi biasanya menyukai tantangan yang sifatnya menggali potensi, untuk mencari tahu dan memecahkan masalah yang diberikan dari fenomena dunia nyata (real world). Setiap permasalahan yang diberikan akan dicari jawabannya secara cermat dengan sistematika ilmiah, jawaban bukan berupa khayalan atau karangan sendiri, berusaha mencari dan mengkonfirmasi informasi yang rasional dan berdasarkan ilmu dan norma. Pemberian virus yang guru lakukan dalam pembelajaran yaitu dengan memberikan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam pembelajaran. Model dengan sistematika ilmiah dalam kurikulum 2013 dianjurkan dengan menggunakan problem based learning, project based learning, atau inquiry/ discovery learning. Untuk lebih menghidupkan pembelajaran agar tantangan lebih menyenangkan, model pembelajaran tersebut dapat digabungkan dengan cooperative learning  dengan  berbagai tipe.
Memperhitungkan keberhasilan merupakan ciri keempat dari high achiever. Seseorang yang memiliki n’ach yang tinggi cenderung ingin selalu sukses dalam mengerjakan tugasnya. Dia akan sangat fokus dan detail dengan penyelesaian pekerjaannya, tapi tidak memperdulikan penghargaan baik secara moril maupun materil. Namun jika imbas dari keberhasilan kemudian menghasilkan pujian dan berbagai penghargaan, itu semua didapatkan karena orang lain atau lingkungan yang menghargainya. Dengan demikian, mengatur keberhasilan peserta dalam pembelajaran penting dilakukan dengan menyiapkan berbagai media yang akan mendukung pemahaman lebih mendalam, ditambah dengan pemberian stimulus positif kepada peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas sesuai target kompetensi bahkan melebihi kriteria yang diberikan, dengan akselerasi berpikir kritis yang membanggakan.
Ciri kelima yaitu memerlukan umpan balik (feed back)  segera. Orang yang mempunyai n’ach yang tinggi, biasanya setelah menyelesaikan tugasnya, dia segera ingin tahu hasil pemeriksaan dari tugas tersebut dan ingin segera memperbaikinya untuk memperoleh hasil yang maksimal, agar prestasi yang dicapai memuaskan secara pribadi. Hal ini memicu guru, untuk selalu memeriksa setiap pekerjaan yang diselesaikan oleh peserta didik, sekecil apapun, dan memberikan masukan untuk perbaikan pekerjaan tugas berikutnya. Dengan demikian, peserta didik selalu termotivasi untuk menyelesaikan tugasnya dengan sempurna sesuai kompetensi yang diharapkan.
Setiap peserta didik memiliki potensi dan karakter masing-masing, tugas kita untuk membimbingnya agar berada pada posisi menguntungkan dalam hidupnya dari sisi spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kebutuhan untuk selalu berprestasi harus kita tanamkan agar mereka menjadi generasi emas yang memiliki keseimbangan softskill dan hardskill. Mari, kita tingkatkan kualitas kita sebagai guru, untuk membawa mereka memiliki n’ach yang tak pernah mati.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENULARKAN VIRUS N’ACH DALAM PEMBELAJARAN"

Post a Comment