PROSES PEMBELAJARAN “TUNBUKAN” MEMBENTUK NILAI KARAKTER DAN MEMPERKAYA KOSAKATA SISWA


PROSES PEMBELAJARAN “TUNBUKAN” MEMBENTUK NILAI KARAKTER DAN MEMPERKAYA KOSAKATA SISWA





Oleh Ihat Solihat
SDN Cikaret 1 Cianjur

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (karakter), pikiran (intelek-kompetensi) dan tubuh anak (keterampila-literasi). Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.
Sedangkan Wien Muldan menjelaskan bahwa dasar kurikulum 2013 memadukan antara karakter  sebagai DNA-nya yaitu kemampuan beradaptasi pada lingkungan yang dinamis, kompetensi yaitu kemampuan memecahkan masalah komplek, dan Literasi sebagai kemampuan menggunakan berbagai keteramplan dalam kehidupan.
Dari hal di atas dapat kita simpulkan bahwa Pendapat Ki Hajar Dewantara sebagai dasar pembentukan Kurikulum 2013. Antara karakter, Kompetensi dan Literasi merupakan akar dari kurikulum 2013 yang tidak dapat terpisahkan. Seperti kita ketahui isi PPK dalam kurikulum 2013, yaitu (1) religius, (2) nasionalis, (3) kemandirian, (4) gotongroyong, (5) integritas (Kemdikbd, 2016). PPK dilakukan dengan tiga pendekatan utama, yaitu berbasis kelas, berbasis budaya sekolah, dan berbasis masyarakat. (Modul SD Kelas Awal Buku D, 2018). Kompetensi abad ke XXI terdiri dari berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan komunikasi. Sedangkan literasi terdiri dari literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewarganagaraan.
Untuk mencapai harapan dari penerapan kurikulum 2013 tersebut banyak pilihan proses pembelajaran yang dapat dilakukan. Guru harus cerdas dalam memilih dan memilah setiap proses yang digunakan sehingga diharapkan dapat menciptakan suasana proses pembelajaran yang mendidik, beragam, menyenangkan, dan dapat meningkatkan prestasi peserta didik.
Salah satu proses pembelajaran yang dapat digunakan adalah proses pembelajaran “tunbukan”. Proses ini muncul ketika pemahaman siswa dalam perbendaharaan kata, minim dengan kosakata yang dimilikinya. Siswa hanya memiliki kosakata terbatas. Ini dibuktikan ketika penugasan dalam membuat kalimat yang tidak berkembang lebih baik. Ketika siswa diberikan tugas untuk membuat sebuah kalimat, dan guru memberikan contoh kalimat, maka siswa diharapkan dapat membuat kalimat yang lebih kreatif. Namun pada kenyataannya siswa tidak bisa membuat kalimat-kalimat baru, mereka hanya mengubah kata-kata yang dicontohkan dengan kata lain yang setara. Hanya ada beberapa siswa yang membuat kalimat lain yang lebih lengkap.
Dalam proses pembelajaran “Tunbukan” ini, berdasarkan pendekatan dalam kurikulum 2013 yaitu pendekatan yang berpusat pada siswa. Strategi pembelajaran terdiri dari beberapa sintak, dengan menggunakan berbagai macam metode yaitu ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik pembelajaran Discoveri learning, yang diharapkan dapat mengubah kondisi belajar siswa dari belajar pasif menjadi aktif kreatif. Juga mengubah siswa untuk dapat menemukan informasi sendiri. Juga Cooperative learning, yakni pembelajaran siswa melalui diskusi.
Proses pembelajaran “TunBukan” ini merupakan proses pembelajaran yang menggali kosakata siswa berupa kata-kata dari objek-objek, tindakan, dan gagasan-gagasan dari gambar teknik yang ditayangkan. Melalui penayangan gambar yang ada, siswa dapat mengembangkan kemampuan baca tulis. Dalam proses pembelajaran “TunBuKan” ini, siswa dalam kelompok-kelompok kecil bekerjasama menunjukan bagian-bagian dari gambar. Kata-kata yang diungkapkan disebutkan dan ditulis dalam kertas berwarna. Hal ini dilakukan untuk mendukung perkembangan bahasa lisan dan kosakata, kesadaran fonologi, keterampilan analisis kata, pemahaman bacaan, dan penyusunan kata, frasa, kalimat, paragraf, serta wacana.
Dalam proses pembelajaran “TunBuKan” ini memerlukan alat dan media. Seperti yang kita ketahui bahwa alat dan media merupakan hal penting dalam pembelajaran. Apalagi bagi siswa kelas awal, alat dan media pembelajaran merupakan hal yang wajib ada ketika proses pembelajaran berlangsung. Karena siswa kelas awal perlu belajar dengan benda yang kokrit. Kalau pun tidak memungkinkan,  menggunakan gambar yang menyerupai aslinya.
 Proses pembelajaran dengan ‘TunBuKan” dilakukan ketika ada muatan pembelajaran Bahasa Indonesia. Gambar yang diberikan oleh guru haruslah disesuaikan dengan kemampuan kelas. Siswa kelas awal dan siswa kelas tinggi tentu saja harus berbeda, ini karena siswa kelas awal baru mengenal kosakata secara sederhana yang sesuai dengan lingkungannya. Untuk itu, guru harus mencari gambar yang tepat dan sesuai dengan tema muatan pelajaran yang diberikan waktu itu.
Guru harus bisa mencari dan memilih gambar yang sesuai dengan tema dan materi yang akan disampaikan. Demikian juga dengan tempat duduk di kelas pun dibuat sesuai keperluan untuk diskusi kecil. Bangku dibuat secara berkelompok, agar pelaksanaan identifikasi gambar oleh siswa dalam keadaan kondusif.
Setelah siswa dalam kelompok masing-masing menerima gambar, maka diwajibkan semua siswa untuk mengamati gambar. Siswa melakukan pengamatan terhadap gambar yang ada secara seksama tanpa kecuali. Setelah mengamati, siswa menyebutkan kata-kata yang sesuai dengan detail gambar. Kata-kata yang sudah diidentifikasi dari gambar kemudian ditulis untuk disatukan. Dalam tahap ini diskusi kelompok kecil akan terjadi. Diharapkan guru memberikan bimbingan ke semua kelompok yang ada.
Setelah kata-kata yang diidentifikasikan sudah terkumpul, siswa mengucap ulang kata-kata yang ada oleh semua anggota kelompok. Kemudian kata-kata yang terkumpulkan itu ditulis dalam kertas lipat berwarna. Kertas lipat di gunting secukupnya sesuai dengan kata. Besarnya kertas yang dibuat disesuaikan juga dengan ruang kosong di pinggir gambar. Kata-kata yang telah terkumpul ditulis kembali pada kertas lipat dengan menggunakan spidol. Penggunaan warna kertas lipat dan spidol diberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilihnya. Pemilihan warna sesuai dengan keinginan anggota kelompok. Siswa diberikan kebebasan untuk menghias sesuai dengan kreatifitas masing-masing kelompok.
Setelah semua kata-kata tertulis dan tertempel pada karton, siswa mencoba membuat kalimat dari kata-kata yang ada. Dengan berdiskusi, siswa dengan teman sekelompok mencoba membuat kalimat kalimat sederhana. Anggota kelompok saling mengoreksi kalimat yang telah dibuat temannya. Setelah terasa kalimatnya benar, siswa menuliskan kalimat yang dibuat pada buku masing-masing.
Guru melakukan bimbingan ke semua kelompok. Memberikan penjelasan bagi kelompok yang memerlukan, membantu menempatkan kertas lipat berwarna pada gambar di samping gambar. Membantu untuk merapikan penempatan gambar.
Setelah semua selesai, tahap terakhir adalah melaporkan hasil diskusi di depan kelas. Dengan diadakan pengundian, setiap kelompok melakukan pelaporan hasil diskusi. Kelompok pertama tampil, semua anggota kelompok diwajibkan untuk tampil di depan. Dengan tampilnya ke depan, siswa kelas awal belajar untuk berani. Salah satu anggota kelompok membuka laporan. Setelah dibuka dan memperkenalkan kelompoknya, siswa lain dalam kelompok itu menyampaikan laporan hasil kerja kelompok yaitu kata-kata yang telah diidentifikasikan dari gambar. Setelah itu, siswa lain menyampaikan kalimat-kalimat yang sudah dibuat berdasarkan kata-kata yang ada dalam gambar.
Setelah kelompok ke satu tampil, giliran kelompok lain untuk meyampaikan hasil laporannya. Sebelumnya, guru bisa menjelaskan terlebih dahulu pelaksanaan kegiatan kelompok sebelumnya. Guru memberikan penjelasan dan menyampaikan kekurangan yang ada dan menjelaskan. Dari catatan-catatan yang ada dalam diskusi pertama, diharapkan kekurangan yang terjadi dapat diatasi sehingga pelaksanaan kegiatan diskusi dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan.
Setelah semua kelompok selesai melaporkan hasil diskusinya di depan, guru memberikan evaluasi akhir dari pelaksanaan diskusi kelompok dan diskusi kelas. Semua kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran TunBuKan” diuraikan guru. Kekurangan disampaikan agar ada perbaikan di kesempatan lain ketika melakukan proses pembelajaran TunBuKan” lagi. Kelebihan yang dilakukan siswa mendapat apresiasi dari guru. Apresiasi bisa diberikan bermacam-macam, baik itu berupa pujian ataupun pemberian bintang.
Proses pembelajaran “TunBukan” dapat dikatakan berhasil bila siswa dapat:
1.   menambah kosakata yang  dimilikinya;
2.   membuat kalimat sederhana dengan lebih variatif;
3.  berdiskusi sehingga meningkatkan budaya karakter kerjasama dan mandiri juga keberanian untuk tampil di depan kelas.
4. melaksnakan proses pembelajaran ‘TunBuKan” sehingga dapata belajar dengan aktif , kreatif, dan menyenangkan;
Proses  proses pembelajaran “TunBuKan” ini menghasilkan siswa yang aktif  dan kreatif. Keaktifan siswa dapat dirasakan ketika pembelajaran lain dilaksanakan, siswa akan terbiasa melakukan aktifitasnya sendiri. Efek dari pelaksanaan proses pembelajaran ini dapat dirasakan ketika siswa melakukan tindakan pada pembelajaran lain. Hal itu dilakukan karena siswa sudah mempunyai nilai karakter yang tertanam. Dan ini sangat diperlukan dalam diri siswa. Keberanian mengungkapkan, keberanian dalam mengajukan pertanyaan, keberanian dalam mengambil sikap, dapat bekerja sama dengan siapapun, juga dapat menjalin rasa kekeluargaan yang tinggi. Nilai-nilai karakter tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang terdapat dalam kurikulum 2013.
Kompetensi abad XXI yaitu kolaborasi, kreatif, komunikasi dan berpikir kritis terasah dalam proses pembelajaran “TunBuKan” ini. Secara tidak langsung kompetensi-kompetensi abad XXI ini menempel dan menjadi satu dalam diri siswa. Ini yang diharapkan dalam kurikulum 2013. Penumbuhan kompetensi yang diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang dalam diri siswa, sehingga siswa dalam menghadapi kehidupan di zaman ini bisa menghadapi segala tantangannya.
Dalam lingkup literasi, siswa sudah terbiasa membaca gambar, dan dalam benaknya sudah tertanam bahwa suatu benda merupakan bagian dari kehidupan di  lingkungan tersebut. Dan ini merupakan dasar bagi siswa untuk mencapai insan yang literat. Kebiasaannya dalam membuat kalimat secara runtut ini juga sebagai bahan dasar dalam menuliskan sebuah paragraf dan akhirnya menjadi wacana.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PROSES PEMBELAJARAN “TUNBUKAN” MEMBENTUK NILAI KARAKTER DAN MEMPERKAYA KOSAKATA SISWA"

Post a Comment