PUISI LILIS SAIDAH




SANG BANYU


Petir menggelegar bersahut-sahutan
Sang banyu tertumpah ruah laksana air bah
Bergelora menumpahkan segala angkara 
Tak peduli apa yang ada di sekeliling

Terkikis oleh ganasnya sang banyu
Kuhanyut terbawa perasaan
Takut menghantui seluruh jiwa.
Ku hanya bisa berdoa berdzikir seraya berharap
Ketakutan itu telah mengalahkan segalanya

Di pojok itu ku termenung dalam takut 
Setiap petir menggelegar
Kuterperanjat ketakutan sambil tetap berdzikir
Alam seakan tahu betapa tak enaknya berada dikesunyian 
 Apa daya keadaan yang tidak memungkinkan untuk selalu bersama
Kepercayaan keterbukaan yang tertanam

Menghilangkan segala rasa dan asa
Wahai sang banyu segeralah berhenti
Ku tak berdaya
Hanya pasrah Pada-Mu



SEPERTIGA MALAM


Kuterjaga dari tidur malam
Seolah ada yang membangunkan
Kubuka perlahan mata ini

Subhanallah
Waktunya untuk bertafakur diri
 Berlalu menuju tempat berwudhu
Kubasuh muka ini
Terasa mengalir keseluruh rongga jiwa
Sejuknya air menyentuh relung bathin
 Bergegas kuhamparkan sajadah.. 
bermunajat..kulalui dengan penuh khidmat

Air mata pun mengalir 
Begitu banyak kehidupan yang kulalui
Penuh dengan onak dan duri..
Sakit sudah tak dirasa
Rintangan tak menjadi halangan
Pasrah bukan berarti menyerah

Hanya Pada-Mu lah
Ku minta pertolongan
Ya Rabb Sang Penguasa alam raya
Kubersujud dihadapan-Mu
Kuberserah diri hanya pada-Mu
Mohon ampun hanya Pada-Mu
Beri kekuatan mengarungi kehidupan 

Walau jagad raya semakin gonjang ganjing
Alam sudah mulai murka
Betapa berartinya menjaga kedamaian hati
Kesunyian ketenangan 
Di sepertiga malam
Semakin menyusup kedasar alam sadar
Betapa berartinya
Kau dalam hidup ini




Hj.Lilis Sadiah, M.Pd. – Guru SMPN 6 Kuningan

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "PUISI LILIS SAIDAH"