RESENSI




Judul Buku: Bulan Terpotong Enam
Penulis       : Asmawati
Penerbit      : MG Publisher
Cetak          : Januari 2018
Tebal           : 102 halaman
ISBN           : 9786025582073







KELUARGA, PEWARIS RAHIM ILMU
Oleh Panji Pratama, S.S., M.Pd.

Suatu kali, saya mencoba mengingat-ingat perasaan saya pada hari pertama saya berdiri di depan kelas untuk mengajar. Sebagaimana anak didik saya yang juga baru masuk di kelas baru dan masih menyesuaikan diri, mungkin seperti itulah saya. Apa yang saya pikirkan saat itu adalah memastikan hari pertama masuk sekolah berjalan lancar; tanpa masalah, tidak ada interupsi, dan tiada penolakan dari para siswa. Maka, seluruh energi saya terpusat pada untaian kalimat yang dibuat sedemikian sempurna. Sehingga, hari pertama saya mengajar, diisi dengan kegiatan yang meminta murid-murid agar duduk manis dan mendengarkan pidato saya dengan baik.

Inilah, hal yang baru saya sadari sekarang. Pada saat itu, saya pikir saya terlalu fokus pada diri saya sendiri, bukan pada para konsumen kita, yaitu murid itu sendiri. Guru adalah seorang salesman dan murid adalah konsumen kita. Seorang salesman yang sukses tidak semata-mata diukur berdasarkan dari banyaknya produk yang dihafalnya. Sebaliknya, pekerjaannya tersebut justru sebuah hal yang menyangkut penciptaan hubungan. Pada akhirnya ‘minat’ sang salesman terhadap berbagai jenis orang, terbukti menjadi anak tangga utama dalam meraih kesuksesan. Karena memang para konsumen pun menjadi ber-‘minat’ untuk mengenal produk yang ditawarkan sang salesman.

Gambaran ini mirip apa yang disampaikan Alferd Alder melalui teori psikologi individu tentang prinsip tujuan semu. Terkadang apa yang kita lakukan di masa lalu itu penting, tetapi jauh lebih penting adalah harapan kita sebagai individu yang ingin menggerakkan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia seutuhnya baik mengenai diri kita sendiri maupun individu lain di sekitar kita. Sebagai guru, saya pikir tujuan ini yang sangat diidam-idamkan. Dan hal itu, diamanatkan pula melalui cerita-cerita yang terhimpun di dalam buku ini.

Dalam cerpen pembuka berjudul “Tanah Peninggalan”, gagasan utama yang ingin disampaikan sang penulis adalah pentingnya pengetahuan dalam mengelola keluarga. Kisah sebuah keluarga beradat Jawa yang beranak-pinak dan menetap di Binjai, Sumatera Utara. Dengan mengambil sudut pandang tokoh dari generasi ketiga, sang tokoh utama yang kuliah satu-satunya dalam cerita ini berupaya memotret sekelumit kisah kompleks keluarga besarnya. Dimulai dari sang kakek yang keturunan Solo, kemudian bermigrasi ke Sumatera setelah menjadi tenaga kuli tani pada masa penjajahan. Sang kakek telah berhasil menjadi juragan tani di kampung barunya dan membangun imperiumnya sendiri. Menariknya, karakter kakek ini digambarkan sebagai seseorang yang senang main perempuan, sehingga beberapa kali kawin-cerai. Salah satu ekses dari “kebijakan” kawin-cerai ini adalah tidak terpenuhinya pendidikan anak-anak. Pada akhirnya, anak-anak mereka hanya bisa mengenyam pendidikan paling tinggi sampai SMP. Walhasil, setelah dewasa dan berumah tangga, anak-anak yang mewarisi tanah-tanah peninggalan sang kakek pada akhirnya berebut hak waris dengan tanpa ilmu. Si tokoh aku menoroti betapa keluarga yang asalnya baik-baik saja menjadi hancur karena permasalahan warisan.

Konsep cerita ini sebetulnya seringkali dibahas dalam tripusat pendidikan. Di mana keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan segitiga yang saling bertautan untuk mencapai generasi madani. Secara terminologi, kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat atau suatu organisasi dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim.

Keluarga merupakan suatu organisasi terkecil dalam masyarakat yang memiliki peranan sangat penting karena membentuk watak dan kepribadian anggotanya. Selanjutnya, masyarakat itu sendiri terdiri dari keluarga-keluarga. Keluarga-lah yang mengawali adanya gagasan untuk terus mewujudkan watak dan kepribadian yang baik dalam kehidupan bermasyarakat yang luas. Maka sekolah adalah salah satu institusi yang membentuk kepribadian dan watak kepada masyarakat. Sekolah tidak akan mampu berdiri bila tidak ada dukungan dari masyarakat. Karenanya, kedua sistem sosial ini harus saling mendukung dan melengkapi. Bila di sekolah dapat terbentuk perubahan sosial yang baik berdasarkan nilai atau kaidah yang berlaku, maka masyarakat pun akan mengalami perubahan yang baik tersebut.

Pengetahuan, tidak ada jalan lain untuk didapatkan, selain tentunya melalui pendidikan. Pendidikan sejatinya mampu membuka hati dan pikiran manusia untuk terbuka. Pesan-pesan seperti ini wajar dibawa sang penulis, Asmawati, dalam cerpen-cerpennya karena memang latar belakang penulis sendiri adalah seorang guru.

Gagasan mengenai kaitan keluarga dan pendidikan terlihat pula pada cerpen yang menjadi judul buku ini yaitu “Bulan Terpotong Enam”. Dikisahkan bahwa Ayi, seorang gadis cilik yang selalu menggambar bulan besar yang dipotong enam. Dalam cerita ini, kedua orang tua Ayi pada akhirnya harus bercerai karena keterlibatan Meriana sebagai “orang ketiga” dalam hubungan papa dan mama Ayi. Awalnya, mama Ayi merasa hidupnya hancur. Setelah perceraiannya, masalah semakin runyam ketika anak bungsunya menderita sebuah penyakit yang aneh setelah perceraian itu. Ayi diceritakan sulit berkomunikasi dan selalu menggambar bulan besar untuk kemudian dibelah-belah menjadi enam bagian. Hari demi hari dilalui oleh mama dan ketiga anaknya untuk bangkit dari permasalahan keluarga tersebut.

Kejadian-kejadian pahit yang menyertai keluarga itu justru semakin menguatkan mereka. Anak pertama mereka berhasil menjadi psikolog karena terpacu adik bungsunya. Begitupun anak kedua yang berhasil menjadi desainer interior. Puncaknya, Ayi yang menjelang gadis memenangkan kompetisi menggambar. Dalam pesannya yang terbata-bata, Ayi menceritakan makna Bulan Terpotong Enam, yaitu papa, mama, tante Meriana, Bagas, Utami, dan Ayi. Keenam tokoh itu seumpama puzle yang sepatutnya dapat dikumpulkan menjadi bulan yang utuh.

Dalam cerpen tersebut, Bunda Asmawati, seorang guru-penulis sekaligus pegiat literasi, berupaya mengajak pembaca untuk menyadari betapa pentingnya penerimaan hidup sekaligus bersikap move-on terhadap situasi sulit. Di sini pula, sang kreator kembali menegaskan bahwa keretakan rumah tangga itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Banyak sekali guru yang mengeluh sulit menghadapi anak yang cenderung nakal. Padahal jika ditelusuri, kebanyakan kasus seperti itu diakibatkan broken home. Dengan demikian, sekali lagi penulis mengingatkan kita untuk mewariskan rahim ilmu dalam keluarga.

Pada akhirnya, membaca karya-karya Asmawati memunculkan perenungan-perenungan yang membuat saya sebagai seorang guru untuk bertanya balik: Sudahkah saya mewariskan pendidikan terbaik untuk anak saya sendiri dan sudahkah saya memberikan pelayanan terbaik pada anak didik saya seumpama menganggap mereka bagian dari keluarga saya sendiri? ***


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RESENSI"

Post a Comment