SURGA ITU DEKAT



Oleh:
Titin Harti Hastuti, S.Pd.
 (Pesantren Terpadu Nurul Amanah, Salawu Tasikmalaya)

  Bi Nury dibantu Teh Maryam menyiapkan sarapan di dapur.  Sedangkan Fadli dan Danang merapihkan kamar dan menyapu lantai.  Mang Sunarya tersenyum melihat kekompakan mereka.  Pagi menjadi begitu terasa indah.  Kehadiran Fadli, Danang dan Teh Maryam mengusir kesepian tanpa kehadiran generasi pengganti di rumah ini.
  “Sarapan sudah siap!” Teh Maryam meletakkan nasi goreng, lalap dan irisan mentimun, sambal hijau dan ikan bawal goreng yang tercium harum sekali.  Mereka makan lesehan di atas tikar anyaman pandan.
  “Wah, jadi perbaikan gizi di sini.”  Danang tersenyum lebar disambut tawa semua peserta upacara wajib sarapan pagi.
   “Kalian pagi ini jadi ke Kampung Naga ?” tanya Mang Sunarya .
  “Insyallah jadi, Amang.  Setelah sarapan kami langsung pamit mungkin sampai sore kami baru pulang . Teh Maryam membetulkan posisi duduk sunnah makannya sambil meraih irisan mentimun.
   “Ayo Fadli pimpin doa makannya dan jangan lupa duduk sunnahnya. Kaki kiri didudukin, kaki kanan ditekuk payuneun dada.”   Mang Sunarya memberi contoh cara duduk ketika makan.
***
Selesai sarapan mereka berpamitan pada Amang dan Bibi untuk memulai perjalanan ke Kampung Naga.
Dua puluh lima menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampai di  terminal Kampung Naga disambut tulisan Selamat Datang di Cagar Budaya Kampung Naga, lengkap dengan aksara Sunda.
Mereka menuruni jalan beraspal dengan kemiringan yang cukup curam.  Parkiran kawasan wisata Kampung Naga dikelilingi toko-toko pernak-pernik asesoris kerajinan Naga dan juga produksi khas Tasikmalaya.  Semua serba anyaman, ada anyaman bambu, pandan, eceng gondok, bengkuang dan rotan.  Produk anyaman seperti yang di buat Bi Nury juga ada.  Piring, vas bunga, keranjang bunga, keranjang sampah, wadah parsel, boboko, aseupan dll.  Di sebelah kanan terdekat ada rumah panggung yang memproduksi kerajinan anyaman bambu.  Selebihnya warung penjual makanan cepat saji, seperti baso,  mie ayam dan jajanan ringan.
Perhatian mereka selanjutnya adalah Tugu Kujang Pusaka. Tugu dengan kujang terbesar itu leburan dari beberapa kujang dari seluruh tataran Sunda.
“Fadli bantuin Teteh ya.” Kata Teh Maryam memecahkan keheningan di antara mereka bertiga yang sedang asik dengan perhatian masing-masing, ”Teteh mau membuat perkiraan tinggi tugu ini.”
Teh Maryam mempraktekkan pengetahuan  pramukanya dalam menentukan ketinggian Tugu Kujang Pusaka           
“Fadli tolong ukur 10 meter atau 20 kali stik ini,” Teh Maryam menyerahkan stik 50 cm yang sudah dipersiap untuk mengukur obyek pengamatan sewaktu-waktu dibutuhkan. Danang berdiri dengan tongkat ini, lalu maju 1m dari tongkat ini. Fadli tiarap ya..”
“Teteh, aku malu dilihat banyak orang.  Masak tiarap di sini memang nggak ada yang bisa ditanyai.  Atau, Teteh tanya aja ke Google.”  Fadli bersungut-sungut.
Teh Maryam menarik nafas panjang , ”Fadli memang begini cara yang harus Teteh lakukan. Nggak mungkin juga Teteh naikin tugu.  Kalau pake internet nggak diperbolehkan semua harus langsung dari lapangan.” Teh Maryam terus membujuk Fadli. Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka bertiga .   
“Assalamualaikum, maaf katingalina adik-adik ini mau mengukur tinggi Monumen Kijang Pusaka?”  Seseorang dengan pakaian adat Sunda, celana hitam serba gombrang, celana berada di antara lutut hingga mata kaki lengkap dengan tutup kepala adat Sunda. 
Wajahnya putih bercahaya,  nampak masih muda mungkin usianya baru kepala tiga. Yang membuat mereka kaget karena wajah itu mirip Harris J, tapi dalam usia tigapuluhan.  Penyanyi Inggris yang sedang naik daun dan menjadi artis Muslim kebanggaan mereka bertiga.
“Walaikumsalam.  Benar Pak, banyak informasi yang ingin saya dapat untuk tugas konsevasi lingkungan hidup yang terkait budaya di sini, tapi saya tidak kenal pemandu wisata di sini,” Teh Maryam menjawab tersipu.
“Apa bapak bisa mempertemukan kami dengan Kuncen Kampung Naga ?”  Fadli ingat pesan Bi Nury bahwa informasi apapun yang kita inginkan bisa ditanyakan ke Kuncen .
“Saya sendiri yang bertugas menjadi badal Kuncen hari ini.  Pak Kuncen sedang ada urusan keluar.  Kebetulan tidak ada tamu turis asing.  Jadi saya punya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan adik-adik.”
Teh Maryam tersenyum lebar, senang sekali dengan kemudahan yang Tuhan izinkan untuk mereka.
“Sambil menjawab pertanyaan adik-adik kita bisa menuruni tangga supaya kita bisa melihat langsung kampung ini selain informasi dari saya.”
Sa teu acana terimakasih banyak, Pak.  Bapak sudah mempermudah urusan saya hanya Allah yang dapat membalas kebaikan Bapak.”  Teh Maryam membuka daftar pertanyaan yang telah dipersiapkannya semalam.
“Sudah tugas saya membantu mereka yang ingin tahu banyak tentang Kampung Naga ini.  Saya harap kebijakan yang dipesankan Kampung Naga ini bisa menginspirasi orang-orang di luar sana untuk menyadari bahwa segala yang disediakan alam lebih dari cukup memenuhi kebutuhan manusia!”
***
“Bapak bisa menceritakan pada kami tentang Monumen Kijang Pusaka ini?”  Teh Maryam membuka pertanyaan.
“Tugu Kujang Pusaka Kampung Naga diresmikan langsung oleh Gubernur Ahmad Heryawan pada tanggal 16 April 2009.  Menjadi lambang kuatnya budaya Sunda di Jawa Barat.  Senjata inilah yang menjadi andalan leluhur kita dalam menpertahankan diri dari penjajah.  Ketinggiannya sekitar 3 meter, logam kujang ini hasil peleburan 900 kujang milik raja-raja di tataran Sunda.  Membuatnya dilakukan 40 empu dalam waktu 40 hari.”
“Saya pernah baca bahwa dulu kujang itu di isi  kekuatan lain?”  Danang bertanya penasaran.
“Ya sangat mungkin, karena tanpa ditambah kekuatan ghaib dalam izin Allah, kita sangat sulit menghadapi  senjata lengkap dan lebih modern para penjajah.  Menurut saya itu bagian kasih sayang Tuhan untuk memberikan perlindungan pada hambaNya”.
“Tapi ada yang mengatakan itu bagian dari sihir dan syirik….”  Fadli mengungkapkan rasa penasarannya.
“Syirik itu bila kita meyakini bahwa itu sebagai kekuatan yang berdiri sendiri. Semua itu masih dalam izin Allah SWT untuk menjadi wasilah pertolongan pada manusia.  Bukankah khazanah pengetahuan itu juga yang menjadi wasilah perlindungan.  Banyak pejuang kemerdekaan yang mengusir penjajah dibantu kekuatan ghaib.  Pernah dengar kisah Si Pitung, seorang jawara Betawi yang menolak penjajah zaman dulu?  Semua yang ada tidak pernah lepas dari kekuatan yang tak terlihat oleh mata.  Selagi kita meyakini itu bagian dari kerajaan Allah yang menjadi penguasaan tertinggi,  jangan terlalu mudah mencap seseorang melakukan perbuatan syirik.” Kuncen Muda menerangkan dengan penuh kesabaran pada anak-anak yang dipenuhi rasa ingin tahu itu .‘’Yang tidak boleh itu menyembahnya dan menyandarkan diri pada kekuatan yang Allah izinkan pada makhluk.”  Kuncen Muda melanjutkan.
“Fadli, Danang, kalian harus Teteh panggilkan guru khusus tauhid nih.  Kalau kalian nanyanya dalam-dalam ntar Teteh nggak dapat data laporan.” 
Mereka melanjutkan perjalanan menuruni tangga Naga yang melegenda itu.
“Coba kalian hitung anak tangga ini pasti hasilnya berbeda-beda.  Yang benar hitungnya akan saya beri hadiah.”  Seseorang yang mereka anggap Kuncen Muda menawarkan game yang cukup menantang.
“Fadli dan Danang sibuk menghitung anak tangga.  Kesempatan aku dapat banyak data sekarang.’’ Teh Maryam membatin.
“Lihat itu Neng dari anak tangga sebelah sini Neng dapat melihat kampung ini ditata dengan apik.”  Kuncen Muda menunjukan posisi pemotretan yang menghasilkan gambar terbaik.  “Turis dari luar negeri senang menggambil gambar dari posisi ini.”
Subhanallah…pemandangan seperti ini pernah saya lihat sekali-kalinya dulu di Bali. Terasering sawah menghijau dan sebagian menguning.  Kami sekelurga  pernah tamasya ke sana saat umur saya baru enam tahun. Kalau Bali dikatakan Pulau Dewata saya pikir layak kampung ini disebut Surga Priangan.”
“Neng ini ada-ada saja surga mah tidak bisa dibayangkan atuh Neng, saking bagusnya!”
“Bukan begitu Pak, maksud saya … warga di sini begitu ikhlas berada dalam kebersamaan.  Rumah mereka yang serba sama mengingatkan saya pada nasihat agama untuk menghindari berlomba dalam kemewahan dan kemegahan. ‘Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk di dalam kubur.  Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.  Kemudian sekali-kali tidak kamu akan mengetahui.  Sekali-kali tidak sekiranya kamu mengetahui dengan pasti niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim.  Kemudian kamu akan melihat dengan mata kepalamu sendiri.  Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia ini.
Teh Maryam berkaca-kaca. Ia berusaha sekuat mata tenaga menahan air mata itu agar tidak menganak sungai.  Ingatannya menerawang  jauh ke teman –teman yang sering berganti kendaraan dari yang murah hingga termewah atau ponsel dari yang terawal hingga harga termahal.  Dulu pernah ia merasakan keresahan hati saat belum mengikuti pengajian kampus.  Berlomba untuk paling wah telah mencabik-cabik hatinya dari ketenangan.  Ia kini telah merasakan bahagianya kesederhanaan dan keluar dari lintasan perlombaan itu.
Apalagi mereka yang rela tinggal di kampung ini. Mereka pasti bukan insan biasa.  Surga di hati Teh Maryam juga dimiliki warga Kampung Naga ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SURGA ITU DEKAT"

Post a Comment