TUTORIAL TEMAN SEBAYA, BANTU ATASI KESULITAN MENULIS



Oleh:
Sumyati, M.Pd.
SMPN 2 Kadungora

Efektivitas pembelajaran ditandai oleh kualitas hasil yang dicapai dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Idealnya semua guru dituntut untuk mampu menyampaikan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Namun,  rencana pembelajaran yang telah disusun sering kali tidak dapat tercapai sesuai dengan harapan. Dengan demikian, tuntutan kurikulum tidak tercapai secara maksimal.
Guru adalah manajer, aktor, motivator atau pun fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya keberhasilan proses belajar mengajar terletak di tangan guru. Bagaimana kemampuan guru dalam merencanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar. Kemudian kemampuan dalam memilih dan menggunakan model serta teknik mengajar. Serta kemampuan memotivasi dan membangkitkan minat belajar siswa.  Yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan guru dalam mengatasi permasalahan yang timbul pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Karakter siswa setiap kelas berbeda-beda. Ada yang mudah dikendalikan ada pula yang sulit dikendalikan. Model dan teknik pembelajaran yang direncanakan sering kali tidak bisa diterapkan pada setiap kelas. Hal ini mengisyaratkan bahwa penggunaan model dan teknik pembelajaran tidak bisa dipaksakan, akan tetapi harus disesuaikan dengan karakter para siswa secara klasikal.
Karakter siswa bervariasi. Pertama, ada siswa yang patuh pada isyarat dan aturan yang diterapkan guru. Karakter siswa yang demikian biasanya dimiliki oleh peserta didik yang rajin dan pintar. Kedua, ada siswa yang suka melecehkan, membangkang, tidak peduli, masa bodoh dan selalu mengganggu teman. Karakter siswa yang demikian biasanya dimiliki oleh peserta didik yang malas. Karena kemalasannya siswa yang demikian selalu mendapat hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa guru tersebut kurang profesional, karena tidak mampu menciptakan dan mengelola proses belajar mengajar dengan baik. Itulah nasib seorang guru, jika tidak berhasil maka guru harus menanggung akibatnya. Bagaimana menentukan solusi pemecahan dari permasalahan yang dihadapinya?
Pada tahun 2017/2018 saya mengajar di kelas VIII sebanyak empat kelas, yakni kelas VIII A, B, C dan D. Kelas VIII C sangat berbeda dengan kelas yang lain, jumlah laki-laki dan perempuannya tidak seimbang, yakni sepuluh orang perempuan dan duapuluh orang laki-laki. Kelas ini, sudah terkenal kenakalannya oleh semua guru, sedangkan sembilan perempuannya memiliki karakter baik, rajin dan patuh kepada guru.
Pada suatu hari saya menyampaikan pembelajaran menulis teks persuasif. Hasil yang dicapai kelas A, B dan D, sangat berbeda dengan kelas C. Jika dikelas A, B dan D hanya satu atau dua orang saja yang tidak mengumpulkan karya tulis. Sedangkan di kelas VIII C sebanyak 15 siswa laki-laki sama sekali tidak menyetorkan teks persuasif yang diminta. Dengan sangat ringan mereka mengatakan “Tidak bisa Bu.”  Dari kesenjangan hasil yang dicapai tersebut, saya merenungkan kembali bagaimana model dan teknik mengajar yang telah dilaksanakan di kelas VIII C. Kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga 50% siswa tidak mampu menulis teks persuasif sesuai dengan yang saya minta.
Model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar menulis teks persuasif adalah Ploblem Based Learning  atau Pembelajaran Berbasis Masalah. Adapun langkah-langkah kegiatan belajar mengajar yang berorientasi kepada pembelajaran saintifik adalah sebagai berikut:
A.  Pendahuluan:
1)   Mengajak semua peserta didik berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengawali kegiatan pembelajaran)
2)   Melakukan komunikasi  tentang kehadiran peserta didik
3)   Guru mengecek kesiapan peserta didik belajar baik secara fisik maupun psikologis.
4)   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai.
5)   Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan latihan-latihan dan tugas dalam pembelajaran.
6)   Mengondisikan siswa menjadi enam kelompok, dengan cara membagi rata kemampuan siswa.

B.  Kegiatan Inti:
1)   Setiap kelompok mendapat LKS yang dibagikan guru.
2)   Siswa mengamati foto-foto peristiwa yang telah terjadi di Indonesia, baik yang berhubungan dengan masalah sosial, ekonomi, keagamaan, kesehatan maupun lingkungan hidup yang tayangkan melalui infocus.
3)   Siswa membaca contoh teks persuasif.
4)   Siswa mendata permasalahan yang akan dijadikan bahan menulis teks persuasip, kemudian menentukan satu tema pilihannya.
5)   Siswa berdiskusi merumuskan pendapat sesuai dengan tema atau masalah yang diangkatnya, kemudian menganalisis fakta-fakta yang mendukung pendapatnya.
6)   Siswa menyusun teks persuasif berdasarkan pendapat serta fakta-fakta yang telah ditemukannya, kemudian meyakinkan pendapatnya untuk mempengaruhi orang lain dengan kalimat-kalimat persuasif.
7)   Setiap kelompok menempelkan karya tulisnya di dinding, kemudian kelompok lainnya mengunjungi, membaca dan menuliskan komentarnya.
8)   Siswa menyampaikan hasil temuannya berupa pujian dan kritikan terhadap karya temannya.
9)   Siswa secara individu menulis teks persuasif berdasarkan tema pilihannya, minimal dalam dua paragraf dengan struktur yang tepat, mengikuti langkah-langkah yang telah dilakukan pada kegiatan diskusi kelompok.
10)    Siswa mengumpulkan teks persuasif yang telah ditulisnya.
11)    Guru memilih karya tulis siswa yang terbaik, kemudian siswa tersebut membacakannya.
12)    Guru mengonfirmasi karya tulis siswa dari segi kelebihan dan kekurangannya.

C.  Penutup :
1)      Dengan sikap tanggung jawab, peduli, jujur, dan santun peserta didik bersama guru menyimpulkan pembelajaran.
2)      Dengan sikap santun dan jujur, siswa mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dialami saat menulis teks persuasif.
3)      Dengan sikap peduli dan santun siswa mendengarkan umpan balik dan penguatan dari guru mengenai menulis teks persuasi.
4)        Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran dengan santun dan penuh tanggung jawab.
Pada saat mengerjakan tugas individu, siswa laki-laki nampak tidak mengerjakan secara serius, walaupun berulang kali diarahkan. Ada yang berdiam diri, ada yang berjalan-jalan melihat pekerjaan teman, ada pula yang cenderung mengganggu temannya. Beberapa siswa ada yang mengatakan bahwa ia tidak bisa. Kemudian saya memperlihatkan kembali fenomena-fenomena yang telah terjadi di Indonesia, misalnya dalam masalah sosial dan kesehatan. Saya mengajukan pertanyan, “Penyakit apa yang banyak terjadi pada musim hujan?” Jawaban mereka bervariasi ada yang menjawab penyakit demam berdarah, muntaber dan sebagainya. Kemudian saya bertanya kembali, “Apa penyebab penyakit DBD dan apa penyebab penyakit muntaber ?” Anak-anak banyak yang memberi jawaban, ternyata mereka pada mengetahui. Lalu saya bertanya kembali, “Bagaimana cara mencegah penyakit tersebut?” Cara mencegahnya pun mereka sudah pada tahu.
Berdasarkan hasil tanya jawab tersebut, saya persilahkan untuk ditulis menjadi teks persuasif. Ada yang sama sekali tidak menulis, ada pula yang baru menulis dua kalimat, ada pula yang kerjanya pura-pura menulis. Sehingga pada akhir kegiatan, anak-anak yang lima belas orang tadi, tidak mengumpulkan karya tulisnya.
Pada pertemuan berikutnya, saya mengalokasikan waktu satu jam pelajaran untuk mengulang kembali kegiatan menulis persuasif, khusus bagi siswa yang belum mengumpulkan tugas. Karena target saya semua siswa harus mempunyai pengalaman menulis. Adapun baik buruknya karya yang dihasilkannya tergantung kepada kesungguhannya dalam belajar. Namun, bagaimana caranya agar mereka bisa menulis dengan baik? Akhirnya saya mempunyai ide, “Tutorial Teman Sebaya.”
Sembilan siswa perempuan hasil karyanya bagus, dan lima orang di antaranya lebih bagus dari yang lainnya. Saya mempunyai keyakinan jika sembilan siswa ini dijadikan Tim Totorial Menulis, mungkin kesulitan yang dialami temannya akan dapat teratasi.Oleh karena itu saya membagi menjadi empat kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari dua orang tutor.
Setiap tutor bertugas membimbing dan mengarahkan. Akan tetapi dilarang untuk membantu membuat kalimat atau pun menulis. Tutor hanya memberi inspirasi dan memberi contoh. Sehingga langkah-lanagkah menulis yang dilakukan temannya sesuai dengan kriteria menulis teks persuasif dan struktur yang benar, yaitu terdiri dari pernyataan umum, tahapan argumen disertai fakta dan kalimat persuasif yang berisi himbauan, ajakan, saran atau arahan.
Kegiatan ini membuahkan hasil yang baik. Dalam waktu satu jam pelajaran, kelima belas siswa dapat menyelesaikan karya tulisnya dengan struktur yang benar. Bertolak dari keberhasilan ini, saya menerapkan sistem tutorial teman sebaya pada pembelajaran lainnya, jika banyak siswa yang mengalami masalah dalam menulis. Misalnya dalam kegiatan menulis cerpen, menulis laporan hasil percobaan dan menulis laporan membaca buku fiksi dan nonfiksi.
Tutorial teman sebaya sangat bermanfaat untuk membantu para siswa yang mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Akan tetapi kegiatan ini harus di bawah pemantauan guru pembimbing atau guru mata pelajaran, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. 







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TUTORIAL TEMAN SEBAYA, BANTU ATASI KESULITAN MENULIS"

Post a Comment