ANAK DURHAKA



Oleh: Juliyanti, SMPN 2 Kadungora Garut Kelas IX B



Gino terlahir dari keluarga yang amat sederhana. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai penjual gorengan keliling. Sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia. Ia selalu membantah ibunya,apapun yang ia mau harus diturutinya.Pergaulannya pun dengan perokok, pemabuk, dan penjudi. Di sekolahnya, ke ruang BK sudah menjadi langganannya setiap bulan.
Suatu hari,ia bergegas berangkat sekolah, namun tiba-tiba ibunya memanggil Gino.
"Nak,bantu ibu dulu. Tolong masukkan gorengan ini kedalam wadah dagangan,".teriak ibu dari dapur.
"Malas ah!".jawabnya datar.
Lalu ia menghampiri ibu yang sedang kerepotan membawa dagangannya untuk dijual.
 "Eh Bu, mana duit? Dari kemaren cuma ngasih 10 ribu,sekarang aku minta 50 ribu," katanya maksa.
 "Uang sebesar itu mau kau apakan,Nak? Untuk resiko sehari-hari saja masih kurang!"kata Ibu resah.
"Terserah aku dong, Bu! Makannya kerja tuh yang bener," jawab Gino sambil nunjuk muka ibunya.
"Ibu udah usaha,Nak. Rezeki sudah ada yang ngatur,harusnya kamu bersyukur masih bisa makan," jawab ibunya kesal.
   Gino menggeledah dompet yang dibawa ibunya dan membawa uang selembar lima puluh ribu.
  "Nahh ini ada, tadi bilangnya gak ada! Minggir minggirlah!" bentak Gino kepada ibunya.
Sedangkan Ibunya, diam terpaku melihat kelakuan Gino. Ia hanya bisa mengurut dada. Mau bagaimana lagi, dinasihati malah melawan. Dikerasi, balik membentak. Bisa-bisa dia berani memukul ibunya. Sering juga ia mencuri uang ibunya yang disimpan di lemari. Kadang ia mengobrak-abrik kasur jika di lemari tidak menemukan uang.
  Gino pergi ke suatu tempat bersama teman-temannya. Ternyata ia tidak sampai ke sekolahnya.Uang hasil paksaan dari ibunya ia habiskan untuk membeli minuman keras.Secara ramai-ramai, masing-masing menghabiskan  sebotol minuman keras.Tanpa kesadaran yang utuh, ia pun pergi kembali dengan motornya seloyongan. Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan sebuah truk tangki air melaju begitu cepat, saat itu juga Gino terdampar tak berdaya.Ia dibawa ke rumah sakit, namun sayang dokter menyatakan bahwa Gino menderita kelumpuhan di kedua kakinya.
Rumah sakit itu merasa bagaikan neraka baginya. Gino mendapatkan azab atas dosa-dosa yang telah diperbuat kepada ibunya. Kini ia tidak akan merasakan kembali nikmatnya berjalan. Sedangkan sang ibu, makin tertekan hidupnya. Ia harus mengurusi Gino yang tidak bisa berjalan. Penghasilannya sebagai pedagang gorengan, harus pula dipakai membayar biaya rumah sakit. Itulah yang membebani pikiran si ibu, hingga ia tidak berhenti berurai air mata.
Seorang ibu setengah baya, tertutup busana muslim. Ia menghampiri Gino dan ibunya yang sedang menangis. Ditangannya ia masih memegang sebuah botol minuman, sisa. 
"Sabar yah, yang kuat! Ini ujian dari Allah,” kata wanita itu.
Ibunya hanya manggut. Rupanya ia tidak sanggup berkata-kata. Namun wanita itu, nampaknya penasaran ingin tahu penyebab sakit Gino.
“Kenapa bisa begini, Bu? Kecelakaan apa?” tanya wanita itu kembali.
“Tertabrak truk. Ia mabuk,” jawab si ibu pendek. Kali ini terpaksa si ibu harus menjawab pertanyaan wanita itu.
“Oooh, begitu,” wanita itu sambil mengangguk-angguk kepalanya. “Remaja zaman Now, ada-ada aja yah? Begini sayang ....” wanita itu sambil mengelus kaki Gino pelan-pelan. “Kamu lihat ini?”
Gino mengangguk. Dilihatnya wanita yang baru datang itu.
“Ini adalah botol berisi juss lemon, sisanya tinggal setengah. Tidak ibu buang karena sayang, ibu membelinya mahal.  Juss ini sangat bermanfat untuk tubuh ibu. Akan tetapi jika botol ini berisi air selokan, mungkin sudah ibu buang, karena jijik dan tidak berguna. Kamu mengerti maksud ibu?” tanya wanita itu.
“Gino menggelengkan kepala.”
“Apalagi jika isi botol ini berisi madu asli, satu botol madu ukuran sebesar ini, harganya lima puluh ribu rupiah. Lebih mahal, kan? Itu tandanya bukan masalah botolnya, tapi yang menentukan harga adalah isi botolnya.”
Wanita itu menatap wajah Gino. Ternyata Gino masih menyimak dirinya.
“Sayang, kita manusia ibarat sebuah botol ini. Harga diri kita akan ditentukan oleh ahlak kita, kelakuan kita, amal kita. Jika prilaku kita selama ini baik, maka kita akan baik-baik saja. Orang lain akan menghargai diri kita. Bukan masalah kaya miskinnya yang dihargai orang itu, tapi ahlak kita. Ibu kamu sudah mendidik dan menyekolahkan, turuti sayang! Kasihan ibu, coba lihat! Kini beliau menangisi kamu?”
Gino terdiam ia mengingat bahwa selama ini perlakuannya sangat tidak benar.
 "Perbaikilah akhlakmu,perjalananmu masih sangat  panjang.Hormatilah ibumu selagi masih ada! Dia rela berjuang hanya demi mendapatkan sesuap nasi untuk kamu. Jadilah anak yang berbakti, agar ibumu bangga kepadamu!"
Sejak saat itu, ia menyadari kesalahannya. Gino menangis meminta maaf kepada ibunya. Jika Allah menyembuhkan kedua kakinya, ia berjanji akan menjadi anak yang lebih baik. Ia akan berbakti kepada ibunya, yang hidup seorang diri membesarkan dirinya. (Penyunting: Sumyati, M.Pd.)



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ANAK DURHAKA"

Post a Comment