APA KABAR BANJIR?

http://jabar.tribunnews.com


Oleh: Dewi Pujiati

Musim penghujan ya pasti banjir.
Musim penghujan ya harus siap dengan banjir.
Musim penghujan ya harus nyaman berteman dengan banjir. 

Pernyataan-pernytaan di atas sepertinya menjadi sesuatu yang hampir semua memakluminya, kemudian menerimanya sebagai suatu ketentuan-Nya (atas nama takdir)  yang harus diterima. Lalu lirik lagu Ebiet G. Ade pun mengudara.(begitu biasanya polanya).

Hujan dan banjir seperti suatu paket yang tidak bisa dihindari.

Benarkah demikian?

Mau sampai kapan?

Takdir seterusnya  yang harus diterima?

Haruskah berpasrah menerimanya sebagai tradisi yang tak bisa dielakkan?

Bukan menggugat kuasa Allah, namun seperti ada yang terlewat dari semuanya. Bahwa kalau  hujan ya banjir. Ada banjir karena ada hujan.  Menjadi  sesuatu yang harus diterima.

Sebulan  ini ada banyak duka dan keprihatinan mendalam dari berbagai postingan foto dan video peristiwa banjir di beberapa kota besar di Indonesia.

Setelah itu biasanya akan dilanjut dengan aksi menggalang bantuan untuk para korban banjir. Selepas musim hujan jarang sekali dilakukan gerakan-gerakan lanjutan yang sifatnya massal untuk tidak terulangnya banjir.

Mata baru akan terbelalak kembali tatkala musim penghujan tiba dan banjir menyapa. Sepertinya itu menjadi siklus yang akrab di mata dan telinga saat menikmati berbagai warta di kala musim penghujan.

Padahal, penyampaian “Jangan membuang sampah sembarangan karena akan menyebabkan banjir” sudah akrab di telinga sejak dulu. Saat saya  kecil, hujan memang menyapa namun tak lantas paket banjir menyertainya. Deras air hujan ramah disapa dan diserap oleh tanah-tanah yang dilaluinya.

Namun sekarang hujan sebentar saja air akan menggenang. Banjir menjadi pemandangan umum dan lumrah. Menjadi sangat prihatin dan duka  kala disertai dengan korban jiwa. Karena terus berulang dan kualitas juga kuantitas bencana banjirnya semakin besar, sampai-sampai Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Kerajaan Inggris melakukan penelitian di bidang kebencanaan hidrometeorologi (Liputan6.com). Penelitian dengan besar dana mencapai Rp 31 miliar melalui Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) dan Newton Fund tersebut pastinya untuk mendapatkan jawaban agar di masa depan banjir ditanggulangi dengan cara yang tepat.

Sampai hatikah kita terus membiarkan "hujan menyapa banjir pun tiba" terus ada?

Jawabannya ada di hati dan pikiran kita masing-masing. Setidaknya, yuk kita mulai saja dengan gerakan 3S. Sekarang (Meminimal sampah), Sendiri (Dimulai dari diri sendiri), dari hal Sederhana (Membawa bekal ke sekolah).

#SelamatkanLingkungan

#TematikKls6

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "APA KABAR BANJIR?"

Post a Comment