BERJUANG SENDIRI MELAWAN KANKER (3)

Oleh:
Lina Herlina

Lalu kemana suami pendamping hidupku? Setelah aku tak sengaja mengangkat telepon dari seorang perempuan, aku mulai merasakan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Itu terjadi sekitar tahun 2008 ketika aku masih segar bugar, sehat, muda dan cantik. Saat itu aku tak begitu memusingkannya, sehingga tahun 2015 datanglah sepucuk surat dari pos yang kebetulan akulah yang menerimanya.

Dengan penuh penasaran ku buka surat itu, dan isinya dari seorang perempuan yang mengaku sebagai kekasihnya. Dia tidak menerima kalau diputuskan dan meminta suamiku untuk menikahinya. Kalau tidak, dia mendoakan agar hidup suami dan keluargaku tidak bahagia. Di akhir kalimat ditulis tolong kabari kalau surat ini sudah sampai.

Memang sejak saat itu tidak ada hal signifikan yang berubah dengan kehidupanku. Suamiku masih bersikap seadanya seperti biasanya. Hanya sejak aku mengidap kanker, kepeduliannya terhadapku malah semakin berkurang. Aku tak lagi berharap banyak, dengan kondisi tubuhku yang tak sempurna lagi apa aku masih bisa mempertahankannya?

Aku harus mulai ikhlas terhadap apapun pilihan suamiku, karena aku sudah tidak dapat memberikan kebahagiaan yang seutuhnya lagi. Bahkan saat dia tak lagi memberikan nafkah pada kami pun aku harus merelakannya.

Hari-hari ku lalui bersama dengan rasa sakit yang setia menemaniku. Hanya kedua anakku yang peduli terhadapku. Kalaupun ada sesekali adikku menengok tetapi hanya sebentar karena dia pun memiliki kesibukan lainnya.

November 2018 aku memutuskan untuk melakukan kemoterapi. Kenapa aku bersedia melakukannya, karena hasil pemeriksaan sel-sel kanker itu sudah menjalar ke liver. Berbekal BPJS yang baru selesai kuurus aku masuk kembali ke rumah sakit ditemani adikku.

Tubuhku mulai melewati serangkaian pemeriksaan, mulai dari jantung, ginjal, paru dan lain sebagainya. Kemudian obat anti kemo disuntikan melalui pembuluh darah. Setelah itu dibilas dengan infusan selama lima belas menit. Proses berikutnya obat kemo yang berwarna merah darah berasal dari botol hitam itu disuntikan melalui infusan. Prosesnya membutuhkan waktu lima jam sampai selesai. Setelah 5 jam aku berbaring, kemudian aku diberi waktu untuk pemulihan selama 1 jam hingga aku bisa pulang.

Selesai kemo ke 1, setibanya di rumah aku merasakan mual yang tak terhingga, pusing, sekujur tubuhku terasa sakit dan lidahku tak berasa lagi. Aku tak dapat makan sedikitpun bahkan air pun tak dapat masuk. Semuanya termuntahkan kembali. Perutku mulai bengkak karena liver yang terganggu. Semalaman aku mengerang kesakitan dan tak dapat tidur barang sedetik pun. Sesekali suamiku menghampiri dan melihat keadaanku yang tengah ditunggui oleh anak pertamaku sambil terkantuk-kantuk.

Aku tak menyangka ternyata itu malam terakhir aku bersama suami. Dia pergi meninggalkan aku yang tengah terkapar menahan rasa sakit yang tak terhingga dan meninggalkan 2 anak-anaknya yang masih membutuhkan pengasuhan dan perlindungan ayahnya.

Hari ke-3 setelah kemo pertamaku, aku kaget ketika terbangun kulihat rambutku begitu banyak bertebaran di atas bantal. Saat ku usap maka rambutku itu terlepas begitu saja sejumput demi sejumput. Hingga hari ke-10 habislah semua rambutku. Aku sudah menjadi seorang putri giok. Satu persatu benda terindah di tubuhku mulai Engkau cabut. Aku ikhlas Yaa Rabb. Semoga ini menjadi penghisab atas segala dosaku selama ini.

Belum reda semua rasa sakit ini, setelah 21 hari, aku harus kembali melakukan kemoterapi yang ke dua. Begitu terus dilakukan hingga hari terakhir kemarin aku sudah melakukan 4 kali kemoterapi. Sementara 4 kali kemoterapi lagi harus kulalui hingga genap 8 kali.

Aku harus kuat menjalani hingga tuntas. Sudah setengah perjalanan ku lalui, demi anak-anakku aku harus dapat bertahan untuk hidup.

Keluhan-keluhan pasca kemo telah terbiasa kurasakan. Kini yang kualami adalah gejala yang baru. Seisi rumahku penuh dengan bau menyan. Ini terjadi mulai dari pukul setengah tujuh hingga setengah sebelas malam. Itu berlangsung setiap malam. Kemudian tubuhku merasakan sebuah serangan yang sangat hebat hingga aku memuntahkan isi perutku yang bercampur darah. Aku terus merasakan ketakutan, apalagi di rumah hanya ditemani oleh dua anak kecil saja. Andai masih ada ibu atau bapak, aku tak akan merasakan setakut ini. Atau aku yang ikut menemui bapak dan ibu, pasti penderitaan ini akan berakhir. Tapi apakah aku tega meninggalkan anak-anakku sendirian. Sementara dorongan terbesarku untuk sembuh adalah mereka.

Karena deritaku yang makin menyiksa, maka ku coba bertanya pada salah seorang kyai ahli hikmah. Beliau mengatakan bahwa ditubuhku ini bukan hanya penyakit fisik saja, tapi ada gangguan dari mahluk-mahluk ghaib sebangsa jin yang sengaja dikirim oleh seseorang. Untuk mengobatinya, maka aku diharuskan menghindari dulu rumahku sekurang-kurangnya dalam kurun waktu 10 hari atau sampai semuanya menghilang.

Maka dengan berat hati aku coba tetirah di rumah pak kyai sambil berusaha untuk diobatinya. Sementara dua anakku ku tinggalkan di rumah. Sedih sekali bila membayangkan si kakak anak lelaki terbesarku mengambil alih tugasku sebagai ibu rumah tangga dan kepala keluarga. Dia dipaksa dewasa dengan keadaan. Di usianya yang baru sebelas tahun, sementara teman-teman yang lainnya tengah asik bermain bersama teman-temannya, maka dia harus buru-buru pulang karena harus menanak nasi, menyapu lantai rumah, mencuci piring dan mencuci pakaian. Belum lagi mengurus dan mengasuh adiknya yang baru berusia lima tahun setengah.

Aku tak dapat membayangkan bagaimana anak-anakku dapat bertahan hidup. Setelah 7 hari aku tetirah, hari ini ku putuskan untuk pulang dulu ke rumah mengambil pakaian ganti. Ku lihat rumah kecil yang kubangun dengan susah payah dibantu oleh mendiang ayahku ini sangatlah tak terurus. Di halaman rumah tampak sampah daun-daun kering berserakan. Begitupun teras rumah dipenuhi debu.

Kubuka pintu perlahan tidak dikunci, artinya anakku ada di dalam. Kuucapkan salam dengan perlahan masih terasa aroma mistik dari sekitar rumahku. Bulu romaku serasa merinding semua, tak henti-hentinya kuucapkan berbagai doa. Hingga saat masuk kulihat Fadli anak sulungku tengah makan sambil sesekali menyuapi fauzan adiknya.

Air mataku tak tertahan lagi ketika kulihat yang mereka makan hanyalah nasi putih saja tanpa ditemani dengan lauk apapun. Ya Allah, aku adalah orang tua yang dzalim terhadap mereka. Aku tak dapat menjaga titipan-MU dengan baik. Mereka tidak mengeluh, tapi aku tahu gurat penderitaan jelas terpancar dari bola matanya. Seakan bertanya pada dunia kapan semua ini akan berakhir

Aku menangis sejadi-jadinya sambil memeluk mereka, tak henti-hentinya ku bilang: “Maafkan bunda nak, maafkan bunda.” Hanya itu kalimat yang bisa kuucapkan. Selebihnya aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya melepaskan penderitaan hidup yang tak ada ujungnya ini.

Ya Allah, aku masih hidup tapi keadaan anak-anakku sudah sedemikian terlantar dan menderita. Apalagi kalau aku telah meninggalkan dunia fana ini, dapatkah mereka bertahan hidup? Apakah Engkau masih memberikan sedikit waktuku untuk mengurus  mereka hingga dewasa? Inilah harapanku, motivasi terbesarku untuk dapat melawan rasa sakitku, buah hatiku yang kucintai dalam hidupku.

TAMAT

Surat Buat Si Kecil

Oleh:
Yuli Susilawati, S.Pd.

Suatu saat nanti aku akan berbaring Lemas tak berdaya, di mana kala itu Aku tidak akan bisa berbuat apapun Berjalan,  mendengar, berpikir bahkan Berbicara pun aku tidak akan mampu,bahkan akupun tidak akan ingat siapapun anak, saudara, dan  keluarga lain
Di saat aku mengalami stadium akhir penyakit kanker
Sebelum bibirku kelu izinkanlah aku meminta maaf untuk semuanya..
Terutama untuk anak-anakku tercinta... maafkan ibumu Nak!
Bila selama ini ibumu tidak bisa mendampingi kalian.
Ibumu ini banyak kekurangan karena itu memang kelemahan dan ketidakberdayaanku.
Hanya bisa mengatakan maaf dan maaf untuk anak-anakku tercinta
Semoga di saat kepergianku nanti kalian bisa merelakan ibumu dengan iklas,  maafkan ibumu ini untuk semuanya, maaf kan ibumu ini anak-anakku.
Maafkan ibumu ini yang tidak bisa bersama-sama lagi, maafkan ibumu ini yang tak bisa memeluk kamu,  maafkan ibumu ini yang tak bisa bersama dalam suka dan duka.
Hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk kalian  semoga bahagia selalu. Semoga sepeninggalku mereka kuat,  tabah dan menjalani hidup dengan ikhlas.

*) Ditulis oleh Lina Herlina, S.Ag, M.Pd.I guru PABP di SMPN 3 Limbangan.

**) Cerpen ini diambil dari kisah hidup sahabatku Ibu Yuli Susilawati, S.Pd Guru IPA di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut. Tulisan ini didedikasikan untuk beliau yang sedang berjuang melawan kanker stadium 5 semoga menjadi motivasi buat semua orang yang terkena kanker. Tetaplah tabah dan kuat berjuang seperti beliau)

Subscribe to receive free email updates:

16 Responses to "BERJUANG SENDIRI MELAWAN KANKER (3)"

  1. Semoga Allah menghapus dosa2 ibu Yuli. Aamiin

    ReplyDelete
  2. Ibu, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk ibu dan keluarga ibu. Salam buat Fadli dan Fauzan, mereka pasti akan sekuat dan sesabar ibu:).

    ReplyDelete
  3. Ya... Allah. Berilah kesembuhan pd nya

    ReplyDelete
  4. Terus semangat Bu Yuli, tetap yakinlah untuk bisa sembuh, tidak ada yg tidak mungkin di dunia ini jika Allah sudah berkehendak.Aamiin...

    ReplyDelete
  5. Ya Allah ringankanlah beban bu Yuli serta sembuhkanlah angkatlah penyakitnya. Beri kekuatan pada bubYuli beserta putranya Aamiin
    Bu Yuli semangat ya...

    ReplyDelete
  6. Terima kasih sahabat semua atas support dan doanya untuk Bu Yuli. Insya Allah kami sampaikan.

    ReplyDelete
  7. Syafakillahh.. Laa ba'sa thohurun, in syaa Allah

    ReplyDelete
  8. Syafakillah bu, La ba'sa thohurun in shaa Allah..
    Mudah2n Allah mengangkat penyakit ibu & menghilangkan semua rasa sakit yg ibu rasakan skrg. Semoga kembali sehat seperti sedia kala.. Semangat sembuh bu ��

    ReplyDelete
  9. Syafakillah bu, La ba'sa thohurun in shaa Allah..
    Mudah2n Allah mengangkat penyakit ibu & menghilangkan semua rasa sakit yg ibu rasakan skrg. Semoga kembali sehat seperti sedia kala.. Semangat sembuh bu ��

    ReplyDelete
  10. Syafakillah bu dari kami warga smkn 6 garut yg kebetulan sebelhan sekolahny sama L3❤ , Terus berjuang & terus berdoa akan kesembuhanmu untuk anak²mu❤

    ReplyDelete
  11. Syafakillah bu dari kami warga smkn 6 garut yg kebetulan sebelhan sekolahny sama L3❤ , Terus berjuang & terus berdoa akan kesembuhanmu untuk anak²mu❤

    ReplyDelete
  12. Syafakillah bu,smoga cepat d angkat penyakitnya dan di hilangkan rasa sakitnya

    ReplyDelete
  13. Cepat sembuh ya bu, saya mengenal ibu di bangku smk, saya adalah salah satu murid yg pernah ibu ajar. ibu orang baik, semoga allah segera mengangkat penyakit ibu, dan memberikan kesehatan seperti biasanya.. amin🙏

    ReplyDelete
  14. Syafakillah ibu Yuli. Saya murid ibu wkt SMP. Ibu orang baik. Semoga lekas sembuh, di ngkat penyakitnya, sehingga bisa sehat kembali. Aamiin.....

    ReplyDelete
  15. Semoga cepat sembuh ibu. Guru paling favorit di smp thn 2005. Ibu pasti bisa dan harus bisa sehat kembali. Aamiin..

    ReplyDelete