BINTALIS SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER SISWA



Oleh : Lilis Latifah, M.Pd.



Ada suasana yang berbeda pada kegiatan pembiasaan di Greeone SMPN 1 Cicalengka Kabupaten Bandung sejak setahun terakhir ini. Pagi-pagi sekali, bapak kepala sekolah, Nana Supriatna, S,Pd, M.M.Pd. didampingi oleh para staf dan guru-guru sudah berdiri di depan gerbang sekolah menyambut kehadiran para peserta didik.  Senyum, Salam dan Sapa atau dikenal dengan istilah 3S dilakukan pendidik dan peserta didik saat memasuki gerbang sekolah.
Peserta didik antri memasuki gerbang dengan disambut senyuman dan sapaan hangat dari para gurunya, begitupun ucapan hikmah bertabur doa keluar dari setiap insan yang bersemangat. “Assalamualaikum” dan jawaban “Waalaikumsalam”  saling berbalas di antara para peserta didik dan para pendidiknya.
   Dalam berbagai kesempatan,  Nana Supriatna menjelaskan bahwa dalam ucapan salam terkandung hikmah yang sangat luar biasa. Pertama,  salam bias artikan sebagai sapaan saat seseorang bertemu dengan orang lain. Kedua, salam sebagai doa. Dalam makna ini, pengucap salam menyadari bahwa ucapannya lebih dari sekadar basa-basi, atau ekspresi keakraban belaka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh  berarti semoga keselamatan,  kasih sayang dan keberkahan tercurah kepada kalian. Sebuah kalimat yang sangat indah, yang menggabungkan antara semangat untuk menyapa dan mendoakan sekaligus kepada orang lain. Doanya pun sangat mulia. Keselamatan adalah hal yang paling didamba-dambakan oleh seluruh manusia, bahkan binatang sekalipun. Salam  semacam ini tak bias disejajarkan dengan sapaan basa-basi antar teman. Ketiga, salam sebagai bagian dari unsure syariat.  Sebagaimana salam sebagai rukun shalat. Salam seperti ini tak bias tergantikan dengan “selamatpagi” atau “selamat siang”. Ia harus dilakukan sesuai dengan syariat yang telah digariskan.
   Setelah melakukan kegiatan 3S (Senyum, Salam dan Sapa), peserta didik memungut sampah di sekitar lingkungan sekolah dan menyimpannya di tong sampah, terutama memungut sampah yang berada di dalam dan di luar pagar sekolah. Mengingat lokasi SMPN 1 Cicalengka berada di depan alun-alun dan dekat dengan pasar Cicalengka, maka banyak sekali pedagang di sekitar sekolah dan sering kali menimbulkan pemandangan yang kurang sehat dengan ceceran sampah. Kegiatan ini di kenal dengan istilah SMS (Sahabat Memungut Sampah). Jangan khawatir tangannya kotor,  karena wastafel untuk mencuci tangan tersedia dan tersebar di sekitar sekolah.
   Ternyata, para peserta didik dan pendidik di Greeone (sebutan masyarakat untuk SMPN 1 Cicalengka) tidak hanya mencuci tangan saja setelah kegiatan SMS, melainkan mengambil air wudhu, dan kemudian berbaris membuat shaf di lapangan untuk melakukan persiapan shalat dhuha bersama. Kegiatan ini dimulai tepat pukul 07.00 pagi, diawali dengan membaca Al Qur’an yang dipandu oleh salah seorang guru PAI. Shalat dhuha dilakukan empat rakaat dengan dua kali salam. Namun tidak dilakukan secara berjamaah, melainkan munfarid dilakukan bersama-sama di lapangan sekolah.
   Do’a setelah shalat dhuha dipimpin oleh salah seorang bapak guru, biasanya oleh guru PABP juga, namun adakalanya oleh salah seorang staf  PKS. Doa tersebut diikuti oleh seluruh peserta dan diamiinkan untuk mengetuk pintu langit supaya rezeki yang masih belum dan sedang diperoleh dapat diraih dengan penuh keberkahan. Kesehatan, ilmu, harta, keshalehan, keberkahan dan yang lainnya adalah rezeki yang dapat diperoleh seorang hamba yang selalu melaksanakan shalat sunat dhuha. Semoga semua itu dapat tercurah limpahkan bagi seluruh stakeholder SMPN 1 Cicalengka pada khususnya. Aamiin YRA.
  
Setiap hari selasa, selesai shalat dhuha, kegiatan selanjutnya adalah BINTALIS (Bimbingan mental Islam). Pelaksanaannya para peserta didik secara bergiliran menyampaikan presentasi materi keislaman. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan gerakan literasi sekolah. Dalam kegiatan bintalis, peserta didik yang mendapat giliran presentasi harus membaca terlebih dahulu berbagai bahan referensi keislaman sesuai dengan tema yang dipilihnya. Masya Allah, Tabarakallah mutiara hikmah begitu tersebar dalam kegiatan ini. Tidak hanya peserta didik saja, namun seluruh stakeholder pun mendapat pencerahan yang luar biasa.
   Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter positif peserta didik. Tujuan inilah yang ingin dicapai oleh Nana Supriatna sebagai visi utamanya dalam memimpin sekolah ini. Begitupun yelyel “Berakhlak mulia, berdisiplin dan berprestasi, yes” diteriakkan dengan lantang dan serempak sambil mengacungkan kepalan tangan ke atas sebagai gambaran semangat dan optimism seluruh stakeholder terutama peserta didik dalam meraih citanya.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan  karakter  berfungsi untuk:
1.        Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik,  dan berperilaku baik
2.        Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
3.        Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
.
Semoga upaya kecil ini dapat berdampak besar bagi pembentukan karakter positif peserta didik di lingkungan SMPN 1 Cicalengka khususnya dan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat pada umumnya.



*) Lilis Latifah, M.Pd., Guru Bimbingan dan Konseling, Ketua Gerakan Literasi Sekolah, dan tim Manajemen Mutu di SMPN 1 Cicalengka Kabupaten Bandung.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BINTALIS SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER SISWA"

Post a Comment