HARIMU


Oleh: Iyus Yusandi


Janur kuning tergantung menandai peristiwa bersejarah dalam perjalanan hidup. Tenda biru memayungi deretan kursi agar dipakai  para tamu. Dekorasi mewah menghiasi kursi singgasana sang raja dan ratu. Kerlap-kerlip lampu hias pun turut ramaikan suasana dalam gedung.

Beberapa orang sibuk memagari karpet merah. Di sisi lain, di sudut-sudut tertentu pun disiapkan orang-orang berjas seragam dengan earphone masing-masing. Di dalam ruangan orang-orang duduk  menghadap ke singgasana. Di meja bundar telah duduk bapak-bapak berjas dan berdasi. Bapak-bapak itu berhadapan dengan sosok pemuda tinggi dan gagah.

Meja saji berisi menu siap ramaikan pesta. Sudut lain para pemusik sudah menyiapkan alat-alatnya. Kipas angin berdiri di kiri dan kanan gedung.
Pemandu waktu sudah mulai mengatur rangkaian kegiatan utama dan beberapa rangkaian acara tambahan. Pengarah acara mulai merangkai kata awali kegiatan. Para tamu pun duduk penuh perhatian jalani waktu dalam diam.

“Ananda Fiqri, saya nikahkan dan kawinkan Ananda Fiqri dengan anak saya yang bernama Rina dengan mas kawin emas sebesar 10 gr dibayar tunai”, suara calon bapak mertua dengan tegas.
“Saya terima nikah dan kawin Rina dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai”. Jawab mempelai pria.
“Sah!” serempak hadirin pun berseru.

Acara utama berderet saling sambung-menyambung. Mengiringi sepasang hati yang sedang merangkai bahagia. Menyatukan rasa dalam sumpah suci. Demi menggapai hidup bahagia dunia dan akhirat. Seiring sejalan dalam suka dan duka. Diiringi do’a dan restu kedua orang tua, saudara, kerabat, dan kawan-kawan kedua belah pihak.
Semua orang berderet satu demi satu. Mereka menghampiri pasangan pengantin. Saling berjabat tangan, menyampaikan do’a terbaik mereka untuk pasangan pengantin. Begitu pula kepada kedua orang tua mempelai itu.
Menu hidangan pun dinikmati para tamu undangan. Para tamu undangan menikmati hidangan dengan diiringi alunan instrument modern. Dimainkan pemain muda-muda.

Pedang Pora pun menghiasi kegiatan resepsi pernikahan. Sebagai tanda penghormatan pada perwira yang melepas masa lajangnya. Pedang Pora adalah tradisi wajib yang sudah dilakukan turun-temurun dalam dunia militer. Selain itu, Pedang Pora merupakan lambing solidaritas, persaudaraan, permohonan perlindungan pada Tuhan untuk angkatan bersenjata. Sedangkan Pedang Pora yang dilewati oleh kedua mempelai mengartikan kalau telah dimasukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru. Angkatan bersenjata yang menjadi pengiring dan merangkai pedang-pedang tersebut biasanya adalah rekan-rekan atau adik tingkat dari mempelai pria yang seorang perwira.
Prosesi Pedang Pora berlaku untuk para angkatan bersenjata yang masih aktif dalam menjalankan tugasnya pada Negara. Baik dari kepolisian, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.
Prosesi Pedang Pora pun akan dimulai ketika kedua mempelai sudah siap berjalan memasuki  gerbang yang terdiri berhadap-hadapan dengan satu orang sebagai komandan regu. Pasukan Pedang Pora termasuk juga mempelai pria tentulah mengenakan seragam militernya. Lengkap dengan segala atribut serta enggak lupa Pedang Pora atau pedang panjang yang masih berada dalam sarung dan tergantung pada pinggangnya masing-masing.

Saat komandan regu sudah melaporkan kesiapan mereka pada kedua mempelai, pasukan Pedang Pora pun kemudian dipersiapkan untuk mulai menghunus pedangnya. Pedang yang terhunus pun memiliki makna tersendiri, yakni dengan jiwa ksatria, kedua mempelai siap menghadapi segala rintangan yang akan mereka hadapi di dalam kehidupan.
Setelah itu, secara perlahan Pedang Pora mulai terangkat ketika mempelai berjalan pelan tapi pasti di bawah pedang tersebut. Suara tambur pun memngiringi keduanya yang tengah melewati pedang itu, diikuti oleh pasukan Pedang Pora yang berjalan tegap di belakang mempelai.
Kemudian mereka membuat formasi lingkaran yang mengelilingi mempelai sembari menghunuskan pedang ke atas hingga seolah-olah membentuk paying. Adapun makna di balik bentuk paying pora itu, yakni Tuhan Yang Maha Esa akan senantiasa melindungi kedua mempelai dalam menghadapi segala rintangan kehidupan dan selalu ingat untuk memohon perlindungan dan petunjuk kepada-Nya.

Selanjutnya kedua mempelai pun akan menerima pemasangan cincin yang juga melambangkan kalau kedua mempelai akan selalu bersama-sama dalam mengarungi bahtera kehidupan baru. Dan … khusus mempelai wanita, dia akan mendapatkan pakaian atau sebuah symbol lain sebagai lambing jika dirinya telah siap menjadi istri seorang prajurit.
   
Hari semakin siang. Mentari persis berada di atas. Tamu undangan mulai berdatangan. Gedung semakin riuh, penuh pengunjung. Dari pintu gerbang gedung, para tamu undangan menyusuri karpet merah mengarah ke kursi pelaminan. Menghampiri kedua mempelai yang sedang berbahagia. Mendo’akan semua yang terbaik untuk kedua mempelai. Lewati kedua mempelai dan kedua orang tua mempelai. Para  tamu pun mencicipi hidangan. Mereka menikmati hidangan dan mengambil posisi di luar gedung.

Beberapa orang pergi meninggalkan gedung. Ada juga beberapa orang datang, memasuki gedung. Beberapa orang sibuk memagari karpet merah. Di sisi lain, di sudut-sudut tertentu pun disiapkan orang-orang berjas seragam dengan earphone masing-masing. Di dalam ruangan orang-orang duduk  menghadap ke singgasana. Beberapa orang berpoto bersama kedua mempelai. Beberapa orang-orang antri di meja hidangan. Beberapa orang menikmati hidangan. Beberapa orang memainkan alat-alat musik, megiringi kebahagiaan kedua mempelai serta mengiringi para tamu. Beberapa orang sibuk menarik dan mengumpulkan piring-piring kotor. Beberapa orang mengisi hidangan yang sudah kosong. Beberapa orang hilir mudik dengan kegiatan masing-masing.

Senja pun tiba. Acara-acara utama, acara-acara tambahan di gedung itu rampung terselenggara. Para tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan gedung.
Tertinggal kedua mempelai, kedua orang tua mempelai, dan keluarga terdekat kedua belah pihak.
Senyum menghiasi bibir-bibir mereka. Lelah pun terasa, mengiringi kebahagiaan mereka.

Mulailah mereka mengarungi bahtera hidup.




Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "HARIMU"