IKHLAS

Oleh: Edyar R.M.

Aku masih ingat betul Senin kemarin itu adalah pertemuan terakhirku mengajar di kelas itu. Senin depan, mereka sudah harus menghadapi ujian akhir semester. Masih sangat jelas hari itu aku memberikan tagihan akhir berupa tugas menulis teks ulasan film yang sudah pernah mereka tonton.
“Anak-anak, belajar bahasa itu di mana-mana sama saja, hanya belajar mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kalian sudah pernah mempelajari contoh-contoh teks ulasan film, presentasi mengulas film yang sudah kalian tonton secara berkelompok di depan kelas. Sekarang saatnya kalian belajar menulis. Silakan kalian buat secara tertulis di kertas selembar teks ulasan dari film yang sudah pernah kalian tonton yang menurut kalian paling menarik! Ingat, menulis itu berbeda dengan mengarang. Mengarang itu mengada-ada, pura-pura mampu,  sedangkan menulis mah apa adanya, semampunya. Dan, menulis tingkat SMA itu berbeda dengan tingkat SD. Kalau menulis tingkat SD itu menyalin tulisan, sedangkan tingkat SMA mah menuangkan ide dan gagasan. Jadi, kalian tidak saya perkenankan menyalin teks ulasan dari mbah gugel. Tulis saja sebisanya, semampunya. Kalau ada kesulitan, silakan tanyakan. Jelas, ya. Ada pertanyaan?”
“Belum ada, Pak!”
“Banyak, di soal UKK!”
“Hahaha... Bapak mah bisa aja.”
“Ingat ya, menulis, bukan mengarang ataupun menyalin! Silakan.”

* * *

Lembaran kertas tugas siswa dari tiga kelas yang kuajar kini menumpuk di depan mataku. Malas aku mengoreksinya. Sebenarnya aku bukan tipe guru pemalas, sungguh. Tapi nyatanya kali ini aku benar-benar malas. Meliriknya saja kini aku enggan. Ingin kubakar saja kertas-kertas itu biar mampus. Muak aku dengan kertas. Betapa tidak, baru beberapa kertas kubaca, sudah tercium bau gugel. Kucoba baca kertas-kertas lainnya secara random, hampir semuanya rasa gugel, terutama di kelas yang satu itu. Padahal sudah kuingatkan, tulis sebisanya, jangan menyalin.
Apa susahnya sih mengulas film? Menceritakan kembali alur film dengan bahasa sendiri, kemudian menilai kelemahan dan kelebihan film dengan pemahaman sendiri, apa sulitnya? Kalau merasa sulit kan bisa bertanya ke gurunya. Apalagi yang sulit?
Ah, jelas sudah. Intinya, mereka semua tidak ada keinginan untuk belajar. Berangkat sekolah hanya untuk status pelajar. Ngakunya saja pelajar, tetapi ketika disuruh belajar malah ogah-ogahan. Maunya hanya santai-santai, kumpul becanda haha hihi dengan teman-teman, bahkan ada yang cuma numpang pacaran. Dasar pelajar palsu.
Anak sekolah zaman sekarang yang dikejar hanya angka bagus di rapor, tak peduli dengan cara etis ataupun tidak. Tak pernah saya lupakan bagaimana hebatnya aksi mereka ketika mengerjakan soal UTS kemarin, menyontek berjamaah. Sebal aku mengenangnya. Harusnya yang mereka kejar itu adalah nilai, nilai keuletan, nilai kerja keras, nilai kepercayaan diri, nilai pantang menyerah, nilai kejujuran, bukannya angka. Sudahlah, biar kali ini mereka semua kuberi angka kecil saja di rapor, biar tau rasa. Titik.

* * *

Pukul dua dini hari. Aku masih duduk melamun di meja kerja bersama kertas-kertas tugas siswa yang belum juga kubakar. Mataku sudah spaneng 5 watt, tapi kekesalan masih menyala terang di hati dan kepala. Tiba-tiba remang-remang terbayang seraut wajah penuh keteduhan, dengan senyumnya yang khas. Dia adalah guruku. Guru skripsiku waktu di kampus dulu, sudah sangat lama sekali. Tatapan matanya yang lembut mampu menghapus lelahku setelah berdesak-desakan di kereta antara Bogor-Cikini, berpanas-panasan dalam kemacetan bus Rawamangun. Senyum khasnya itu, mampu memompa semangatku untuk segera menyelesaikan skripsi dengan literatur yang memadai dan kualitas analisis yang mendalam. Selama kurang lebih tiga setengah tahun kuliah, rasanya ketika menyusun skripsi itulah aku benar-benar merasa belajar. Dialah dosen satu-satunya yang benar-benar menjadi guruku.
Kuingat saat ia mengajak kami menyanyi pada acara wisuda: Kasih ibu kepada beta / Tak terhingga sepanjang masa // Hanya memberi, tak harap kembali / Bagai sang surya menyinari dunia //. Kemudian ia berpesan, “Begitulah seharusnya seorang guru, ikhlas seperti kasih ibu, seperti mentari, hanya memberi, tak harap kembali.”
Astagfirullah. Selama ini aku lupa. Aku terlalu banyak mengharap. Mengharap pemikiran siswa harus sama denganku. Mengharap kemampuan siswa harus sama denganku. Jelas-jelas pemikiran anak remaja jauh berbeda dengan orang dewasa. Jelas-jelas kemampuan anak SMA tidaklah sama dengan sarjana. Aku terlalu banyak mengharap, lupa memberi. Bukannya memberi pembelajaran yang menyenangkan, malah memberikan kekesalan dan kemarahan. Astagfirullah. Aku lupa memberi. Aku harus introspeksi. Mungkin metode mengajarku salah, mungkin kurang media pembelajaran, mungkin gestur dan mimik mukaku salah, mungkin memang banyak kurang dan salah. Aku harus banyak memberi, jangan banyak berharap. Maafkan gurumu yang lalai ini, Nak!
Di sepertiga malam terakhir itu, aku bergegas merapikan lembaran kertas kerja siswa yang berserakan. Kubawa kertas-kertas itu ke luar rumah. Udara di luar terasa dingin sekali. Kupandangi langit, ternyata sepi dari bintang-bintang. Biarlah langit kelam ini menjadi saksi. Dengan mengucap basmalah, kubakar kertas-kertas itu dengan gelora semangat dalam dada, “Nak, kita mulai dari nol, ya!”

Kamar Perenungan, 13/06/20


EDYAR RAHAYU MALIK

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Ciawi.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kab. Bogor.
Pegiat Musikalisasi Puisi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "IKHLAS"

Post a Comment