INMEMORIAM AGUS YANI, PENGABDIAN HINGGA AKHIR HAYAT

Oleh:
Lina Herlina


Agus Yani namanya, tidak ada yang istimewa bila melihat sosoknya. Pria yang berperawakan sedang, berkulit sawo matang dan berkumis tipis ini sangat menginspirasi kita semua. Profesinya sederhana, seorang guru Sekolah Dasar. Dia mengajar sebagai tenaga honorer di SDN 3 Ciaro Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung sejak tahun 1994. Pada tahun 2003 guru kelas VI ini diangkat menjadi Guru Bantu (GB). Tahun 2007 barulah beliau diangkat sebagai PNS di sekolah tersebut.

Guru yang memiliki kecintaan mendalam terhadap Pramuka ini, merupakan sosok guru yang sangat tegas, rajin dan pekerja keras. Di balik ketegasannya, sosoknya sangat dicintai oleh siswa-siswinya. Setiap pagi beliau selalu datang lebih dahulu dibanding peserta didik dan rekan guru lainnya. Kemudian dengan cekatan dan tanpa sungkan dia mengambil sapu lidi untuk membersihkan sampah di sekeliling sekolah. Hal itu serentak diikuti oleh murid-muridnya yang ada. Sehingga lingkungan sekolah selalu bersih dari sampah. Bila waktu pulang telah tiba, beliau biasanya pulang lebih akhir karena melakukan kegiatan les, pramuka atau bersih-bersih.

Agus Yani tidak sungkan melakukannya, karena memang di sekolah tersebut tidak memiliki petugas kebersihan. Oleh karenanya tugas bersih-bersih lingkungan dibebankan kepada semua warga sekolah. Siswa-siswi pun dengan senang hati melakukan pekerjaan itu tanpa meraa terpaksa.

Saat awal tahun pelajaran 2018, tepatnya bulan Juli, tiba-tiba favorit anak-anak ini dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena mendapat serangan jantung. Cukup lama beliau di rumah sakit kurang lebih 2 minggu karena komplikasi terjadi pada tubuhnya. Selain jantung, paru, ginjal juga stroke telah menyerangnya.

Sepulangnya dari rumah sakit, dalam keadaan masih belum bisa berjalan beliau memaksa untuk masuk kembali sekolah. Dengan menggunakan kursi roda setiap hari beliau mengajar dan melaksanakan rutinitasnya membimbing para siswanya dalam menjaga kebersihan. Beliau prihatin, karena berdasar informasi yang sampai kepadanya selama di rumah sakit keadaan sekolah menjadi kurang terurus. Sampah mulai bertebaran. Hal ini karena anak-anak lebih bersemangat bila diajak bersih-bersih olehnya. Itulah motivasi terbesar beliau untuk secepatnya melaksanakan tugas kembali.

Setelah lepas dari kursi roda, beliau mulai berjalan menggunakan tongkat penyangga. Semangat mengajarnya tetap gigih. Meskipun setiap hari harus diantar jemput keluarga dengan motor. Sesampainya di sekolah disambut peserta didiknya, lalu digandeng oleh mereka masuk ke dalam kelas. Itu beliau lakukan dengan senang hati, tak ada keluhan ataupun rintihan kesakitan. Padahal menurut dokter beliau sebenarnya harus beristirahat secara total.

Enam bulan berlalu rutinitas itu beliau lakukan, hingga pada hari Jum’at, tanggal 1 Pebruari 2019 semuanya berakhir. Pagi itu setelah beliau bersalaman bersama para guru dan siswa, lalu melakukan shalat Duha dan melaksanakan pelajaran pertama di kelasnya, tiba-tiba beliau terkulai di meja dan pingsan hingga tersungkur karena serangan jantung. Setelah itu beliau tidak sadar hingga beberapa jam berikutnya Sang Khaliq telah menjemputnya di ruang HCU RSUD Cicalengka.

Selamat jalan Guru yang baik, pengabdianmu terhadap dunia pendidikan hingga akhir hayat. Dalam keadaan sakit pun engkau tetap mengemban tugas, sungguh mulia baktimu. Semoga beliau menghadap Yang Maha Kuasa dengan Husnul Khotimah. Aamiin.

(Lina Herlina, M.Pd.I, guru PABP di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "INMEMORIAM AGUS YANI, PENGABDIAN HINGGA AKHIR HAYAT"

  1. paman qu sekaligus guru ku yank pernah mengajar ku di waktu aku masih sekolah dasar ,dia selalu mengajarkan ke baikan dan kesabran,hosnul khotimah paman ku semoga kau bahigia ditempat yank bati ,di tempat kan di syurga tempat yank begitu nyaman dan indah aminnn

    ReplyDelete