INSYAFNYA ANAK SOMBONG


(Oleh: Siti Nurhalimah, IX B SMPN 2 Kadungora Garut)


Seorang gadis bernama Amel, ia berusia 15 tahun. Ia terlahir dari keluarga yang kaya raya, bergelimang harta dan kemewahan. Namun dengan harta yang ia miliki membuatnya menjadi orang yang tamak dan sombong.
Suatu ketika ia pergi ke kantin sekolahnya untuk mencari makan. Tidak disengaja ia bertemu dengan temanya, Ayu namanya, seorang gadis yang hidupnya sederhana.
"Eittss ..., ada anak gembel niih! Kasian banget sih, lho. Punya baju kotor banget kaya gini, sepatunya juga udah rusak yah ... ? Uuuh ... kasian!" ucap Amel sambil menjuir lengan bajunya.
"Liat gue ... baju gue bagus, bersih,” sambil lenggak lenggok kaya pragawati. “Sepatu gue bagus, mahal harganya. Mau tahu, belinya di mana? Ehmm, di Paris dong. Gak kayak lho, udah kotor, bau lagi, ha ha ha ha. Secara kan, gue itu anak orang kaya," tambahnya lagi.
"Hey, Amel! Kenapa sih, lho? Hobi banget ngehina Ayu. Emng kenapa kalo Ayu orang sederhana, masalah buat lho?" tanya salah seorang teman Ayu.
"Ya iyalah, jelas masalah. Karena Ayu tuh ga pantes sekolah disini, yang pantes itu cuma anak orang kaya seperti gue," jawabnya sambil menunjuk dadanya.
"Huuh ..., males gue makan di sini. Mending gue cabut ajah, daripada di sini bikin gue gak napsu makan," ucapnya sambil meninggalkan kantin.
Ayu hanya bisa menangis mendengar hinaan dari Amel. Dengan ditemani Rara, Ayu pun masuk ke dalam kelas.
Jam pelajaran terakhir telah tiba. Tak lama kemudian, bel pulang pun berbunyi. Seperti biasa Amel langsung pulang ke rumahnya. Ia heran, tiba tiba ia melihat ayahnya sangat gelisah.
"Ada apa yah?"
Sejenak ayahnya terdiam. Rupanga enggan menjawab pertanyan Amel. Namun bukan Amel namanya, kalau ia puas dengan jawaban diam. Ia terus bertanya, sambil duduk mendekati ayahnya.
“Yah, kenapa?” kini amel bertanya lebih pelan.
"Perusahaan ayah bangkrut, semua harta kekayaan kita, perusahaan, rumah dan seisinya habis disita oleh bank. Kita kini tak punya apa apa lagi," jawab ayahnya.
Amel tercengang mendengar pernyataan ayahnya itu. Mereka, ayah, ibu dan Amel, tak ada yang bicara lagi. Seperti kena hefnotis saja.
Semenjak peristiwa itu ayahnya sakit jantung sampai meninggal, ibunya pun depresi. Kini ibunya dibawa ke rumah sakit jiwa. Ia bingung harus pergi ke mana. Sambil berjalan ia melihat sebuah masjid, lalu  menghampirinya. Di sana sedang ada kajian. Ia pun diam di luar, dekat pintu sambil mendengarkan ceramah ustad.
"Ibu-ibu, bapak-bapak, perlu kita ketahui bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepada umatnya untuk bersikap baik. Seorang akan dihargai dan berharga di mata orang lain jika kita manaburkan kebaikan. Ibarat sebuah botol dan air. Botol diibaratkan sosok manusia, sedangkan isinya diibaratkan perilaku atau ahlak manusia. Apabila botol itu diisi dengn air comberan, maka botol itu tidak akan berharga. Akan tetapi apabila diisi dengan air mineral atau jus maka botol itu bernilai  Rp.5000. Bagaimana jika botol itu diisi madu? Mungkin harganya berkisar Rp. 50.000. Sedangkan  jika berisi parfum, maka harganya lebih mahal lagi, diatas Rp. 100.000.
Begitu pun dengan kehidupan manusia, apabila perilaku yang kita tanamkan tidak baik, sering berbohong, sombong terhadap sesama manusia, dan lupa terhadap kewajibannya sebagai seorang hamba kepada kholiqnya. Jangan haraf orang lain dapat menghargai diri kita. Sebaliknya jika kita tanamkan perilaku yg baik, sering melakukan kebajikan, hormat kepada sesama, selalu bertakwa kepada Allah, maka tanpa diminta orang lain akan menghargai diri kita."
Setelah mendengar ceramah itu Amel pun sadar bahwa sikapnya selama ini salah. Ia selalu tamak dan sombong. Sejak saat itu ia menjadi tau bahwa kesombongan akan menjatuhkan dirinya sendiri.



PENYUNTING: SUMYATI


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "INSYAFNYA ANAK SOMBONG"

Post a Comment