JALAN “SURGA” MENUJU GEOPARK CILETUH (1)


Oleh:

 Iwan Al-Aswad*)


Pagi ini aku harus berangkat ke tempat kerja. Seperti biasa aku berangkat di pagi buta. Rute perjalanan yang kurencanakan: Cibadak–Cikidang–Palabuhan Ratu-Ciemas–Surade-Tegalbuleud. Jauh sekali bukan? Ya, jauh memang. Waktu tempuh normal sekira empat jam.
Jalan masih berkabut. Jarak pandang hanya sekira 10 meter. Jaket yang kupakai serasa masih kurang tebal untuk mengusir dingin. Tiba di pertigaan jalan, kuambil arah ke kanan. Rute ini merupakan rute yang terbilang ekstrem. Ya, rute ini pernah—atau bahkan sering menelan korban. Pernah ada bus terbalik, mobil terjun bebas, bahkan tabrakan beruntun.
Di balik keektrimannya jalur ini menyimpan keindahan yang tak kalah dari jalur Bogor-Cianjur. Sepanjang jalur ini lalu lintas lengang. Kita bisa mengemudikan kendaraan dengan santai. Di kiri dan kanan jalan tersaji pemandangan yang menyehatkan mata, hijau nan memesona. Tikungan demi tikungan membentuk pemandangan indah bak di negeri dongeng. Tak ada keseraman seperti yang sebelumnya kita bayangkan. Atau, jika anda “pemburu” buah-buahan, di jalur ini banyak pedagang yang menjajakan hasil kebunnya. Ada durian, rambutan, mangga, manggis, atau lalapan pembangkit nafsu makan, Petai. Ya. Buah ini seakan tak pernah hilang musim. Sesering apapun aku melintasi jalur ini, buah itu tak pernah tak hadir
Ladang petani yang mulai menguning. Perkebunan sawit yang menghijau, hutan lindung yang masih terawat, akan memanjakan mata para penikmat alam.
Ruas Cibadak-Palabuhan Ratu kutempuh dengan selamat. Adarasa lega dalam hatiku setelah melaluinya.
Saatnya perjalanan menempuh rute jalan baru. Palabuhan Ratu-Geopark Ciletuh. Ya, jalan ini memang baru diperlebar dan diperhalus. Konon, setelah Geopark Ciletuh menjadi salah satu keajaiban dunia yang disetujui UNESCO pada 2015, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, menggenjot perbaikan jalan ini. Hal ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan agar Taman Bumi Ciletuh dikukuhkan menjadi Taman Bumi Internasional (Global Geopark Network) pada 2017. Pembenahan dan perbaikan infrastruktur pada Taman Bumi Ciletuh sampai kini masih berlanjut.
Memasuki jalan menuju Geopark Ciletuh, di awal jalur ini baiknya kita menikmati keindahan salah satu bangunan yag sering menjadi salah satu objek kenakalan para penggila selfie. Salah satunya adalah kelenteng Dewi Kwan Im yang jarak dari pertigaan kurang lebih 1 kilometer. Kelenteng ini menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahannya terletak  pada bentuk bangunan, letak geografis, dan view dari bangunan yang menghadap ke laut Teluk Palabuhan Ratu. Bangunan kelenteng ini penuh ukiran khas Thailand. Cat warna emas dan warna merah berpadu serasi. Ada relief-relief  binatang, seperti: naga, kera, harimau, dan burung dibuat sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum bagi yang melihatnya. Patung Dewi Kwan Im terlebih lagi, ia dibuat secantik mungkin karena memang patung inilah primadona dari Kelenteng ini.
Tidak cukup sampai di situ, ada keindahan lain yang bukan keindahan buatan. Ya, view dari puncak bangunan ini membuat kita terperangah. Pemandangan ke arah laut membuat mata kita termanjakan. Pantainya bukan pasir, melainkan gunungan batu karang yang onggokannya tersebar sepanjang pantai, pepohonan hijau yang tumbuh subur, dan untaian ombak yang susul menyusul berbuih putih, adalah suguhan teramat indah. Pandai memang pendiri bangunan ini memilih tempat berdirinya kelenteng.
Meninggalkan kelenteng ini sambil melanjutkan perjalanan menuju Ciletuh, pandangan kita tak akan mampu melepaskan diri dari pesona Pantai Loji. Tidak seperti Pantai Palabuhan Ratu yang berpasir dan ombaknya berwarna putih kecoklatan, air laut dan ombak di pantai ini berwarna biru bening. Buih  ombaknya putih bersih. Indah bukan?
Jika boleh berpendapat, penulis ingin menyebut jalan ini adalah jalan perawan. Buka karena belum disentuh, tapi kemolekan pemandangannya membuat pelancong untuk berbetah diri mengencaninya. Liukan dan liku-liku jalan ini tidak membuat ngeri, justru membuat pengendara dan penumpang serasa menyusuri jalan di negeri mimpi, bahkan pada tanjakan ekstrem sekalipun. Bagaimana tidak? Saat kita menanjak, pemandangan di depan menyejukkan mata. Pepohonan hijau bak boulevard menyambut kita. Di arah belakang batas darat dan laut membentuk nuansa surgawi. Tebing dan lereng di dua sisi jalan begitu indah, memaksa pelintas jalan untuk begumam, “Wow... Indah nian.”  Luar biasa memang!
Di paruh perjalanan jalur ini, kita akan dipaksa berhenti sejenak oleh hasrat memuaskan mata. Ya, di sini kita disuguhi sebuah bukit yang bernama “Puncak Gebang”. Semilir angin laut di puncak ini seolah meninabobokan mata kita. Saking segarnya, membuat kelopak mata atas dan bawah saling merindu. Beruntung jika mata anda tergoda oleh pandangan lain, lagi-lagi ... ombak berwarna biru bening dan buih putih bersih, maka mata akan tetap terbuka.
Gundukan bukit yang akan dilalui dan yang telah dilewati, terlihat indah dari sini. Bukit menghijau, jalan berliku, pantai berbatu, semua terlihat menakjubkan.


Bersambung....


*) Iwan al Aswad adalah nama pena dari Iwan, M.Pd. Kepala SMKN Tegalbuleud Kab.Sukabumi dan Redaktur Daerah Majalah  Pendidikan Guneman


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "JALAN “SURGA” MENUJU GEOPARK CILETUH (1)"

Post a Comment