KATA KUNCI, MITIGASI!

Sumber gambar: https://kriyamedia.files.wordpress.com

Oleh : 
Dian Diana*)

Sesaat kita melupakan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan bencana geologi yang sering meluluhlantakkan dan mengundang banyak empati warga Indonesia, bahkan warga dunia. Jumlah korban yang kadang fantastis membuat miris yang menerima informasi. Setelah ditelisik, kadangkala penyebab kematian bukan karena dampak bencana secara langsung, tapi karena ketidaktahuan dan kepanikan menghadapi bencana tersebut.
            Jika kita berbicara takdir, mungkin ada orang yang berkomentar, bahwa ilmu tinggallah ilmu. tapi Sang Pencipta memberikan signal, jika kita harus selalu belajar sepanjang hayat dan senantiasa peka dengan keadaan lingkungan sekitar, serta selalu berusaha untuk mencari solusi dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi, sebelum akhirnya kita bertawakal.
Setiap ilmu yang lahir, diilhami dari segala fenomena alam yang terjadi. Sebelum bencana melanda, alam mengirim isyarat yang dapat ditangkap oleh manusia. Misal, menjelang gunung api akan meletus, suhu di sekitar gunung api naik, mata air di sekitar gunung mengering, sering terdengar bunyi  gemuruh dan tremor, tumbuhan di sekitar gunung layu dan meranggas, binatang bermigrasi atau turun gunung dan nampak gelisah.
Tak dipungkiri, untuk gempa bumi, belum ada alat atau peneliti  yang dapat memprediksi akan terjadi gempa bumi. Alat yang telah ada hanya mendeteksi saat terjadinya gempa bumi. Termasuk buoy, alat sensor pendeteksi tsunami. Namun, konsekuensi kita yang tinggal di wilayah tunjaman 3 lempeng dunia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Maka, kita harus selalu siap menghadapi bencana geologi. Sehebat apapun alat pendeteksi, jika masyarakatnya tidak siaga bencana, maka semuanya akan sia-sia. Dengan demikian, masyaraka Indonesia harus beradaptasi dengan wilayah yang rawan bencana geologi
Jadi, kunci penanganan bencana geologi adalah mitigasi. Mitigasi berdasarkan PP No. 21 Tahun 2008 tentang Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.  Mitigasi bencana geologi seharusnya sudah dipahami masyarakat Indonesia sejak dulu dan sudah menjadi kultur masyarakat atau kearifan lokal yang melekat menjadi pemahaman dan kesadaran masing-masing individu.
Bercermin pada masyarakat Jepang yang sedari kecil sudah dibiasakan menghadapi bencana gempa dan tsunami, kesiapsiagaan yang sudah  tertanam itu membuat mereka tenang dan saling menolong satu sama lain. Belum terlambat kiranya jika kita melakukan gerakan secara bersama untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang mitigasi bencana, baik mitigasi sebelum, saat, atau pasca terjadinya bencana.
Perlu penanganan komprehensif dalam menghadapi bencana. Managemen tanggap bencana (disaster management) harus dibuat bersama oleh steakholder Penyebaran peta sumber dan bahaya bencana geologi di Indonesia kepada masyarakat, Pembuatan bangunan anti gempa, petunjuk jalur evakuasi beserta shelter-shelter untuk tempat mengungsi, fasilitas publik yang lengkap dengan informasi bencana sehingga, penerima pesan memiliki waktu untuk menyelamatkan diri, tanah endapan yang tidak diperbolehkan untuk ditinggali dibuat taman atau dihutankan. Dan yang terpenting dari semuanya adalah pemahaman dan kesadaran tentang mitigasi bencana.
Pembuatan peta sumber dan bahaya bencana gempa bumi, merupakan hal yang penting dilakukan. Pemberitaan tentang wilayah potensi gempa yang dibuat oleh para ahli geologi, sebaiknya dihargai dan ditanggapi secara positif dan segera dilakukan mitigasinya. Sebagai contoh, seorang ahli geologi Risna Widyaningrum pada tahun 2012 telah melakukan penelitian dengan hasil bahwa daerah Palu dan sekitarnya berpotensi tinggi terhadap likuifaksi atau pencairan tanah. Namun, setelah lama informasi ini bergulir, tidak ada upaya apapun untuk mengurangi resiko bencana, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Dan akhirnya, peristiwa mengerikan pun terjadi pada tanggal 28 September 2018 terjadi gempa dengan kekuatan 7,4 SR permukaan tanah endapan yang ditinggali penduduk bergerak mengalir seperti sungai dan amblas menenggelamkan bangunan, pepohonan, dan benda apa pun yang ada di atasnya seluas 320 hektar
Pembuatan bangunan anti gempa sangat penting dilakukan, karena getaran gempa tidak membahayakan langsung pada manusia, tapi bangunan-bangunan yang tidak tahan gempa akan runtuh dan menimpa manusia, ini yang mematikan. Jadi rencana besar ke depan, pembuatan bangunan anti gempa menjadi hal yang urgent.
Shelter evakuasi dibangun sebagai fasilitas publik di daerah rawan gempa bumi dan tsunami, dimana konstruksi bangunan dirancang khusus untuk tahan terhadap guncangan gempa. Tempat ini dibuat di bagian atas bangunan, bagian dalamnya luas untuk orang-orang menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami. Pemasangan rambu dan papan informasi bencana dipasang oleh masyarakat dan pemerintah daerah. Sesuai dengan Perka BNPB No. 7/2015.
Peringatan gempa dan tsunami di Jepang  sudah melalui ponsel pintar, beberapa detik sebelum terjadi bencana, ada pemberitahuan melalui gawai tersebut. Kereta api cepat shinkansen akan menghentikan laju gerakannya, manakala ada peringatan gempa yang diberitahukan melalui sensor gempa yang tertempel pada kereta. Sistem informasi bencana telah terintegrasi dari pusat data ke stasiun televise nasional NHK Jepang.
Tanah endapan atau tanah yang mengandung air tinggi yang rentan terhadap bahaya likuifaksi sebaiknya dibangun menjadi taman-taman atau dihutankan, tidak diperuntukan untuk tempat pemukiman penduduk. Kejadian likuifaksi ini tidak dapat dideteksi terlebih dahulu, tidak juga dapat diprediksi apakah getaran atau kekuatan dengan angka tertentu dapat mengakibatkan peristiwa likuifaksi. Jadi, fenomena likuifaksi tak terduga.
Indonesia darurat pelatihan mitigasi bencana, yang seharusnya dilakukan secara periodik sejak usia dini. Mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. Memasukkan mitigasi pada kurikulum dimasukkan ke dalam Mata Pelajaran di sekolah diantaranya Mata Pelajaran Geografi dan IPS harus segera dilakukan.

*) Dian Diana, M.Pd. Guru IPS SMPN 1 Cihampelas KBB, Sekretaris Pengda FKGIPS Nasional KBB


           

            


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "KATA KUNCI, MITIGASI!"

  1. Perlu peningkatan pemahaman berbagai macam bencana dan cara menangani.

    ReplyDelete