LITERASI FILM: MENGENAL SENSOR MANDIRI

Oleh:

Enang Cuhendi




“Apapun yang diperbuat seseorang itu, hendaknya bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya”
Ki Hajar Dewantara



Film merupakan salah satu hiburan yang digemari masyarakat. Selain memberikan efek hiburan bagi penikmatnya, film juga memiliki efek edukatif dan psikologis yang sangat kuat. Film yang bagus dan mendidik bisa menggiring penontonnya untuk meniru hal yang baik, tetapi sebaliknya film yang negatif juga bisa mencetak karakter yang kurang bahkan tidak baik bagi penikmatnya.

Menurut Ahmad Yani Basuki, selaku ketua Lembaga Sensor Film RI , dalam kata pengantar di buku  Mengenal Sensor Mandiri, banyak hal yang belum diketahui masyarakat tentang film. Baik substansi, nilai penting maupun pengaruhnya bagi penonton serta peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, khususnya tentang kewajiban sensor film. Di era digital saat ini dengan mudahnya masyarakat mengakses berbagai informasi, termasuk film, kapan dan di mana saja pengaruh film akan semakin terasa di masyarakat.

Media streaming  yang berkembang saat ini memberikan kemudahan akses kepada masyarakat untuk menikmati film. Konten-konten yang disajikan tentunya sangat beragam dan bisa dipilih oleh penonton secara leluasa. Yang menjadi masalah konten-konten yang disajikan di film-film tersebut belum tentu sudah melalui sensor yang maksimal hingga layak ditonton oleh masyarakat.

Di sinilah pentingnya kemampuan masyarakat melakukan sensor secara mandiri sebagai langkah antisipasi seandainya banyak konten negatif  yang lolos dari lembaga sensor. Kita tidak bisa selalu mengandalkan lembaga sensor karena bagaimanapun sosok-sosok yang ada di lembaga tersebut adalah manusia yang memiliki keterbatasan walau sudah semaksimal mungkin melakukan proses sensor.
Apa itu sensor mandiri? Menurut Lembaga Sensor Film RI  (2018) sensor mandiri adalah prilaku sadar dalam memilah dan memilih konten. Dalam hal ini tentunya memilah-milah berbagai konten yang ada ke dalam berbagai katagori. Umumnya katagori yang diberikan untuk film terdiri dari katagori Semua Umur (SU), 13+,17 +,  dan 21+.  Konten yag dikelompokan dalam SU artinya film tersebut bisa ditonton untuk semua golongan usia dari mulai anak-anak sampai dewasa. 13+ artinya film tersebut hanya boleh ditonton oleh penonton yang sudah berusia 13 tahun ke atas. Sementara 17+ bisa diartikan bahwa konten yang ada dalam film tersebut hanya boleh ditonton oleh kelompok penonton ynag berusia di atas 17 tahun. Adapun film katagori 21+ hanya boleh ditonton usia di atas 21 tahun alias film dewasa.

Kemampuan melakukan sensor mandiri tentunya sangat diperlukan seiring sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi. Sebelum abad ke-20 alat komunikasi relatif masih sederhana. Memasuki awal abad ke-20 munculah alat komunikasi, seperti telepon rumah, radio, faks, televisi dan beragam alat yang lainnya. Seiring perkembangan zaman, memasuki era akhir abad ke-20 terjadi perubahan teknologi yang memberi dampak yang luas. Teknologi mekanik dan elektronik analog digantikan teknologi digital. Buku-buku, majalah, surat kabar ceak digantikan teknologi ebook, emagazine dan epaper. Mesin tik yang melegenda digantikan komputer jenis laptop yang lebih ringan, lebih mobile dan lebih canggih. Surat menyurat juga berganti dengan email.

Konvergensi media juga berkembang pesat di era milenial. Berbagai jenis media yang sebelumnya bersifat tunggal dan berbeda-beda mulai terintegrasi atau terkombinasi dalam satu media.  Contohnya telepon selular, pemutar musik, radio, TV, kalkulator, surat kabar dan buku, kamera, alat perekam saat ini terintegrasi dalam satu media yang disebut smartphone atau telepon pintar.

Perkembangan teknologi tersebut tentunya melahirkan perubahan dalam masyarakat. Khalayak dapat dengan dengan mudah berinteraksi dengan media massa. Khalayak pun dapat mengisi konten media massa dengan mandiri. Khalayak juga dapat mengontrol kapan, di mana, dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi.

Cara menonton film di era digital yang dapat menonton apa, kapan, di mana dan dengan siapa saja tentunya perlu penyikapan secara serius. Prinsip memilah dan memilih tontonan sangat perlu untuk dilakukan. Kita perlu memilah dan memilih film tentang apa, untuk usia berapa, bagaimana kualitas gambar, adegan, dialog dan suara dalam film serta adakah hikmah yang dapat diambil dari film tersebut.

Prinsip memilah dan memilih sangat penting dilakukan mengingat banyak hal yang perlu diwaspadai dalam film. Dalam UU No. 33 Tahun 2009 dan PP No. 18 Tahun 2014 sebuah film yang baik idealnya tidak menghina, melecehkan, menodai, menistakan dan bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, lambang atau simbol negara. Film pun tidak  mendorong seseorang melanggar hukum, tidak mendorong prilaku permisif yang dapat merusak ketahanan budaya bangsa dan tidak mendorong prilaku permisif. Film yang baik tentunya jangan menyentuh hal-hal sensitif terkait agama, perjudian, diskrimasi SARA, gender dan streotipe. Hindarkan juga sadisme dan ancaman yang mudah ditiru, NAPZA dan pornografi.  

Untuk mengatasi dampak negatif dari film yang diputar di keluarga, lakukan hal-hal antisipatif berupa sensor mandiri. Langkah-langkah yang bisa dilakukan sebagai bentuk sensor mandiri, antara lain dampingi selalu anak saat menonton. Jangan biarkan anak menonton film sendirian. Pilihkan bagi mereka film yang sesuai dengan usia anak. Film yang tidak sesuai usia apabila ditonton akan berdampak pada karakter anak. Lakukan pula pembatasan atas jam menonton, jangan biarkan mereka menonton terlalu lama. Yang paling utama ingatkan hal-hal baik yang patut ditiru dan penanaman nilai-nilai positif kepada anak-anak. Semoga dengan langkah sensor mandiri ini anak-anak dan keluarga kita akan terhindar dari dampak negatif dari film.

Lakukan sensor mandiri terhadap semua tontonan. Bukankah pendengaran, penglihatan dan hati nurani akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "LITERASI FILM: MENGENAL SENSOR MANDIRI"

Post a Comment