Mengenang Almarhum Pak Guru Budi, Dari Sampang Madura.



Oleh: Lilis Yuningsih


Peristiwa tragis itu sudah setahun lebih berselang, persisnya tanggal 2 Februari 2018. Saat itu ramai diberitakan media  sosial, bahwa guru muda Ahmad Budi Cahyono tewas mengenaskan ditangan siswanya sendiri.Guru honorer mata pelajaran seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura itu masih sangatlah muda. Almarhum masih terhitung pengantin baru, buah cintanya baru berusia 4 bulan dalam kandungan istrinya tercinta. Pak Guru Budi berpulang, sekitar pukul 21.40, di RS Dr Sutomo, Surabaya. Diagnosis dokter, mati batang otak.

Pak Guru Budi, berpulang dipukuli muridnya sendiri. Tragedi yang tak seharusnya terjadi. Hormat murid kepada guru tak seperti dulu. Sungkan siswa kepada guru tak lagi banyak ditiru. Negeri nanti seperti tak berjiwa lagi. Guru Budi meninggal karena matinya budi pekerti generasi. Innalillahi Wainnailaihi raaji'uun, selamat jalan pak guru Budi Insyaa Alloh syurga-Nya menantimu. Engkau gugur di medan bakti, kepergianmu membuat jutaan orang kehilangan dan lautan manusia menangis. Beruntung akhirnya Kemendikbud dan kebijakan dari bapak Menteri 
menyiapkan mekanisme khusus bagi putra atau  puteri almarhum Budi Cahyono untuk mendapatkan beasiswa pendidikan. Mekanisme tersebut akan diatur lebih lanjut, Pemerintah akan menjamin penuh pendidikan anak almarhum kelak ketika sudah sekolah.

Setelah kepergianmu, Pak Budi, lihatlah banyak orang baru menyadari bahwa masih banyak bapak, ibu guru di negeri kita tercinta ini yang belum mendapat perhatian yang layak. Walau dengan susah payah berhasil menamatkan kuliah dan kantongi gelar sarjana. Sebuah judul berita tentangmu mengatakan "Ternyata pa guru Budi hanya menerima honor Rp 600.000,- Perbulan." Sontak semua terkejut, "seorang guru, yang sarjana ?" , Honornya hanya sekian ?." Padahal faktanya bahkan bagi guru honor yang mengabdi di sekolah kecil , mereka mendapatkan yang lebih kecil lagi dari itu. Ya mereka yg mengabdi di sekolah yang mayoritas gurunya masih guru honor. Sedangkan peraturan penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sama rata. Sekolah negeri entah itu besar atau kecil dan gurunya mayoritas PNS ataukah non PNS hanya boleh menggunakan 15% dari dana BOS untuk membayar honorarium gurunya. Maka guru honor lah lagi yang terkena imbasnya, mereka harus cukup sabar menerima honor tiga bulan sekali dan itupun nominalnya jauh dibawah kepantasan dan kelayakan. Bagaimana tidak ? Honor hanya dibayar Rp 15.000/jam pelajaran. Sudah itu sistim penghitungan jumlah jamnya menggunakan sistim jam mati. Contoh bu guru fulani mendapat tugas mengajar dengan jjm (jumlah jam mengajar) 24 jam pelajaran/minggu.Maka bu Fulani mendapat honor 24 X Rp 15.000,- yaitu sejumlah Rp 360.000,-. Padahal faktanya bu Fulani mengajar 4 X 24 jam pelajaran = 96 jam pelajaran dalam 1 bulan . Jika bu Fulani ingin mendapat lebih misalnya Rp 450.000,- maka bu Fulani harus mengajar 30 jam pelajaran/minggu atau 120 jam pelajaran sebulan. Hal ini terjadi entah sejak kapan, pada sekolah-sekolah kecil yang harus cukup puas dengan hanya menerima dan mengelola dana BOS.

Wahai di manakah itu yang bernama KEADILAN ? bagi mereka GURU HONOR ? Kalau memang GURU SUDAH TIDAK DIBUTUHKAN LAGI mengapa UPI, UNJ, UNIVERSITAS NEGERI MALANG, dll masih saja melahirkan sarjana pendidikan ? Banyak sekolah hanya bisa membayar honor bagi guru honorer bahkan sangat tidak manusiawi. Karena tidak mempunyai cukup keberanian merangkul orangtua siswa sebagai mitra terdekatnya untuk mengajak berpartisipasi menanggung biaya operasional sekolah. Belum lagi kepala sekolah yang begitu ketakutan dicap melakukan pungli dan menyalahgunakan dana BOS. Lagi-lagi mengorbankan guru honor untuk dengan sangat terpaksa atau tidak, harus mau bersabar berbulan-bulan menunggu honornya dicairkan karena dana BOS habis untuk membeli buku dan biaya operasional lainnya yang lebih diprioritaskan. Kepala sekolah dengan wewenangnya mengatur skala prioritas pendanaan namun sayangnya masih banyak yang tidak peduli dan sama sekali tidak ada keberfihakan pada mitra kerja terdekatnya yang kebetulan berstatus Guru Honorer. Dengan kepergianmu pak Budi semoga ada perubahan nasib bagi guru-guru honor se Indonesia yang engkau tinggalkan. Kepergianmu sepertinya akan menjadi pelita penerang bagi rekan-rekanmu guru honor se Indonesia. Karena para petinggi dan pengambil kebijakan sepertinya akan menjadi lebih tau apa yang pak guru Budi dan teman-teman guru honor se Indonesia alami selama ini. Selamat jalan pak Budi, namamu akan abadi di hati kami. ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA'AAFIHII WA'FU ANHU. Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin. #SaveguruhonorIndonesia# #SaveduniapendidikanIndonesia#

Lilis Yuningsih, Kepala SMPN SATU ATAP 1 Lelea, Kecamatan Lelea Indramayu. Selain mengajar ,aktif sebagai penyiar radio swasta milik keluarga.

















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenang Almarhum Pak Guru Budi, Dari Sampang Madura."

Post a Comment