MUNAFIK

Oleh :
EDYAR RAHAYU MALIK


#1
Sungguh beruntung Pak Untung ini, sekarang sudah resmi jadi PNS golongan III-a. Sebagai seorang PNS, Pak Untung tak perlu khawatir lagi untuk memberi nafkah anak-istrinya dan keluarga besar istrinya, juga membayar sewa kontrakan setiap bulannya. Selain mengajar mapel Sejarah di SMA negeri dekat rumahnya, Pak Untung ini sekarang dipercaya juga sebagai bendahara BOS. Sebagai bendahara BOS, tentunya Pak Untung memegang banyak uang, tapi uang panas. Keberuntungan Pak Untung yang lain saat ini adalah dipercaya sebagai Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru.

Suatu sore, datanglah Pak Komar bertamu ke rumah Pak Untung. Maksud dan tujuan kedatangan Pak Komar yaitu ingin mendaftarkan anaknya ke SMA tempat Pak Untung mengajar. Pak Komar ini adalah seorang pegawai desa yang cukup terpandang di daerahnya.

“NEM anak saya, Marko, memang tidak terlalu besar. Akan tetapi, Marko itu anak baik. insyaAllah tidak akan melakukan hal-hal yang merepotkan Ibu/Bapak guru di sekolah. Ini sedikit ala kadarnya untuk Pak Untung,” ucap Pak Komar sambil menyodorkan amplop putih dengan garis pinggir merah-biru.
“Saya belum bisa menjamin anak Bapak diterima. Daftarkan saja sesuai prosedur, mudah-mudahan bisa masuk. Dan maaf, saya tidak bisa menerima ini.”
“Kenapa? Apa tidak cukup? Nanti saya tambah. Berapa?
“Maaf, saya tidak bisa menerima sogokan.”
“Sok suci! Saya tahu Pak Untung diterima PNS juga hasil sogokan. Zaman sekarang mana mungkin bisa jadi PNS kalau tanpa begituan. Sudah terima saja ini, tidak usah munafik!”
“Munafik?”

#2
Sudah sangat lama Pak Untung ingin memiliki rumah sendiri agar bisa terbebas dari sewa kontrakan rumah. Sudah hampir setahun sejak menerima gaji pertamanya sebagai PNS, Pak Untung rajin menabung dan gemar sedekah agar dapat membeli tanah dan membangun rumah sendiri.

Untung sekali malam itu sehabis pulang dari salat berjamaah Isya di masjid, Pak Komar mampir ke rumah Pak Untung untuk sekadar ngopi-ngopi dan ngobrol ngaler-ngidul. Pak Komar ini selain sebagai seorang pegawai desa juga memiliki profesi sampingan sebagai calo tanah dan rumah. Pak Komar menawarkan, ada salah seorang warga yang mau menjual rumahnya dengan cepat karena terlilit utang-piutang dengan lintah darat.

“Luas tanahnya 200 m2, bangunan 90 m2, cuma minta tujuh puluh juta. Lokasi strategis, Pak Untung. Dijamin untung. Ayo sikat, Pak!”
“Saya minat, tetapi saya tidak punya uang sebanyak itu, Pak Komar.”
“Bapak ‘kan pegang uang BOS.”
“Itu bukan uang saya, Pak.”
“Hmm... Bapak ‘kan sudah PNS. Pinjam saja ke bank. Bisa ‘kan?
“Ya, bisa saja. Tapi saya tidak mau kena utang bank, Pak Komar. Riba.’”
“Sudah lumrah PNS menyekolahkan SK-nya ke bank. Sudah biasa itu. Coba lihat Pak Hasan sekarang rumahnya sudah megah. Pak Basri sudah punya mobil. Tanpa pinjam uang ke bank, PNS tidak akan punya apa-apa. Itu namanya fasilitas. Jangan munafik, Pak Untung.”
“Munafik?”

#3
Istrinya Pak Untung, siapa namanya? Ada yang bisa menebak? Ya, Bu Untung. Bu Untung ini memiliki paras yang cantik. Sejak Pak Untung dipenjara di Lapas Sukamiskin karena terlilit kasus dana BOS di sekolahnya, Bu Untung harus berjuang seorang diri menanggung beban menjadi tulang punggung untuk menghidupi anak-anaknya dan juga keluarga besarnya. Kini setiap pagi Bu Untung bekerja sebagai buruh cuci harian di rumah Pak Komar.

Pak Komar ini selain sebagai seorang pegawai desa dan calo tanah juga dikenal sebagai seorang duda usia 41 tahun yang selalu merasa keren dan ganteng. Suatu pagi yang tidak terlalu cerah, ketika Bu Untung sedang bekerja sebagai buruh cuci, ketika Pak Komar selesai sarapan, dan ketika Marko anak semata wayang Pak Komar berangkat sekolah, rupanya Pak Komar tergoda oleh kemolekan Bu Untung. Mata genitnya mulai nakal memindai tubuh Bu Untung tanpa henti, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pak Komar mulai mendekati Bu Untung. Tangannya mulai...

“Jangan, Pak Komar, jangan!”
“Bu Untung, santai saja, tidak ada siapa-siapa di sini.”
“Tidak! Jangan!”
“Ayolah, saya sudah lama menduda. Dan kaupun pasti kesepian semenjak suamimu mendekam di Sukamiskin. Ayolah, sebentar saja. Sudah sejak lama aku mengagumimu.”
“Aaah... Tidak!”
“Ayolah, kita ini sama-sama membutuhkan. Mumpung sepi.  Jangan munafik!”
Dengan sekuat tenaga Bu Untung menendang salah satu bagian tubuh Pak Komar yang sangat berharga, lalu berkata, “Munafik? Apa itu munafik? Rajin ibadah tapi rajin maksiat, itu munafik! Di keramaian warga sok wibawa tapi di tempat sepi mulai liar seperti babi, itu munafik! Di luar kau seperti orang terhormat, nyatanya manusia bejat! Siapa yang munafik?”
Pak Komar masih mengerang kesakitan. Bu Untung terus saja berceloteh, “Biar orang-orang tahu siapa munafik sebenarnya, biar tahu malu, biar kukatakan pada orang sekampung sebejat apa dirimu sebenarnya!”
Takut menanggung malu, Pak Komar bangkit dan mengambil katana yang menempel di dinding. Dan....

#4
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga amal baiknya diterima di sisi Tuhan. Mohon maaf sedalam-dalamnya karena telah membuat akhir cerita seperti ini. Saya tidak ingin munafik. Tapi sungguh ini di luar dugaan. Bu Untung harus buntung di tangan Pak Komar dan Pa Untung kini hanya bisa mematung di Sukamiskin. Mereka berdua adalah korban kemunafikan zaman. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Kamar Perenungan, 28/042017

EDYAR RAHAYU MALIK
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Ciawi. Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kab. Bogor. Pegiat Musikalisasi Puisi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MUNAFIK"

Post a Comment