PRIT! & REZEKI PENONTON


Oleh : Ummi Mujahidah


Semenjak bergabung dengan grup Editing Guneman, kata 'prit' menjadi begitu akrab di mataku. Bagaimana tidak? Selesai pelatihan, dibuat grup WA. Salah seorang Suhu membuat aturan main, bila ada yang membuat kesalahan penulisan akan dikenai 'prit!'. Apakah salah dalam tata bahasa, ejaan, istilah, apalagi tanda baca.Lucunya, satu kalimat bahkan satu kata saja, bisa di-prit berulang kali. Adakalanya yang membantu memperbaiki pun kena prit juga.

Awalnya, aku dan beberapa teman, merasa ragu dan takut untuk memberi komentar. Cuma berani mengintip saja. Apalagi beberapa orang yang muncul, berkali-kali mendapat 'prit!'. Wah, makin deg-degan saja. Penasaran ingin ikut ngobrol sambil deg-degan juga takut di-prit!. Hehe, serasa jadi anak sekolah lagi.

Didorong oleh rasa ingin tahu dan minat belajar yang tinggi, aku memberanikan diri untuk muncul di grup. Kupikir, sering di-prit, tak apalah, toh akhirnya aku jadi tahu yang betulnya bagaimana?

Dari beberapa komentar yang muncul, ketahuanlah, ternyata banyak yang penasaran. Ingin muncul tapi takut di-prit. Apalagi kemudian, terbit aturan baru, bahwa "Jika dalam satu bulan tidak aktif, akan dikirim regu tembak!" Wah, efeknya dahsyat sekali. Setidaknya bagiku, hehe. Rasa takut di-prit, kalah oleh takut dikirim regu tembak, hahaha.

Rupanya ide Sang Suhu ini, brilian sekali. Secara tidak sadar, kami jadi lebih berhati-hati dalam menulis dan lebih waspada melihat tulisan teman-teman. Meminjam istilah beliau, kami 'dipaksa' untuk memantaskan diri menjadi penyunting. Bahkan, obrolan di WA, yang biasanya langsung hapus saja, khusus di grup ini, sebelum dihapus, dibaca dan dipelajari benar-benar. Sehingga, dari obrolan sambil lalu, atau sekedar ucapan selamat pagi pun, kami bisa belajar banyak.

Ada kepuasan tersendiri, ketika berhasil menemukan dan memperbaiki tulisan yang kena 'prit!'. Sebaliknya, sampai berkerut kening, ketika berkali-kali di-prit masih salah juga.

Membuat orang dewasa berubah, memang susah. Dalam menulis pun, seringkali kita sudah merasa nyaman dengan gaya kita walaupun salah. Akan tetapi untuk menjadi penyunting, mau tidak mau kita harus berubah. Bukan lagi gaya, kenyamanan atau suka-suka hati dalam menulis atau menyunting, tetapi harus sesuai dengan aturan main yang berlaku umum. Maka tak heran, perangkat, seperti: KBBI, PUEBI, Tesaurus dan Daftar Kata Baku pun menjadi wajib dimiliki dan diakrabi. Yang tak kalah pentingnya adalah, membiasakan diri menulis dengan baik dan benar dalam berbagai kesempatan. Hingga kita layak menjadi penyunting.

Ide brilian Sang Suhu dengan 'prit'-nya cocok sekali dan dampaknya langsung terasa. Terima kasih semua suhu menulis dari crew Guneman, semoga kami bisa segera mengikuti jejakmu.


Rezeki Penonton

Oleh: Ratna Muda Ningrum


Aku ternganga
menyaksikan pertandingan seru
saling menendang kata penuh makna

Aku terpaku
mengamati wasit
yang sigap meniup peluit kala pemain tak disiplin

Aku terpesona
memandang lapangan ditaburi ilmu yang menyejukkan para perangkai kata penuh arti

Aku terperanjat
menikmati lahan syukur bonus tiket yang bertabur dari Yang Maha Mengatur


(Refleksi kehadiranku di grup media sosial yang sangat menginspirasi, 13 Februari 2019)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PRIT! & REZEKI PENONTON"

Post a Comment