PUISI RUDI DAN IYUS YUSANDI



KEHAMPAAN SANG MALAM

Karya : Rudi *)


Pekatnya malam tak sepekat tinta ini
Dan kini hatiku terdiam membisu
Rasanya tak karuan menyelimuti batinku
Entah di mana kau bersembunyi

Mengapa sang malam yang berkuasa
Mengapa hitamnya malam yang bertahta
Suasana apa yang kini akan terjadi
Seakan tak ada setitik terang pun yang akan menghiasi

Diriku adalah kekosongan ruang yang hampa
Bayangan yang sekilas hadir
Seakan menoleh pun tak jelas apakah itu
Dan perasaan ikut serta memudar

Apakah ini hanya sekedar ilusi
Sebuah ilusi yang tidak akan bertepi
Seoalah di atas malam hanya ada malam
Dan perasaan pun selalu diikuti dengan kehampaan

*) Rudi, siswa kelas X TKJ SMKN 6 Garut



PASTI TANDUS BERGANTI

Oleh: Iyus Yusandi



Ranting kering kerontang
merindu daun-daun hijau
mata air kering
mendamba turun hujan dan embun
bergayut membalut dahaga
membahana dalam sukma merana nan gersang bahkan berdebu

Titik embun tiada turun, mengatur jarak awan nan jemu berpadu
pohon rindang menanti janji rintik hujan kan kembali
membasahi tanah tercinta
membasahi jiwa jiwa ini

Cahya mentari terasa panas menyengat
menyinari jiwa ini,
kan sabar menanti,
karena pasti kan berganti

Mendung mengalun jadi tumpuan harapan
sekedar menggantikan kemarau jadi butir-butir hujan
kan sabar diri menanti
karena pasti kemarau pergi berganti





Drs. Iyus Yusandi, M.Pd. Lahir di Garut, 25 April 1968. Tinggal di Karangpawitan, Kab. Garut. Guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Banyuresmi (1999-2005) dan di SMAN 18 Garut sejak 2006 sampai dengan sekarang. Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kab. Garut periode 2013-2017 dan periode 2017-2021, serta sebagai Sekretaris MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia Provinsi Jawa Barat. 

Subscribe to receive free email updates:

13 Responses to "PUISI RUDI DAN IYUS YUSANDI "

  1. Terima kasih telah menampilkan karya puisi hasil belajar menulis

    ReplyDelete
  2. Terima kasih telah menampilkan karya puisi hasil belajar menulis

    ReplyDelete
  3. Puisi yang realistis,digarap dengan apik mengajak pembaca untuk menyadari arti setitik air dalam kegersangan.

    ReplyDelete
  4. Puisi yang realistis, digarap dengan apik mengajak pembaca untuk menyadari arti setitik air dalam kegersangan. Selamat buat Pak Iyus Yusandi, kereeen

    ReplyDelete
  5. "Mengapa sang malam yang berkuasa Mengapa hitamnya malam yang bertahta Suasana apa yang kini akan terjadi Seakan tak ada setitik terang pun yang akan menghiasi"

    Bait ini seolah-olah mengungkapkan kegalauan yang kurasakan juga seperti suasana saat ini. Keren lah buat guru dan muridnya����

    ReplyDelete
  6. Waaaahhh hebbaatt payus ... mantaaappp

    ReplyDelete