Rumah Dijual



Karya : Iyus Yusandi


Pagi-pagi turun hujan. Hari terasa lebih dingin. Harmoni pagi senandungkan lirih menawarkan mimpi di pagi buta. Beberapa jam setelah hujan turun. Penghuni apartemen pun mememuhi koridor.
Nyonya Hadley menyusuri lorong gedung. Menaiki anak tangga, memuncak melalui orang-orang. sambil berjalan, ia pun bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

what’s wrong. Ada apa ini?” tanya Nyonya Hadley.

Seorang tetangga berkata, “itu pasangan muda yang baik itu bertengkar.sambil minum secangkir kopi hitam. Para tetangga berkumpul di sebuah koridor tak jauh dari rumah pasangan muda itu.

“O, Ya? Mereka belum lama menikah, kan?” tanya Nyonya Hadley. 

Di ruang tamu, terlihat tumpukan kain dan kristal-kristal itu sudah dikemas. Beberapa tas dan koper terkumpul di sudut ruangan. Nyonya Hadley pun melihat seorang perempuan muda sibuk mengumpulkan barang-barang itu. Nyonya Hadley pun menghampiri perempuan muda itu.

What are You doing? Apa yang sedang kamu lakukan, Ayu?” tanya Nyonya Hadley sambil menepuk pundak perempuan muda itu.

Saya akan pulang. Saya merasa tidak dibutuhkan di sini.” Kata Ayu, perempuan muda itu.

“Lalu mau ke mana, Ayu?” tanya Nyonya Hadley.

“Saya hanya mengatakan kepada diri sendiri. Saya akan pulang. Saya tidak akan berada di sini di musim semi. Saya untuk sementara akan kembali ke Bandung. Suatu hari nanti saya akan melihat mawar saya tumbuh. Saya akan tinggalkan tempat ini.” Kata Ayu.

Semua yang pernah diperbaiki, masih saja belum beres. Atap rumah masih ada yang bocor. Pintu masih menempel pada kusen tetapi kadang macet. Tambah Ayu.


Ayu berniat akan menjual rumah itu.

“Rumah ini akan saya dijual. Anda bisa membacanya bahwa rumah ini akan dijual. Rumah ini milikku. Jelas Ayu. “Besok lusa orang asinglah yang akan naik tangga ke ruang kumuh itu. Rumah yang diisi berjuta kenangan. Rumah dengan ruangan yang kita gunakan untuk berbagi.”

Rumah tangga yang harmonis dan bahagia adalah dambaan setiap pasangan. Lantas, seperti apakah kriteria rumah tangga yang ideal? Rumah tangga ideal memiliki dasar kepercayaan, kerja sama, dukungan, kejujuran, rasa aman, dan tanggung jawab.

Ayu teringat masa indah saat ia masih sekolah. Ayu sosok gadis yang sangat ceria. Ayu, seorang anak perempuan yang berusia Enam belas tahun sudah ditinggal Ayahnya meninggal dunia karena sakit komplikasi, nampaknya benar-benar menunjukan sifat yang jarang dimiliki anak-anak seusianya dan menjadi contoh bagi anak-anak yang lain. Kecerdasan dan kejujurannya, bisa menjadi pelipur lara dan kepercayaan bagi keluarga yang sedang dalam tekanan hidup yang ekonominya pas-pasan kesetia kawanannya, bisa menjadi sahabat bagi semua, termasuk pak Rahmat yang hanya menjadi tukang kebun di sekolahnya. Keberaniannya bisa menjadi penolong sesama. Ayu sosok yang mungil, kadang bawel. Ayu terbisa bermanja-manja di pangkuan ibunya selepas pulang sekolah. Ayu selalu mencurahkan semua yang dirasakan kepada ibunya.

“Saya tidak tahu, mengapa suamiku mengucapkan selamat tinggal. Mengapa ia membuat saya menangis.” Titik sebening kristal pun bergelayut di kedua sudut mata Ayu.

“Beritahu aku, mengapa ia membuat saya menangis. Saya mau bersimpuh, jika itu yang ia inginkan.” Suara Ayu lirih.

“Saya tidak pernah tahu, bahwa ia akan pergi meninggalkanku.”  Lanjut Ayu.

Ibunya pun mengelus-elus rambut Ayu yang panjang terurai ke bahu. Ibunya mengusapkan tetes air mata yang berderai di mata Ayu. Ibunya tak sanggup mengeluarkan kata-kata, hanya mengusap-usap anaknya.

“Ada sesuatu di matamu, jangan menundukkan kepalamu, dan tolong jangan menangis.” Ibunya memulai.

“Aku tahu perasaanmu, saya pernah merasakan sebelumnya, sesuatu yang berubah di dalam dirimu sayang, dan kamu tidak tahu,” lanjut ibunya.

“Janganlah kamu menangis, aku masih menyayangimu, Anakku. Ada surga di atasmu sayang.” Tambah ibunya.

“Iya, Bu. Saya hanya ingat bahwa suamiku menyukai lukisan yang dibelinya di sebuah toko di Spanyol. Waktu itu kami membelinya ketika turun hujan. Kami merunduk bersama, berlindung dari rintik hujan yang turun hari itu.” Ayu menjelaskan.

“Kami membeli lukisan itu. Memasangkan lukisan itu di ruang keluarga. Bercerita tentang apa pun di ruang keluarga. Cerita tentang suka maupun duka. Namun di malam itu, iya marah sekali. Hanya karena lukisan yang kami beli. Lukisan itu bingkainya patah karena usang. Eh, ia malah pergi meninggalkan saya.” Jelas Ayu.

“Saya tinggalkan rumah dengan berjuta kenangan itu. Saya tinggalkan Nyonya Hadley dan tetangga saya. Saya tinggalkan lorong di ruangan itu. Saya tinggalkan anak tangga menuju lorong ruangan itu.  Saya tulis sebuah pemberitahuan di dinding luar rumah. Pemberitahuan itu bertuliskan “House for Sale”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rumah Dijual"

Post a Comment