SAKITNYA AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUAKU


Oleh:

Mardah Alkaff


Pagi itu, awal masuk sekolah. Seperti biasa ibu guru Cinta masuk ke ruang kelasnya. 
"Selamat pagi semua, hari ini ibu tidak akan mengajar. Hanya ingin menanyakan kabar kalian selama libur akhir tahun." Tepuk sorak siswa kelas 8B dengan wajah bahagia.
"Apa yang kalian alami.  Positif atau negatif? Bahagia, sedih? Kalian menangis atau tertawa saat liburan?" Tanya guru yang sangat dicintai siswanya.
"Bahagia Bu, positif dong Bu." Suara Rhandi dari meja belakang
Seketika pandangan bu Cinta tertuju pada seorang siswa yang duduk di tengah dekat jendela. Isan, siswa laki-laki yang ceria, bawel, namun sering termenung  sendiri di bangkunya. 
Ibu Cinta pun terdiam. Ingatannya melayang ke waktu seminggu yang lalu ketika ayah Isan  datang ke rumah dengan istri barunya untuk menanyakan kabar anaknya. Namun tanpa sepengetahuan Isan.
Bu Cinta memandang wajah Isan dengan iba. Namun guru IPA itu cepat mengalihkan pada seisi kelas."Okey... Okey... semuanya, hari ini ibu hanya menanyakan tentang karya wisata yang akan kita lakukan bulan depan. Siapa yang sudah bayar DP?" Hampir semua siswa mengangkat tangan. Namun ada lima orang yang diam tak bersuara. Hatinya sedih,harapannya ingin semua siswanya bisa karyawisata.
"Kasihan, anak-anakku yang tidak bisa ikut. Pasti orang tuanya tidak mampu membayar 450 ribu." Bu Cinta hanya mampu berbisik dalam hatinya
Seperti biasa, Bu Cinta melanjutkan dengan cerita santai dan memotivasi. Muridnya sangat bahagia karena gurunya mengagap mereka anak-anak yang baik dan bakal sukses di masa depan. Walau kelas 8B selalu dianggap siswa nakal dan malas oleh guru lain.
"Waktu habis, ayo panggil guru Bahasa Indonesia, ibu akan istirahat. Isan ikut ibu yuk, bentar kok!" Wajah Isan kaget dan pucat. Namun dengan cepat wali kelas itu menggandeng Ihsan seperti memperlakukan anaknya.
" Ihsan, ibu mau ngobrol sama kamu, bentar, boleh gak?" 
"Boleh dong bu” Jawan Isan.
Mata dan wajah Isan tampak berbinar. Karena hampir setiap siswa yang diajak ngobrol Bu Cinta pasti bahagia. Ia selalu menganggap  siswa sebagai sahabatnya.
Ibu guru berkerudung merah dan berbaju hitam itu diikuti murid menuju ruang guru.
"Silakan kamu duduk di depan meja ibu ya!" 
"Siap Bu."
"Ibu hanya ingin ngobrol dikit sama kamu, boleh dong!"
"Ya, Bu," Jawab Isan pelan.
"Kamu tinggal sama siapa, Isan?"
"Aku tinggal dengan mamah, Bu." Muka Isan nampak memerah.
"Ayah kamu di mana?"
Sejenak Isan terdiam dan membisu. Suaranya hampir tak terdengar.
"Ayah aku sudah menikah lagi."
"Kamu bahagia ?"
"Ya, aku bahagia tinggal sama mamah."
"Apakah mamah sayang kamu?"
"Ya ..." jawab Isan lirih.
 "Apakah ayah sayang kamu?"
" Sayang dong bu," jawaban Isan datar.
Ibu Cinta, masih melanjutkan dengan beberapa pertanyaan. Wajahnya lebih memfokuskan pada bibir remaja 14 tahun itu.
"Isan, pandangi ibu, apakah kamu bahagia dengan keadaan orang tuamu?"
Isan kembali tak bersuara. Bibirnya yang agak hitam bekas rokok tak bergerak. Lalu kepalanya merunduk memandangi meja.
"Ibu hanya ingin tahu, kamu bahagia tinggal dengan siapa?" tanya bu Cinta perlahan.
"Ya, dengan keduanya aku bahagia Bu."Kembali jawaban Isan datar.
"Ya, bagus dong, begitu. Kamu harus bersyukur punya mamah dua dan punya ayah dua. Dan semuanya sayang kamu." Suara Bu Cinta lebih keras memberi semangat. Senyum kebahagian pun nampak di wajah Isan.
 Sekarang pertanyaan ibu terakhir.
"Isan, kembali liat ibu ya!  Coba kamu ceritakan kejadian yang paling membahagiakan kamu!"
"Banyak bu." 
"Ehm ... Nah, sekarang coba kamu ceritakan kejadian  yang paling tidak kamu sukai, yang paling membuatmu tidak bahagia!" pinta Bu Cinta sambil menatap remaja itu.
Tiba-tiba  Bu Cinta kanget melihat wajah Isan. Karena kedua mata muridnya memerah.  Beberapa saat kemudian keluar butiran air.  Makin lama makin mengalir. Suara isak pun terdengar. Agak keras suaranya sampai guru di belakang meja Bu Cinta mendengar.
Air mata yang mengalir deras sesekali diusap dengan kedua tangan, tapi tak mau berhenti.
"Kenapa Isan, pertanyaan ibu salah ya? Apakah ibu telah menyakiti kamu?" wali kelas itu ikut gugup. Kepala Isan telungkup di atas bangku. Suara tangisan belum berhenti.
Bu Cinta hanya memandangi siswanya. 
"Ya, kalau kamu mau menangis, nangislah terus Isan. Pasti ada kejadian yang sangat menyakitkanmu."
Beberapa menit kemudian, wajah Isan mulai diangkat.
"Kenapa Isan?" Tanya Bu Cinta dengan penuh penasaran.
"Sebenarnya aku ... aku ... Gak mau mamah dan ayah berpisah, Bu.  Aku ingin mereka bersama. Aku gak mau itu terjadi. Semua itu sangat menyakitkan. Sakit sekali. Kedua orang yang sangat aku cintai harus bercerai...."
Suara Isan terbata-bata sambil terus mengalirkan butiran air mata.
"Yaaaahhhh.... " Bu Cinta menghela nafas panjang. Wajahnya pun tampak lemas dan iba.
"Kamu tabah dan kuat ya Isan. Kamu anak pintar dan cerdas. Apapun keadaan orang tuamu, kamu harus jadi anak yang kuat. Kamu harus sukses! Karena ibu pun sayang kamu Isan." Demikian kalimat terakhir yang bisa Bu Cinta sampaikan.
Ia mempersilakan Isan pergi. Sambil masih dalam posisi duduk ingatannya melayang ke Isan-Isan yang lainnya yang banyak ditemukan di sekolah itu.
“Perceraian orang tua, memang telah menyakiti anak. I love you,Isan! Kamu harus jadi orang yang berhasil, aamiin!” pinta Bu Cinta dalam hati.



Padalarang, 8 Februari 2019.

*) Mardiah Alkaff, adalah guru IPA pada SMPN 3 Padalarang, KBB. Aktif dalam berbagai kegiatan, di antaranya sebagai guru inspiratif, penggerak TBM Stone Garden dan redaktur majalah pendidikan Guneman.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAKITNYA AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUAKU"

Post a Comment