SERUPA TAPI TAK SAMA


(Oleh: Restia Siti Rahayu, IX C SMPN 2 Kadungora-Garut)



Di sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah sebuah keluarga musang yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua putri musang bernama Lulu dan Lili. Mereka hidup berkecukupan tak kurang makanan. Setiap hari ayah dan ibu mereka pergi ke sungai untuk mencari ikan dan mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan kedua putri mereka, Lili sang kakak hanya bermain main saja di sekitar rumahnya. Berbeda dengan sang adik, Lulu  rajin membereskan rumah dan membantu ibu. Walaupun diberi kehidupan  dan kasih sayang  sama, mereka memiliki sifat yang berbeda. Lili anak yang malas dan Lulu anak yang rajin.
Semakin hari sifat Lili semakin menjengkelkan sang ibu. Bagaimana sang ibu tidak kesal, pekerjaannya hanya makan, tidur dan main saja. Ibunya selalu membanding-bandingkannya dengan Lulu yang rajin. Mendengar hal tersebut Lili kesal karena selalu dibandingkan dengan Lulu. Akhirnya Lili membentak sang ibu dengan nada tinggi.
"Ibu hanya sayang Lulu! Ya sudah aku pergi saja. Semuanya tidak pernah menyayangiku,” kata Lili.
Sang ibu tidak menyangka salah satu putrinya dapat berkata  seperti itu padanya. Hati sang ibu sangat sedih dan kecewa.
Dengan hati kesal lili meninggalkan rumah orang tuanya, pergi ditelan hutan belantara, jauh sekali. Tanpa ia sadari hari semakin larut, perutnya sangat lapar karena tidak sempat makan di rumah. Ia tidak tahu di mana sekarang berada. Lili sangat ketakutan, terpaksa memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon pinus yang sangat besar.
Tiba tiba Lili terkejut. Muncullah kilatan cahaya, ternyata Si Lentera hutan, kunang kunang jantan.
"Sedang apa Anda di sini, wahai anak kecil?” tanya sang kunang kunang besar tadi.
"Emm ak ak aku sedang pergi dari rumah, lalu aku te ter tersesat di sini. Aku memutuskan untuk beristirahat disini. Jangan sakiti aku ... aku mohon!" kata Lili sambil gugup karena ketakutan.
"Mengapa kaupergi dari rumahmu?" kunang kunang itu bertanya kembali kepada Lili.
Lili menceritakan semua kekesalannya kepada kunang kunang tersebut, bahwa ibunya hanya menyayangi adiknya saja. Padahal mereka sama-sama putrinya.
Mendengar hal tersebut, kunang kunang tersenyum.
"Wahai anak kecil, apakah kamu tahu mengapa hal itu terjadi? Coba kamu bayangkan jika kaumempunyai dua botol plastik yang kualitasnya sama, serta ukurannya sama pula. Namun jika kauisi kedua botol tersebut dengan air yang berbeda, botol yang satu isinya air mineral dan yang satu lagi diisi dengan madu. Apakah kedua botol tersebut harganya sama? Tentu berbeda, kan?” kunang kunang berhenti sejenak sambil menatap wajah Lili. Melihat Lili terdiam, lau ia melanjutkan kembali bicaranya.
“Botol manakah yang yang lebih mahal harganya?” tanya kunang-kunang.
“Botol madu." jawab Lili. .
“Benar, madu lebih mahal harganya. Lebih bagus kualitas suatu barang, lebih mahal harganya. Banyak orang menginginkannya, walau pun mahal tetap saja mereka membelinya,” tutur kunang-kunang.
Lili masih saja diam, rupanya ia merenungkan kata-kata sang kunang kunang. Ia masih belum mengerti apa maksud kunang-kunang tersebut.
"Apakah  Anda sudah mengerti maksudku? Coba bayangkan, jika kedua botol yang sama itu diibaratkan kamu dan adikmu. Kalian sama-sama putri dari ibumu, tetapi kalian memiliki sifat, hati dan sikap yang berbeda. Jadi semua orang diciptakan oleh tuhan sama, yaitu dari tanah. Namun kualitasnya masing-masing berbeda. Apa yang membedakannya? Tubuh kita, secara lahiriah ibarat botol tersebut. Sedangkan isinya adalah ahlaqullkarimah, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Jika ahlak kepribadiannya bagus, maka orang akan memperlakukan kita lebih hormat lagi. Benar tidak?” jelas kunang kunang sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata tersebut Lili hanya terdiam. Tak  lama, Lili terlihat mengusap air matanya.  Matahari makin tenggelam, tandanya hari mulai berganti malam. Ia teringat pada ibu dan bapaknya.
Akhirnya Lili menyadari kesalahannya. Kemudian ia memutuskan untuk pulang kembali kerumahnnya menemui sang ibu. Hatinya makin merasa bersalah. Ia akan  meminta maaf kepada keluarganya.
Teman-teman, Tuhan menciptakan kita sama,  dengan kekurangan dan kelebihan. Hanya sikap dan perilaku kitalah yang menentukan seberapa tinggi derajat kita dimata Sang Pencipta.


PENYUNTING: SUMYATI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SERUPA TAPI TAK SAMA"

Post a Comment