TAK PERNAH ADA


Nakhwa Nazhifa

(Siswa SMPN 11 Kota Bandung)



Gadis berponi itu terus saja menggerutu sambil mengepalkan tangannya erat. Matanya melirik ke segala arah, seakan sedang mencari seseorang. Dia sudah berdiri di tempat itu selama lebih dari satu jam. Bahkan dia enggan untuk berteduh walaupun keadaan sedang gerimis. Tampaknya, ia sedang gelisah.

Tiba-tiba saja senyuman mengembang di wajahnya. Dari raut wajah yang murung dan sedikit pucat, sekarang berubah menjadi raut wajah gembira dan penuh semangat, karena orang yang sedari tadi dia tunggu akhirnya datang juga.

”Aduh, maaf, ya, Alena. Tadi di jalan macet, jadi Kakak jemput kamunya telat,” ucap seorang wanita muda bertubuh jangkung dan ramping kepada gadis berponi itu, yang diketahui bernama Alena.

Karena gerimisnya semakin membesar, Alena bergegas masuk ke dalam mobil milik wanita tadi. Wanita itu adalah kakak Alena. Namanya Alyssa. Mereka berdua memang biasa menggunakan mobil jika akan bepergian ke mana-mana.

Di dalam mobil suasananya hening, tak ada yang berbicara sedikit pun. Hanya suara klakson mobil dan rintikan hujanlah yang terdengar. Kak Alyssa fokus menyetir, sedangkan Alena  fokus pada pikirannya sendiri. Lama-kelamaan Alena mulai merasa bosan, jadi dia memutuskan untuk mengajak Sang Kakak mengobrol dengannya.

“Besok hari pembagian rapot, Kakak bisa datang, gak?” tanya Alena sambil memberikan sebuah kertas putih pada Kak Alyssa.

Namun bukannya menjawab, Kak Alyssa hanya mengangguk pelan dan tetap fokus pada jalanan. Alena terus mencari topik-topik pembicaraan yang menurutnya menarik, tapi tetap saja Kak Alyssa cuek dan menanggapi seadanya. Tentu saja hal itu membuat Alena Kesal. Untuk mengusir rasa bosannya, Alena mengeluarkan sebuah benda pipih berbentuk kotak dari tasnya, lalu ia mendengarkan lagu menggunakan earphone miliknya.

Tak perlu waktu lama, Alena dan Kak Alyssa akhirnya sampai di rumah mereka. Kak Alyssa langsung memberikan kunci rumahnya kepada Alena.

“Kamu hati-hati di rumah, ya. Kakak mau jemput Dio dulu,” ucap Kak Alyssa dari dalam mobil kesayangannya itu.

Setelah pamit, Kak Alyssa kembali mengendarai mobilnya menuju suatu tempat untuk menjemput Dio, anaknya. Alena dan Alyssa memang terpaut usia sangat jauh. Mungkin sekitar 12 Tahun.

“Krieetttt” Suara pintu terbuka yang menandakan bahwa Alena sudah masuk ke rumahnya. Satu kata yang terlintas di pikiran Alena saat ini adalah, sepi.

Di sekolah, Alena adalah anak yang murah senyum, pintar, dan juga periang. Oleh karena itu, dia memiliki banyak teman. Tapi berbeda ketika dia berada di rumah. Banyak orang bilang, “Orang yang paling banyak tertawa biasanya adalah orang yang paling kesepian.” Mungkin sebagian orang tidak setuju, tapi bagi Alena itu memang benar. Karena itulah yang sedang dirasakannya.

Alena hanya tinggal berdua bersama Kak Alyssa. Maksudnya, bertiga. Kadang Alena suka lupa kalau Kak Alyssa sudah punya anak. Kak Alyssa selalu sibuk mengurus Dio. Bisa dibilang, pikiran Kak Alyssa saat ini hanya ada Dio, Dio, dan juga Dio. Satu hal yang berubah dari hidupnya semenjak orang tuanya sudah tidak ada adalah perhatian Kak Alyssa kepadanya yang mulai berkurang.

 Alena cemburu pada Dio yang selalu diperhatikan oleh kakaknya. Itulah yang menyebabkan Alena merasa kesepian, mungkin lebih tepatnya kurang perhatian. Sebenarnya Alena memiliki asisten rumah tangga di rumahnya, namanya Bi Inah. Sayangnya, Bi Inah tidak selalu ada di rumahnya. Setiap jam lima sore, setelah menyelesaikan semua pekerjaanya, dia akan langsung pulang.

Alena menatap luar rumah dari jendela kamarnya. Segelas coklat panas dan suasana mendung disertai udara yang dingin membuat Alena mengantuk. Tanpa sadar, Alena tertidur.

“Selamat ulang tahun!”

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya!”

“Awas!”

“AAAAAAA ….”

“BRAK!”

Alena tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Keringat bercucuran di sekujur tubuh Alena. Napasnya terengah-engah dan mukanya pucat seperti mayat. 

“Astagfirullahaladzim, untung tadi cuma mimpi,” batin Alena.

Ia langsung meminum segelas air putih untuk menenangkan pikirannya. Matanya melirik sebuah boneka beruang  yang tepat berada di dalam lemari kaca milik Alena.

“Siapa, sih, yang nyimpen boneka di situ?” tanya Alena pada dirinya sendiri. Mukanya terlihat kesal.
Berbeda dengan anak perempuan lainnya, Alena tidak terlalu suka pada boneka. Entah mengapa, tapi Alena sangat benci semua yang berhubungan dengan boneka. Baginya, boneka memiliki sebuah kenangan buruk yang sulit ia lupakan.

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam, tapi Alena masih belum bisa tidur. Alena sudah mencoba berbagai cara agar bisa tertidur, namun  hasilnya nihil. Ia tetap tidak bisa tidur.

Saat ini Alena sedang berjalan menuju dapur. Kata teman-temannya, minum susu hangat adalah cara paling ampuh agar cepat mengantuk. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang berbicara. Suara itu berasal dari kamar Kak Alyssa. Alena langsung mengambil sapu yang ada di dekatnya untuk berjaga-jaga jika orang tersebut adalah penjahat.

Alena berjalan mengendap-endap ke kamar Kak Alyssa, lalu mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka itu.

“Syukurlah, itu ternyata suara Kak Alyssa,” ucap Alena sambil mengelus-elus dadanya.

Alena merasa lega sekaligus heran karena tak biasanya Kak Alyssa masih terbangun di larut malam seperti ini. Alena pun memberanikan dirinya untuk bertanya pada Kak Alyssa.

“Kakak lagi apa, kok, belum tidur?” tanya Alena.

Kak Alyssa yang mendengarnya sedikit terkejut, mungkin dia pikir Alena sudah tertidur.

“Eh, Alena, Kakak habis minta izin cuti sehari ke kantor. Oh, iya, yang mengambil rapot kamu ke sekolah, Bi Inah aja, ya, soalnya Kakak harus ngambil rapot Dio,” jawab Kak Alyssa.

Alena hanya bisa tersenyum. Sepertinya Dio telah menggantikan posisi Alena di hati Kak Alyssa. Padahal dulu mereka berdua sangat dekat. Ingin sekali Alena menyingkirkan Dio dari hidupnya.
….
  “KRIIING!” suara jam weker Alena berbunyi.

Alena mau tak mau harus bangun dan segera mandi karena hari ini adalah hari pembagian rapot.
“Pagi semua!” sapa Alena.

Hening, tak ada seorang pun yang menjawab. Alena lagi-lagi hanya bisa tersenyum miris. Sebenarnya Alena tahu hal itu akan terjadi, tapi Alena tidak peduli dan akan terus melakukannya setiap pagi.

Satu per satu siswa-siswi bersama orang tuanya mulai keluar dari ruang kelas itu. Ada yang terlihat senang dan ada yang terlihat sedih. Bahkan yang biasa saja juga ada, dan Alena merupakan salah satunya. Meskipun dia mendapat ranking satu di kelasnya, tapi entah mengapa Alena tidak begitu senang. Tapi dia juga tidak sedih. Alena hanya iri kepada murid lain yang datang ke sekolah bersama orang tuanya. Alena juga ingin seperti mereka. Alena ingat, dulu jika dia mendapat nilai bagus, orang tuanya akan memberi Alena sebuah hadiah. Tapi itu dulu, sebelum keadaannya berubah. Semua ini gara-gara Dio.

Sesampainya di rumah, ia melihat Kak Alyssa sedang duduk di teras. Saat Alena akan memasuki rumah, tiba-tiba Kak Alyssa menahan tangannya. Alena memasang raut wajah bingung seakan ingin segera mendapat penjelasan dari Kak Alyssa.

“Ada apa, ya, Kak?” tanya Alena.

“Mulai besok, kita tinggal di rumah lama, ya,” jawab Kak Alyssa.

Kalimat itu sukses membuat Alena terkejut. Bagaikan seseorang yang tersambar petir. Alena tak tahu apakah dia harus merasa senang atau harus merasa sedih. Satu hal yang pasti, Alena sangat merindukan kenangan-kenangan indah bersama orang tuanya saat berada di rumah tersebut.

….
Hari ini adalah hari yang Alena tunggu-tunggu. Ya, hari ini Alena akan pindah ke rumah lamanya. Setelah memasukkan semua koper ke dalam mobil, Alena bersama Kak Alyssa dan juga Dio langsung berangkat agar tidak terjebak macet.

Alena berdiri sambil menatap sebuah rumah tua yang tampaknya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya itu. Bayangkan saja, debu dan rumput liar ada di mana-mana. Cat rumah yang sudah memudar, serta pagar besi yang sudah berkarat. Alena menyusuri setiap ruangan yang ada pada rumah ini, rumah lamanya.

Satu per satu memori masa kecilnya mulai bermunculan dalam ingatan Alena. Mulai dari yang manis hingga yang pahit sekali pun. Alena ingat ketika orang tuanya mengajari Alena berjalan, memarahinya saat Alena hujan-hujanan, dan sebuah boneka beruang? Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan tubuhnya bergetar hebat. Seketika seluruh pandangannya menjadi gelap.

Kejadian itu, kejadian yang mengubah hidupnya. Kejadian di mana harusnya mereka bahagia, tapi malah berakhir tragis. Kejadian yang meninggalkan bekas luka yang sulit Alena lupakan sampai sekarang. Oh, Tuhan, mengapa kejadian itu harus terjadi?

“Alena, kamu udah sadar?” tanya Kak Alyssa saat melihat adiknya itu terbangun.

Alena yang masih dalam keadaan lemas itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Bagus, deh, kalo gitu, jangan lupa minum obatnya, ya. Kakak mau ke warung dulu. Sekalian kamu tolong jagain Dio, ya,” ucap Kak Alyssa.

“Sebenarnya, siapa yang harusnya minum obat di sini?” batin Alena saat kakaknya pergi.

Yang benar saja? Alena baru bangun, tapi Kak Alyssa malah pergi ke warung, dan sekarang ia harus seruangan dengan Dio dan menjaganya? Konyol sekali.

“Apa, sih, bagusnya kamu di mata Kak Alyssa? Denger aja gak bisa, apalagi ngomong,” ucap Alena pada Dio.

Namun Dio hanya diam dan tak menjawab perkataan Alena.

“Oh, iya lupa. Kamu kan bukan manusi ----“

“PLAK.” Belum sempat Alena menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba ada yang menampar pipinya. Ternyata itu Kak Alyssa.

“Apa-apaan kamu? Kakak tahu kamu cemburu pada Dio, tapi jangan sampai mengejek dia seperti itu, dong!” amuk Kak Alyssa.

Alena yang memang sudah tak tahan lagi akhirnya berniat untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Kak Alyssa.

“Kak, sadar, Kak, Dio itu cuma boneka. Dio yang asli udah enggak ada!” ucap Alena sedikit berteriak.

“Mana mungkin? Jangan mengada-ngada kamu, mana buktinya?” jawab Kak Alyssa tak percaya. Kemudian Alena langsung menarik tangan Kak Alyssa menuju suatu tempat.

Kini Alena dan Kak Alyssa sedang berdiri di sebelah rel kereta api. Kak Alyssa yang melihat rel kereta itu tiba-tiba merasa pusing dan semua kenangan dalam ingatannya mulai bermunculan, termasuk kejadian di rel kereta api tersebut.

5 tahun yang lalu ....

“Selamat ulang tahun!” teriak Alena kepada Dio yang saat itu sedang berulang tahun.

“Ini ada hadiah boneka buat kamu,” ucap Kak Alyssa sambil memberikan sebuah boneka beruang pada Dio.

“Makasih semuanya!” balas Dio senang.

Sekarang mereka sedang berada di sebuah taman untuk merayakan ulang tahun Dio. Namun karena cuaca pada hari itu sedang tidak bagus, jadi mereka memutuskan untuk pulang lebih cepat. Di perjalanan pulang, boneka milik Dio terjatuh di tengah rel kereta api. Dio yang menyadarinya langsung berlari ke rel itu untuk mengambil boneka miliknya. Tanpa sepengetahuan Dio, ternyata ada sebuah kereta melaju cepat menuju arah tempat Dio berdiri.

“AAAAA.”

“BRAAK!” Terlihat darah bercucuran di mana-mana.

Kak Alyssa dan Alena yang melihat kejadian itu membeku seketika. Dio, tertabrak!

Sekarang Kak Alyssa ingat semuanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Alena yang sedari tadi menahan tangisnya itu akhirnya ikut menangis juga.

“Grep” Alena langsung memeluk Kak Alyssa untuk menenangkan perasaanya.

“Kak Alyssa jangan sedih lagi, kan masih ada Alena di sini,” ucap Alena pada Kak Alyssa agar tetap sabar dan ikhlas menerima kenyataan.

Bohong jika Alena tidak sedih. Karena di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Alena masih belum merelakan kepergian Dio. Andai waktu bisa diulang. Tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur. (Penyunting: Nurlaela Siti Mujahidah)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TAK PERNAH ADA"

Post a Comment