TENTANG MARAH


Oleh: Edyar RM


Suatu hari di kantin sekolah saat jam istirahat. Ada seorang siswi duduk sendirian. Terlihat tidak nyaman. Bibir bawahnya menelan bibir atasnya. Evi namanya. Siswi kelas XI-2 yang gemar bermain voli. Kuhampiri ia untuk membetulkan posisi bibirnya.
“Kenapa, Neng, kok mukanya cemberut begitu?”
Ia tidak langsung menjawab. Bola matanya tak bisa diam menatap kiri-kanan. Pertanda ia seorang tipe pembelajar kinestetik. Setelah kutanya lagi, akhirnya ia buka suara, “Sebel, Pak, sama walikelas, tiap masuk kelas kerjanya marah-marah terus! Guru-guru yang lain juga sering marah-marah di kelas. Bete!”
“Ya berarti anak-anak kelas kamu memang nyebelin, nakal-nakal. Jadi wajar dong kalau guru-guru dan walikelas kamu marah-marah.”
“Iya sih, Pak. Tapi Bapak tidak pernah marah-marah kalau lagi ngajar di kelas? Pak, kenapa sih Bapak tidak pernah marah?”
Kaget juga mendengar pertanyaan itu. Apa benar saya tidak pernah marah. “Hehehe... Orang hebat itu ialah orang yang kuat menahan marah.”
“Oh, jadi Bapak orang hebat, ya?”
Sepertinya saya salah ucap. Ah, sepertinya ini saat yang tepat untuk memberinya sedikit nasihat. “Hahaha... Bergurulah pada orang paling hebat sedunia, Nabi Muhammad SAW ketika setiap kali akan memasuki masjid diludahi oleh seorang kafir Quraisy, Beliau tidak marah. Bergurulah kepada Nabi Muhammad SAW ketika dilempari batu oleh penduduk Thaif, bahkan sampai berdarah pelipis Rasulullah. Datanglah Jibril menawarkan bantuan jika Rasul berkenan Jibril bisa saja melemparkan Gunung Uhud kepada penduduk Thaif  agar binasa. Akan tetapi Rasul menolak dan berkata, ‘Jangan, mereka belum tahu indahnya Islam!’, subhanallah... Ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada Rasulullah, maka Rasul SAW menjawab, ‘Jangan marah... jangan marah... jangan marah!’”
Wajahnya mulai ceria. Matanya menatapku dengan antusias. Mulutnya sedikit terbuka. “Amazing, Pak! Harusnya Bapak ngomongnya di depan guru-guru, teman-teman Bapak yang suka marah-marah itu!”
“Hahaha...! Marah itu menandakan dua hal. Pertama, perkataan seorang pemarah atau orang yang sedang marah itu semuanya bohong. Apapun yang dikatakan oleh orang yang sedang marah-marah itu pasti bohong. Tidak percaya? Kalau suatu ketika kamu bertengkar dengan sang pacar, lalu pacarmu mengatakan, ‘Ya udah, kita putus!’, itu pasti bohong. Dua jam kemudian pasti datang lagi sambil berkata, ‘Yang, maaf ya, tadi aku emosi, baikan lagi, yuk!’. Atau kalau orangtuamu seorang pemarah, ketika kamu dimarah-marahi oleh orangtuamu karena kesalahanmu, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, sampai keluar kata-kata dari orangtuamu, ‘Pergi kamu dari rumah ini!’, tidak usah dimasukkan ke dalam hati, itu sudah pasti bohong, itu pasti hanya emosi sesaat. Maka ketika kamu menemukan ada seorang guru yang marah-marah di depan kelasmu, tidak usah baper apalagi sakit hati, kata-katanya itu bohong. Aslinya, gurumu itu sangat sayang kepada siswa-siswanya, termasuk kamu. Makanya, Bapak tidak suka marah karena marah itu bohong dan bohong itu dosa. Hehehe....”
Benar-benar penjelasan yang detail, panjang-lebar dan cukup melelahkan, sampai mengganggu ritme napasku. Namun, ia terlihat sangat antusias mendengarkan setiap kata yang dihasilkan oleh pita suaraku. “Oh, jadi seperti itu ya, Pak. Terus yang kedua apa?”
Semakin ia penasaran, semakin semangat pula aku memberinya penjelasan. “Hmm, kedua, orang marah itu menandakan kurang ilmu. Kalau orang yang berilmu itu pasti tidak akan mudah marah, bahkan mungkin tidak akan pernah marah-marah.”
“Hah?”
“Tidak percaya? Nih ya, contoh, ada seorang ibu yang berkali-kali menyuruh anaknya yang masih kecil, ‘Nak, cepetan mandinya jangan lama-lama!’. tetapi tetap saja si anak asyik main air. Makin lama suara si ibu makin keras melengking, ‘Ayo cepetan mandinya!’, tetapi si anak seolah tidak mendengar. Akhirnya si anak habis dimarah-marahi si ibu. Kenapa bisa seperti itu? Itu karena si ibu kurang ilmu, tidak paham ilmu parenting.”
“Hmm,” gumamnya sambil mengangguk-angguk tanda setuju.
“Maka ketika kamu menemukan ada seorang guru yang marah-marah di depan kelasmu, tidak usah jadi benci,” lanjutku, “Malah seharusnya kamu kasihan pada gurumu itu. Gurumu itu kehabisan ilmu, terus akhirnya frustasi. Ia tidak tahu lagi caranya menghadapi kenakalan anak-anak kelasmu itu. Kasihan, kan?”
Wajahnya melongo sambil berusaha mengiyakan kata-kataku. “Iya, juga ya, Pak! Ibuku juga di rumah sering marah-marah. Seharusnya aku jangan melawan ya, Pak... Harusnya aku merasa kasihan sama ibu yang sebenarnya sayang sama aku tapi ia kurang ilmu untuk menyampaikan rasa sayangnya padaku. Iya kan, Pak?”
“Hahaha... pinter kamu, Vi! Ya harus merasa kasihan. Makanya kamu harus patuh sama ibumu, jangan melakukan hal-hal yang bisa membuat marah ibumu. Jangan betah jadi penyebab kemarahan orang lain. Kasihan ibumu, juga guru-gurumu.“
Bel sekolah berbunyi dua kali. Pertanda waktu istirahat telah habis. Kami harus segera bergegas masuk kelas. Aku belum sempat menyantap jajanan. Ia pun demikian. Namun sungguh kami tiada merugi karena telah menyantap obrolan bergizi. Bibir siswi bernama Evi kembali bersemi.

EDYAR RAHAYU MALIK
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Ciawi. Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA Kab. Bogor. Pegiat Musikalisasi Puisi.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "TENTANG MARAH"

  1. MasyaaAllah...keren abah. Teruslah berkarya yg bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Masya Allah....mulai skrg Cari ilmu sebanyak2nya agar marah bisa mewujudkan sayang. Betul begitu pak Edyar ??

    ReplyDelete