AMBISI


karya: Tya Meilisa Maghfiroh Supriatna*


“Rio hebat banget ya?”
Kalimat pujian dari seorang murid yang kebetulan berdiri di sebelahku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulakukan di sini. Apa yang bagus dari melihat rivalku dapat penghargaan dan banyak tepuk tangan. Satu hal yang berkecamuk di kepalaku saat ini yaitu kenapa bukan aku yang berdiri di atas podium itu?
Pertanyaan bodoh. Rio bisa begitu karena dia berusaha—ralat—Rio bisa melakukan apa saja tanpa memperlukan banyak waktu, jadi tanpa berusaha keras pun dia bisa naik ke atas podium itu. Semakin dipikirkan, persoalan ini malah membuatku semakin kesal pada anak itu.
“Hei, kamu datang juga rupanya?” seseorang membuyarkan lamunanku. Dia baru turun dari podium tempatnya mendapatkan aplouse. Dan, apa-apaan dengan senyum itu. Menyebalkan.
Rio menunggu jawabanku. Kasihan.
“Yah, tidak ada hal lain yang mau kukerjakan. Lagipula, semua temanku ada di sini,” ujarku sambil menunjuk ke sekumpulan anak kelas 10. Semuanya siswi.
“Masa?” Rio membalas pendek.
“Iya, mereka ingin melihatmu, sebenarnya.”
“Oh,” gumam Rio, santai seperti biasa, “Aku kok sama sekali nggak merasa mereka mencariku, ya?”
Cih, sombongnya~ “Sudah selesai ‘kan? Aku pergi, ya!”
“Oke, kita ketemu lagi—”
Aku sudah tidak mendengar laki-laki itu bicara karena aku sudah pergi menjauh dari teman sekolahku yang banyak tingkah itu.
Seperti kataku, Rio dan aku adalah rival. Perlu diketahui bahwa ada perbedaan signifikan antara rival dan musuh. Menurut pengertian Sosiologi, rivalitas adalah persaingan yang bersifat pribadi dan secara langsung. Memang itu yang sebenarnya terjadi pada kami berdua; kami saling memahami satu sama lain dengan tujuan menumbangkan satu sama lain, kelakuan kekanak-kanakan seperti ini tidak juga hilang walaupun kedua belah pihak sudah duduk di bangku SMA.
Mungkin persaingan aneh ini tidak akan berkelanjutan jika kami mendaftar di SMA yang berbeda. Mungkin, siapa yang tahu.

***

Sepulang sekolah, awan gelap menggelayut di atas bangunan sekolah kami. Karena sudah tidak lagi ada kegiatan, jadi aku akan cepat-cepat pulang sebelum hujan benar-benar turun.
            “Yang tadi itu manis loh, Regia.”
            Apa-apaan sahabatku ini? Karena lelah, jadi kubiarakan dia mengutarakan sendiri maksud ucapannya.
            “Kenapa kamu benci sekali dengan Rio?”
            Nah, ketemu.
            Senyuman ramah tersungging di wajahku, “Sebisa mungkin aku tidak akan membenci siapapun. Aku ini orangnya pemaaf.”
            “Lalu kenapa Rio tidak dimaafkan?”
            “Memangnya dia punya salah?”
            “Kalau dia tidak punya salah kenapa kamu seakan-akan selalu ingin menghancurkannya? Tampaknya Rio adalah prioritas seorang Regia untuk dibasmi.”
            “Well, pernah dengar istilah Segregasi?”
            “Upaya saling memisahkan diri dan menghindar antara dua pihak yang bertikai untuk menghindari ketegangan? Berani juga kamu bertanya materi Sosiologi pada anak IPS.”
            Aku mendelikkan mata. Justru aku menggunakan ungkapan itu karena dia anak IPS, kalau aku bilang Rio adalah sinar Katode dan aku adalah sinar Anode—yang mana itu berarti kita akan saling tolak-menolak—maka aku harus menjelaskan materi Kimia pada seorang anak IPS yang peminatannya Biologi, bisa-bisa hari ini aku menginap di sekolah.
“Pokoknya kami kedua pihak yang bertikai, tidak rukun, dan ingin menghindari keributan, maka aku tidak bicara lama-lama pada Rio. Sudah jelas?”
Yes, ma’am.” Katanya semangat. Walau kadang pertanyaan absurd-nya mengganggu toh dia tetap saja sahabatku. Aku pernah berpikir kalau anak ini punya baterai cadangan di tubuhnya, yang membuatnya tetap semangat sampai sore hari.
Aku tidak akan menceritakan apa yang aku dan sahabatku itu bicarakan. Kalau kalian ingin tahu, namanya Deandra dan dia sahabatku sejak SD.
Aku dan sahabatku itu berpisah jalan di gerbang sekolah. Dari sana aku pulang sendirian. Lalu aku melihat Rio, menenteng piala kemenangannya yang berkilauan.
Sialnya, dia melihatku.
Dia menyebrangi jalanan dan mencoba mengobrol denganku.
Dia itu kenapa sih? Pidatonya di podium saja sudah membuatku sesak apalagi sekaranng dia akan mengajakku bicara soal pialanya? Benar begitu?
“Pialanya bagus,” sekalian saja aku yang bilang begitu.
“Oh,” katanya, “Ini piala bergilir. Selanjutnya kamu yang akan bawa pulang.”
“Apa aku tampak se-butuh itu?”
“Iya.”
Ya ampun.
“Soalnya kamu selalu bicara tidak ramah dennganku jika aku baru saja dapat penghargaan. Aku akan mengajukan Konversi—aku mengalah di perlombaan kita selanjutnya, tapi aku mengajukan syarat.”
“Urus itu nanti, aku mau pulang, aku tidak mau kehujanan.”
“Syaratnya mudah!”
“Heh, aku ingin mengalahkanmu dengan kemampuanku sendiri, aku tidak butuh seorang Rio mengalah untuk memberiku kesempatan menggenggam piala bergilir.”
“Yasudah kalau tidak mau,”
“...”
“Apa?”
“Pokoknya jangan bawa-bawa piala itu jika mau biacara denganku.”
Rio malah tertawa. “Aku selalu memberi simpati pada pihak yang kalah.”
Wajahku merah karena marah. Aku menyetop bus untuk lari dari siswa SMA yang sombong dan jahat itu.

***

Begitu sampai di rumah, aku langsung mandi dan bersiap untuk belajar. Aku kesal pada diriku sendiri yang selalu kalah, dan tak henti-hentinya Rio memaki secara halus. Semua kejadian itu sudah cukup membuatku kapok kalah, yang satu ini, aku yang akan jadi pemenangnya.
            Aku membuka ponselku.
            Sejujurnya aku tidak mau melakukan ini sebelumnya, Kak Nada sudah menawarkan ini padaku sejak jauh-jauh hari tapi aku menolak karena aku punya prinsip. Tapi, kata-kata sindiran Rio dan tatapan teman-temanku yang sempat berpikir aku akan sekali saja menang atas siswa cerdas dan serba-bisa itu. Kemenanganku tak pernah jadi kenyataan, dan kali ini, cerdasmu tidak lagi berguna, Rio.
            Di ruang pesan aku mencoba mengontak Kak Nada, dia berjanji padaku akan memberikannya kalau aku meminta.
            “Kak~”
            10 menit kemudian dia baru memberi balasan. Dia lumayan sibuk di kampusnya, mungkin?
            “Aku bukan kakakmu.”
            “Terserah. Ngomong-ngomong, sekarang aku membutuhkannya.”
            “Butuh apa?”
            Dasar anak kuliahan tidak peka.
            “Soal Kimia yang kakak janjikan padaku.”
            “Oh! Sebentar,”
            “Tapi... bubuhkan juga jawabannya ya... please...”
            “Cih, kukira kau punya prinsip.”
            “Sekali untuk seumur hidup. Aku mau menang dari rivalku, juga hanya sekali seumur hidup, sudah cukup buatku.”
            “Yah, terserahlah.”
            Dan Kak Nada memberikan sebuah lampiran. Lalu beberapa detik kemudian dia mengirim foto sebuah kertas yang oenuh coretan, kalau ditelusuri aku bisa menemukan jawaban di foto ini untuk menjawab soal Kimia di lampiran itu.
            SOAL KIMIA OLIMPIADE SAINS 2018
Bagus! Rio akan kalah kali ini. Karena hari sudah malam, aku berniat langsung tidur. Toh, soal olimpiade ini hanya perlu aku salin jawabannya saja. Tak ada cukup waktu untuk menyalin kotretan Kak Nada yang acak-acakan.

***

Keesokannya, aku pergi ke sekolah dengan senyum sumringah.
            Deandra memergokiku bicara santai dengan Rio.
            “Sudah memikirkan tawaranku? Olimpiade Kimia dimulai hari ini.”
            “Aku tidak mau piala Math Quiz-mu. Aku mungkin bisa membawa pulang piala olimpiade kimia hari ini.”
            “Oh ya? Bagaimana?”
            Sial, mau berbuat curang membuat mukaku jadi merah dan aku jadi salah tingkah.
            “Pokoknya aku sudah bersiap, aku punya metode belajar kimia yang lain dari teknikmu itu.”
            “Bagus,” balas Rio, “Ajarkan metode itu padaku nanti,”
            “Hah?”
            “Itupun kalau kamu menang seperti katamu.”
            Lalu rivalku itu pergi. Deandra rupanya berdiri di belakang tiang jadi aku dan Rio tak bisa melihatnya. Begitu siswa jenius itu pergi, Deandra datang dan dia sudah dengar semuanya.
            “Cari mati.” Katanya, lalu pergi begitu saja.
            “Hey! Apa maksudnya itu?” aku berlari menyusulnya.
            “Kapan kamu akan berhenti mengejar nilai? Mengejar angka? Aku sudah lelah mendengar ambisimu.”
            “Orang kan hidup harus punya tujuan. Tapi tidak sampai mengabaikan yang lain.”
            “Apa aku sering mengabaikanmu? Kalau begitu setelah olimpiade selesai aku janji akan jalan-jalan ke butik sepatu denganmu!”
            “Tidak usah. Bukan aku yang kamu abaikan.”
            “Lalu?”
            “Semuanya. Kamu mengabaikan semuanya, aku tidak termasuk karena aku selalu mencari perhatianmu, jadi kamu tidak bisa tidak melihatku. Dan ada satu orang lagi yang mencari perhatianmu, dan dia tidak luput dari penngawasanmu juga. Sayangnya, kamu hampir menganggapnya setara dengan musuh.”
            “Si Rio? Dia rival kok, bukan musuh~”
            “Yang saling membunuh begitu lebih dari rival, tau!”
“Sekali saja aku menang dari Rio, maka aku akan biasa saja dengannya.”
“Tahu tidak istilah yang tepat untuk orang sepertimu?”
Aku menunggu jawaban.
Non-human.”
Alisku naik sebelah.
“Ciri seorang manusia adalah Gregoriousness—”
“Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain dan lingkungannya. Aku juga belajar Sosiologi, lagipula aku punya keinginan itu, hanya saja itu bukan fokusku saat ini.”
“Kamu melupakan ilmu Filsafat yang paling mendasar.”
“Tidak ada pelajaran Filsafat di SMA ini.”
“Tujuan manusia lahir untuk merasakan cinta dan kasih sayang, bukan pergi mendaftar ke SMA favorit dan mencari musuh lalu mendapat nilai sempurna.”
“Oh,” kataku, agak terkejut. “Aku kan tidak mendapatkan nilai dengan cara curang.”
“Aku tidak bilang begitu.”
Tenggorokanku rasanya terbakar. Sudah jadi rahasia umum jika kita butuh lebih dari sejuta kebohongan tambahan untuk menutupi satu kebohongan saja.
“Dengar ya Deandra, aku akan belajar Filsafat nanti. Aku punya prinsip! Jadi, jangan khawatir aku curang dan aku sepulang sekolah akan mengikuti olimpiade Kimia. Terima kasih sudah mengingatkanku kalau aku adalah manusia.”
“Jangan—”
“Jangan apa?”
“Yah, lupakanlah.”
Karena bel masuk kelas berbunyi, aku dan Deandra berpisah jalan. Tak habis pikir dengan semburan kata-katanya.
Tes tulis olimpiade kimia tahun ini rupanya lebih menegangkan dari dugaanku. Rio duduk di dekat jendela. Aku tahu persis angin dari luar akan mebuatnya konsentrasi penuh. Aku bersiap di tempat dudukku. Aku tahu persis soalnya akan seperti apa.
Pengawas membagikan kertas soal.
Soalnya... soalnya... sama persis dengan yang diberikan Kak Nada... hehehe...
Aku tersenyum sendiri. Lalu dengan santai menuliskan jawaban yang sudah ada kuhafal di luar kepala. Kalau begini tidak perlu jadi jenius untuk bisa mengalahkan Rio.
Waktu habis dan aku sudah mengumpulkan kertas jawabanku. Aku menunda-nunda untuk menghindari kecurigaan. Saat aku mengumpulkan kertasku di atas meja, sebuah tangan lain menggebrak meja itu. Tepat di atas tanganku. Brak!
“Aw! Hey!”
“Semudah itu soalnya bagimu?”
“Aku ‘kan sudah bilang, aku sudah bersiap-siap. Piala Olimpiade Kimia untukku.”
Cih, ini kan masih babak penyisihan.”
“Aku akan tembus ke Final dan—yah, kau tahulah lanjutan final itu apa.”
Rio tersenyum sinis, lalu kembali ke bangkunya, menyelempangkan tas ke sebelah bahunya dan keluar ruangan begitu saja. Tidak tahu tata krama.
Terlalu sering menang membuatnya mudah merasa terancam rupanya. Lihat saja nanti, Jagoan! Aku akan ada di posisimu.
Pulang sekolah, aku tidak perlu menceritakannya karena sama persis seperti malam sebelumnya. Hanya saja yang satu ini Kak Nada memastikan aku lolos seleksi dan setelah aku mencari informasi di sosial media. Aku lolos babak seleksi dan akan melanjutkan ke babak selanjutnya.
Piala olimpiade kimia semakin dekat saja!
Lampiran dan kunci jawaban sudah di tanganku.
Ngomong-ngomong, Kak Nada agak aneh hari ini. Aku merasa kalau aku sudah mengganggunya. Nanti saja aku minta maaf. Lagipula ‘kan dia sendiri yang menawarkan soal-soal itu.
Aku membaca soal-soal itu.           
Dua proses pengolahan alumunium, HClO3, HBrO3, HCIO3 asam manakah yang paling kuat? Senyawa yang dapat bereaksi dengan NaOH maupun H2SO4, dan seterusnya, aku bisa mencari jawabannya dengan mudah karena Kak Nada tidak menyertakannya.

***

Lagi-lagi pagi yang cerah menemaniku pergi ke sekolah. Apakah kali ini Rio dan Deandra membuatku was-was lagi? Aku akan berhenti berbohong saat piala itu sudah ada di tanganku. Sekali saja aku ingin bicara di atas podium. Bukan salahku menginginkan itu. Semua kemenangan itu... adalah ambisiku.
            “Lolos seleksi seperti biasa?” siapa lagi kalau bukan Deandra.         
“Begitulah, melelahkan juga ternyata.”
“Keren sekali!”
“Kalau aku menang olimpiade, apa kamu senang?”
“Tentu saja!”
“Karena aku dapat piala?”
“Karena kamu akan mengakhiri perseteruanmu dengan Rio.”
“Apa tidak ada hal yang lebih penting dibahas?”
“Aku akan jujur. Aku tidak suka melihat sahabatku dikepung musuh.”
Aku tertawa terpingkal, “Siapa yang dikepung? Hanya Rio seorang ‘kan?”
“Aku kan pernah bilang kalau kalian itu manis, sampai akhirnya aku tahu jika kalian bicara yang dibahas hanya piala dan pidato podium. Kalian berdua mungkin anak IPA, tetapi kan kalian juga belajar sosialisasi. Jadi jangan hanya akrab dengan textbook!”
“Bicaramu... panjang sekali.”
“Yang penting aku sudah jujur. Jujur itu selalu bisa menyelamatkanmu dan kebalikannya. Kita berdua paham karena kita ‘kan punya prinsip.”
Denadra lalu nyengir dan merangkul bahuku. Aku tidak tahu harus membalas apa.
“Baiklah, aku akan siap-siap untuk olimpiade itu. Sampai jumpa!”
Seumur hidupku, baru sekarang aku tidak nyaman membahas kejujuran.
“Babak selanjutnya kan masih besok?”
“Sehari tidak cukup untuk bekajar, tau!”
“Ya, baiklah! Sampai jumpa!”
Karena bosan memberi detail, aku akan loncat ke bagian “babak selanjutnya” dalam olimpiade kimia itu. Rio duduk di depan, berhadapan langsung dengan pengawas. Aku seperti biasa duduk di tengah, menghadap lurus papan tulis.
Babak kedua ini masih seputar menjawab pertanyaan, hanya bedanya tes berlangsung secara lisan. Rio maju duluan, menurut penglihatanku, dia gagal menjawab satu dari sekian soal. Terima kasih pada soal yang diberikan Kak Nada. Aku tak perlu tegang memikirkan soal apa yang akan pengawas berikan.
Lalu, tibalah giliranku.
Aku tersenyum ramah pada pengawas. Dia memberiku pertanyaan pertama.
“Apa senyawa yang dapat bereaksi dengan asam maupun basa?”
“Senyawa yang bersifat amtofer.”
“Bagus,”
Awal yang sempurna untukku. Pertanyaan kedua diajukan.
“Unsur Periode ketiga yang bersifat metaloid adalah?”
“Silikon.”
Pengwas tersenyum, aku benar lagi.
“Sebutkan dua proses pengolahan alumunium.”
“Pemurnian bauksit dan peleburan alumina.”
Seterusnya hingga pertanyaan kesepuluh, tepat seperti soal yang diberikan oleh Kak Nada. Dia memang tidak pernah meleset.
Aku selesai dengan tes lisan. Aku bersiap pulang hingga sebuah suara dari bangku depan menghentikan gerakanku.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu bersiap pulang?”
Rio mempermalukanku. Lagi. Karena seisi ruangan memperhatikanku. Aku kembali duduk dengan perlahan dan menaruh kembali tasku di atas bangku.
“Masih ada babak berpasangan. Kalian akan diacak dan berebut menjawab soal satu lawan satu.”
Apa-apaan ini? Kak Nada tidak memberitahuku soal babak perebutan, tidak juga guruku. Bahkan, aku sendiri tidak menduga sama sekali.
Entah apa yang langit rencanakan. Aku ditakdirkan untuk head to head melawan Rio. Aku tidak mengerti siapa yang membuat undian.
Rio duduk di sebelahku. Di ruangan ini hanya ada kami berdua dan bapak pengawas. Dia bilang. “Kalian berdua saling melawan bukan karena undian,” katanya, “Kalian punya skor tes lisan yang sama persis. Jadi kita akan cari siapa yang lebih unggul.”
Bapak pengawas tiba-tiba terdengar seperti juri The Hunger Games. Aku dan Rio adalah peserta yang harus saling membunuh untuk tetap bertahan hidup.
“Siapkan kertas kalian!” kata bapak itu lagi.
Pikiranku tak tentu arah. Ini semua adalah perpaduan wajah kesal Rio, ekspresi mencurigakan pengawas, dan aku yang baru saja mendapat skor penuh—terima kasih kepada kecuranngankku. Dan sekarang, aku harus menjawab soal kimia lagi. Tanpa bocoran soal. Tanpa aku sempat mengulang materi semalam sebelumnya.
“Wajah kalian berdua kelihatan meyakinkan.”
Aku yang jadi tidak yakin dengan pengawas ini.
Pokoknya aku tidak tahu lagi apa yang kupikirkan. Konsentrasiku buyar saat Rio menegurku untuk tidak keluar ruangan karena tesnya ternyata belum selesai. Aku tidak bisa mengingat satu rumus pun.
Lebih baik aku kabur sekarang juga.
Tapi itu ide buruk.
“Soal pertama,” pengawas berujar. Rio siap menullis dengan pensilnya. Aku masih gelagapan. “Tunggu sebentar, Pak!” kataku panik.
Aku siap dengan alat tulis, tetapi tidak tengan otakku, tidak mentalku. Napasku sulit diatur. Aku tidak tahu harus menulis apa saat pengawas membacakan soalnya.
“Suatu sampel besi oksida dianalisis dan ditemukan mengandunng 69,9% besi. Rumus empiris  senyawa ini adalah?”
Rio melihat tulisannya sendiri. Sepersekian detik kemudian dia mengacungkan tangannya. Aku bahkan tidak mengerti kenapa dia melakukan itu.
“Rio?”
“Fe2O3.”
“Tepat sekali.”
“Hah?” dengusku. Mereka berdua lalu melihat ke arahku, lalu terlihat sudah kalau aku tidak mengerti apa yang terjadi.
“Ini soal rebutan,” kata pengawas, paham kepanikanku—dan membuatku sangat malu sampai mau mati rasanya.
“Iya, Pak,” kataku lemas.
“Pertanyaan kedua,”
“Berapa persentase massa nitrogen dalam ammonium karbonat?”
Gesitnya gerakan Rio semakin membuatku panik. Keringat dingin mulai bercucuran.
Si murid jenius nan tenang mengcungkan tangannya. “29,16%”
“Tepan sekali. Apa kita hanya punya satu peserta? Hehehe...”
Pengawas itu sama menyebalkannya dengan Rio. Mereka bisa saja kompak hendak menjebakku. Tapi aku keburu yakin teori itu dihasilkan karena kepanikan semakin menguasai tubuhku. Rasanya aku demam tinggi sekarang ini.
Saking tidak konsentrasinya aku, bahkan aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, rasanya nyawaku tebang entah ke mana, dan soal rebutan ini hanya millik Rio seorang.
“Soal terakhir.”
Aku bahkan tidak tahu soal terakhir itu lebih tepatnya soal ke berapa.
“Densitas udara di dalam suatu ruang pada temperatur tertentu dan tekanan normal adalah 1,2 g/L. Hitung massa udara di ruang 5 kali 4 kali 3 meter.”
Rio mulai mencorat-coret kertasnya.
Aku melakukan hal yang sama, tapi aku hanya bisa menemukan volume ruangannya. Volume ruangan! Anak SD juga bisa melakukannya.
Yang kulakukan untuk membela diri ini sungguh tidak berguna. Rasanya aku mau muntah saking bencinya dengan keadaan ini.
Aku tidak suka melihat sahabatku dikepung musuh.
Gerakan tangan Rio terhenti. Dia telah menemukan jawabannya.
Tapi anehnya, dia tidak mengacungkan tangannya. Alih-alih dia melirikku, seakan memberiku kesempatan menjawab barang satu pertanyaan saja.
Aku akan mengajukan Konversi—aku mengalah di perlombaan kita selanjutnya, tapi aku mengajukan syarat.

Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu.
“Ada yang menemukan jawabannya?” tanya pengawas setelah hening yang terlalu panjang. Tak ada di antara kami yang menjawab.
Sebuah suara asing muncul dari luar ruangan, “Ruang 3?” kata suara itu. Rupanya dia pengawas ruang 1 dan ingin melihat apakah ruangan 3 sudah punya pemenangnya.
“Pertanyaan terakhir. Kami hampir selesai,” kata pengawas kami.
Suara asing itu berkata lagi, “Pak, tolong ke sini sebentar.”
Pengawas kami angkat kaki, lalu pergi keluar. “Tidak akan lama,” katanya.
Mataku mengikuti gerakan pengawas itu. Bertanya-tanya apa sekarang saat yang tepat untuk melarikan diri. Aku bangkit dari kursiku.
“Aku mau ke toilet,” kataku dengan suara bergetar. Kepada siapa lagi jika bukan kepada satu-satunya orang di ruangan itu.
“72 kilogram,” Rio berucap pelan.
“Hah?”
“Jawabannya. 72 kilogram.”
“Apa yang—”
“Duduklah!”
Rio menarik tanganku agar aku kembali ke kursiku. Pengawas kami sudah kembali, dia duduk dan memperhatikan kami satu-persatu.
“Bagaimana?”
Rio melempar pandang padaku. Dia ingin aku menjawab soal terakhir itu.
Walaupun sedikit ragu, aku mengacungkan tanganku.
“Ya?” kata pengawas.
“72 kilogram, pak.”
Hening yang aneh dan menggantung.
Tujuan manusia lahir untuk merasakan cinta dan kasih sayang, bukan pergi mendaftar ke SMA favorit dan mencari musuh lalu mendapat nilai sempurna.
Pengawas tersenyum. Bukan padaku, bukan pada Rio, tapi pada kami berdua.
“Bagus sekali.”

***

“Apa-apaan yang tadi itu?”
            Rio pura-pura tidak melihatku. Aku mendengus dan dia tersenyum.
            “Kamu yang harusnya memberitahuku apa yang terjadi di sana.”
            “Kenapa?”
            “Yang jenius ‘kan aku. Kenapa skor kita bisa seri.”
            “Sialan kau.”
            Rio tertawa, “Aku bercanda. Aku tahu kamu mendapatkan bocoran soal dari Kak Nada. Jangan kaget~ jangan kaget~”
            “Bagaimana bisa kau—”
            “Seorang rival tahu persis ada yang tidak beres dengan saingannya. Rivalku tidak seharusnya sepintar itu kenapa skornya malah sama denganku, jangan tanya kenapa aku curiga.”
            “Cease Fire?” kataku.
            “Gencatan senjata? Tidak mau. Kita Koersi.”
            “Kau mau memaksaku?”
            “Iya, kamu ‘kan, pihak yang lemah.”
            Rio tertawa terpingkal, aku menekuk wajahku.
            “Bagaimana kalau Arbitrase? Pihak ketiga di sini siap mengambil keputusan.”
            “Kenapa tiba-tiba?”
            Bukannya menjawab pertanyaanku, Deandra malah tertawa, “Kalian berdua itu manis!” katanya dengan semangat yang menggebu.
            Rio belum mau selesai, “Minority Consent!”
            “Tapi aku tidak senang hati,” kataku. “Pihakku belum puas, tau.”
            “Sudahlah kalian berdua,” Deandra yang justru terlihat lelah. “Stalemate lebih cocok untuk kalian. Pada akhirnya kalian akan berhenti menjadi rival karena lelah, dan bosan, dan itu kekanakan. Jadi tolong hentikan, oke?”
            “Tindakanmu rasional instrumental,” kataku dengan bahasa lugu.
            “Jangan sok tau!” Deandra tidak terima, “Ini namanya tindakan afektif.”
“Terserahlah, aku bosan.” Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi, “Peminatan ‘kan ada Bahasa Jerman juga.”
Halo, Wie geht?”
Danke, prima.”
Mau diselesaikan bagaimanapun juga, kami bertiga memang kekanakan. Setidaknya aku mempelajari sesuatu hari ini. Jujur itu selalu bisa menyelamatkanmu dan kebalikannya.

***

Yang aku tahu selanjutnya, pemenang Olimpiade Kimia itu bukan aku, dan bukan juga Rio. Olimpiade itu diundur karena suatu hal dan aku tidak tertarik untuk ikut serta lagi.
            Deandra memperkenalkanku pada teman-temannya yang sebelumnya tidak kukenal. Aku malas bergaul. Sahabatku itu tidak mau lagi melihatku jalan-jalan sendirian di sekolah. Maka, dia berinisiatif mencarikanku teman.
            Rio mengurangi jatahnya di bidang sains. Sekarang dia adalah pengurus OSIS yang aktif dan namanya semakin terkenal di SMA.
            Aku bukan lagi dikenal sebagai si ambisius yang terobsesi mengalahkan Rio. Jenius sekolah yang berusaha rendah hati (tapi selalu gagal). Aku juga tertarik mengikuti organisasi, dan kelas bukan satu-satunya ruangan yang kutuju di sekolah karena aku sudah punya banyak teman.
            Selanjutnya, podium kemenangan tidak lagi digunakan. Podium itu sumber masalah dan sumber peperangan antarpelajar SMA ini. Jadi, dia tidak pernah lagi muncul.


______________
Tya Meilisa Maghfiroh Supriatna.  Siswa Kelas X-6 di SMA Negeri 1 Ciawi.

(Penyunting: Edyar RM)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AMBISI"

Post a Comment