Dia dan Es Krim


Oleh : Ummi Mujahidah


Aku termenung di depan sebuah gedung yang kini nampak tua dan kusam. Dulu, gedung ini tempat aku menimba ilmu. Tempat aku mengenal dosen dan sahabat-sahabat terbaik. Tempat berjuta kisah kuukir. Ada tawa, ada tangis, ada duka yang berakar jauh di lubuk hati. Kupegang dadaku, sakitnya masih terasa.

"Punya kenangan dengan seseorang di gedung ini?" Sebuah suara mengusik lamunanku. Rasanya aku kenal pemilik suara ini. Aku ragu untuk menoleh, meski sangat penasaran. "Engga, cuma lewat aja," kataku berbohong, sambil tetap menunduk. Kudengar dia tertawa. Ya Tuhan, aku yakin seratus persen, itu dia. Tawa itu, aku tahu percis. Tawa lelaki yang dulu pernah memporakporandakan hatiku. Lelaki yang pernah tak terpisahkan dariku. Lelaki yang kemudian menorehkan luka yang berurat ke lubuk hati. Aku jengah, ingin segera beranjak dari tempat itu. Sayang, hujan semakin deras.

"Maaf, mungkin Bapak yang punya kenangan dengan seseorang di gedung ini?"
Tiba-tiba ada seorang pemuda mewakiliku bertanya balik.
"Ah, enggak. Saya juga cuma lewat aja."
Kudengar dia menjawab pelan. Kali ini si Pemuda yang tertawa kecil. Aku tertegun. Benarkah dia tak merasa punya kenangan dengan gedung ini? Apa dia sudah benar-benar lupa?
Tapi, peduli apa? Itu masa lalu, buat apa diungkit lagi? Bagus dia sudah lupa. Tak ada kenangan apapun di benaknya. Huh, tak sadar aku mencibir.

"Ayolah, Pak, cerita. Sambil menunggu hujan nih. Kelihatannya, Ibu itu juga penasaran," si Pemuda  menoleh padaku sambil mengedipkan mata. Kurasa pipiku memerah. Anak muda itu, nakal banget. Seenaknya memainkan perasaan orang tua.
"Tatapan Bapak dalam banget. Seperti memendam rindu pada seseorang. Hanya melihat pada salah satu sudut di bangunan itu. Maaf, Pak. Aku jadi penasaran, nih." Si Pemuda makin mendesak.
Aku tak mau larut menyimak obrolan itu. Aku bergegas menerobos hujan yang tinggal gerimis.
"Bapak, kenal ibu itu?"  Kudengar si Pemuda kepo itu bertanya.
"Rasanya engga." Samar kudengar dia menjawab.
"Bodo amat, kau pikir aku ngarep kamu ingat?" Aku menggerutu pelan dengan kesal.

Tiba-tiba aku tertegun. Kenapa harus kesal? Emang dia siapa? Aku cuma seseorang di masa lalu yang pernah dekat. Barangkali sesudahku, dia memang dekat dengan begitu banyak wanita lain. Mana mungkin masih mengingatku?
Aku sudah cukup jauh dari gedung itu. Masih uring-uringan. Kesal entah karena apa?

Telolet ! Telolet ! Tiba-tiba motor tukang es favoritku dulu berhenti di sampingku.
"Bu, ini ada titipan." katanya sambil menyerahkan es krim favoritku, rasa coklat. Ragu aku menerimanya.
"Terima kasih," kataku perlahan.
"Tapi belum dibayar, Bu." kata si Mamang sambil tersenyum.
Ya,Tuhan ... ini permainan dia waktu dulu. Tiba-tiba ada debar yang lain di jantungku.

Inilah yang dulu membuatku merasa menjadi orang yang sangat diperhatikan. Dia tahu aku suka es krim coklat. Dan dia tahu aku pelit untuk membeli sendiri. Jadi trik ini yang dia lakukan. Dia pesan ke tukang es buatku, tapi aku harus bayar sendiri. Biasanya disertai surat. "Sekali-kali manjain diri sendiri, boleh dong. Nanti kalau aku dapat honor, duitnya kuganti." Itu bunyi suratnya.

Sambil menahan debaran di jantungku, aku bertanya pada si Mamang es, "Mana suratnya?"
Si Mamang tertawa, sambil merogoh tasnya.
"Wah, betul kata si Bapak itu, Ibu bakal nanyain surat."
Aku menerima lipatan kertas dengan tangan gemetar. Aku belum siap membukanya, meski di mataku sudah terbayang tulisan tangannya. Gak bagus, jelek malah.

Setelah membayar esnya, aku beranjak ke taman. Aku duduk, tak peduli bangkunya basah karena hujan tadi.
Entah berapa lama aku terpaku, menatap es krim di tangan kiriku, dan lipatan kertas di tangan kananku. Aku tak tahu, mana yang duluan ingin kubuka?

Rasanya waktu bergerak mundur ke masa lalu. Kalau sudah kupegang es krim dan surat itu, ia akan datang sambil tertawa.
"Makan dong esnya, nanti mencair, lho! Mau kubantu makannya?"
Tahu, apa yang kurasa kemudian? Dunia terasa begitu indah, meski dia tak duduk mendampingiku. Dia cuma memastikan aku memakan esnya, lalu dia akan pergi lagi.

Tahu, apa yang kurasa kemudian? Dunia terasa begitu indah, meski dia tak duduk mendampingiku. Dia cuma memastikan aku memakan esnya, lalu dia akan pergi lagi menjauh sambil tertawa senang.

Aku tahu kini, mengapa sekarang aku diam terpaku? Hatiku menunggu dia datang, memastikan aku memakan es krim ini. Aku mengeluh, dia tak kan datang kali ini. Permainan ini saja, lebih dari cukup. Aku tahu, dia ingat aku sampai sedetil ini.
Perlahan kumakan es krimnya. Kunikmati setiap lelehannya. Aku masih menunggu. Aku tak merasa perlu membuka suratnya, isinya pasti sama. Aku tersenyum berhias tetesan air mata. Dia mengingatku, itu cukup. Jangan berharap lebih.*


* Kelak bertahun-tahun kemudian, aku tahu. Saat itu, dia mengikutiku dari jauh. Memastikan aku memakan es krim itu. Sebutir air bening hampir menetes di matanya saat dia bergumam. "Maafkan aku, tak bisa mendampingimu."

*) Nuralaela Siti Mujahidah, S.Pd. Guru IPA SMPN 3 Limbangan, anggota Komunitas Penulis L3 dan redaksi Majlah Pendidikan Guneman.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dia dan Es Krim"

Post a Comment