FESTIVAL LOMBA LITERASI SEKOLAH DASAR TINGKAT KOTA BANDUNG 2019



Oleh : Ujang Cucu, S.Pd.

   Rabu, 6 Maret 2019 kemarin, saya mendapatkan kesempatan yang cukup berharga, yaitu dapat menghadiri bahkan menjadi salahsatu juri dalam kegiatan Festival Lomba Literasi Sekolah Dasar tingkat Kota Bandung bertempat di SDN 035 SOKA Jl. Soka No. 34 Kota Bandung. Acara dibuka pukul 08.00 yang diawali dengan Persembahan Senam Literasi oleh siswa SDS Gagas Ceria, Statement Duta Baca dari SDN 261 Margahayu Raya Blok I, dan Perkenalan Salam Literasi.
            Selepas acara pembukaan, semua peserta bergegas memasuki ruang lomba masing-masing sesuai tempat yang telah disiapkan oleh panitia, begitupun kami berlima memasuki ruangan Lomba Pantun yang terbagi kedalam dua ruangan. Jumlah peserta pantun yang hadir saat itu sebanyak 69 orang yang tidak hadir sebanyak 4 peserta. Kami mengecek kehadiran peserta lomba yang didampingi dua rekan juri lain yaitu Ibu Dra. Hj.Eva Farida, M.M.Pd. (Juri Ketua) dan Ibu Rohimi, S.Pd (juri anggota).
            Juri ketua menyampaikan beberapa ketentuan sekaligus mengingatkan kembali kepada para peserta mengenai Tema, Judul dan Kriteria penilaian Lomba Pantun. Selanjutnya kami membagikan lembar kertas kerja berukuran F4 bergaris sebagai media penulisan pantun bagi peserta. Kegiatan lomba pun dimulai dengan durasi 90 menit kedepan. Lomba pun berlangsung dengan cukup tertib dan lancar.
            Seiiring berjalannya lomba menulis pantun, ada beberapa peserta yang belum paham tentang keterkaitan tema dengan materi pantun yang akan ditulisnya, bahkan terdapat pula empat orang peserta yang meminta kertas pengganti oleh karena materi tulisannya kebanyakan di hapus dengan tipe-x. Ada hal menarik dari dua orang peserta menghampiri kami dan ia berkata Pak, "bolehkah saya menulis pantunnya hingga 3-4 halaman" kami pun tersenyum "Boleh, silahkan karena waktunya masih ada", sambut kami.
           
Sembilan puluh menit sudah pelaksanaan menulis pantun telah terselesaikan, sebahagian peserta mengumpulkan hasil karyanya di meja juri karena sebahagian telah terkumpul. Tibalah saatnya para kami lima orang juri yang terdiri dari Juri 1-5 (Dra.Hj.Eva Farida,M.M.Pd; Ujang Cucu, S.Pd ; Yuyum Yulianti, S.Pd.,M.M.Pd; Wanda M.Rizal,S.Pd; Rohimi, S.Pd.) untuk menyeleksi melaksanakan penilaian penulisan pantun hasil karya anak.
            Satu persatu aku membaca pantun karya mereka, hal yang pertama kita rasakan, adalah rasa lucu, senang, bahagia, dan perasaan yang lain. Kenapa bahasa bisa disusun, menjadi susunan bagus, dan aku dalam membacanya merasa ada kesenangan tersendiri. Lalu terlintas dipikiran ku, bagaimana mereka membuat pantun, begitu pintar menyusun, memadukan kata demi kata dan menjadi pantun yang enak dibaca. Apakah mereka yang membuat sudah mahir, atau sudah terlatih membuat pantun. Terkadang kita tidak memperhitungkan anak SD yang menulisnya, yang penting mereka bisa menulis pantun, sebagus pantun siswa SD yang  pernah aku baca.
            Di lingkungan sekolahku, siswa kelas 5 Tema 6 telah di ajarkan tentang membuat pantun. Hal tersebut didukung oleh kurikulum 2013 yang salah satu KD nya berbunyi “3.6 menggali isi dan amanat pantun yang disajikan secara lisan dan tulis dengan tujuan untuk kesenangan.”. Dengan adanya kurikulum itu siswa diharapkan menjadi mahir membuat pantun. Dalam pemberlajaran dikelas, kami sebagai guru harus pandai menggunakan dan memilih berbagai macam strategi dan metode dalam proses pembelajarannya. Termasuk pada pembelajaran menulis puisi,  seorang guru harus menggunakan metode dan strategi tertentu agar proses pembelajaran menulis pantun lancar dan kompetensi didapatkan siswa. 
            Menulis pantun tidak sembarangan kemampuan kognitif bisa diterapkan. Pembuatan pantun, meliputi proses perencanaan, meliputi pemilihan ide, merumuskan tujuan, pemilihan bahan. Setelah tahap itu terlewati tahap berikutnya adalah tahap penulisan dan jika terjadi kesalahan, tahap yang terakhir adalah tahap penyempurnaan. Dari kegiatan sebagai juri tersebut, bagi ku menjadi suatu pembelajaran dan pengalaman yang sangat bermanfaat.
          Akhirnya kami menyadari dan meski harus dibuat pusing, hingga akhirnya dapat menelesaikan penilaian sebagai juri pantun. Tak dapat dipungkiri, pembelajaran sastra belum bisa lepas dari permasalahan seperti narasi berupa bait-bait pantun mereka. Kami sebagai juri dalam menilai membutuhkan keteltinan, kesabaran, dan kejelian. Tak jarang menemukan antara sampiran dengan isi terdapat ketidakpaduan. Adapun temuan yang kami dapatkan dalam waktu yang relatif singkat, ssesuai kriteria penialaian untuk karya anak sebanyak 69 peserta, sebagai berikut:
1.      Kesesuaian Judul dan Isi dengan Tema
-        Masih banyak peserta yang belum selaras
-        Masih ada yang belum membubuhkan judul pantun
-        Judul , isi dan tema masih belum sesuai yang diharapkan
-        Masih banyak yang belum sesuai dengan Tema dan Judul
2.      Keindahan Gaya Bahasa/Majas, diksi, ejaan, dan rima
-        Dilihat dari keindahan tulisan, gaya dan bahasa dan ejaan masih kurang dalam penempatannya.
-        Masih terdapat penulisan kata; "Yang, Tidak, dalam" tertulis dengan singkatan (Yg/tdk/dlm)
-        Dalam pemilihan majas, diksi pserta perlu banayk membaca (karya orang lain)
-        Rima atau sajak masih terdapat belum memenuhi unsur a-b, a-b
3.      Kedalaman Makna, kejelasan pesan/amanat, dan kebermanfaatan untuk pembentukan karakter
-        Dari sisi kedalaman makna masih perlu dibekali, dibimbing dan diarahkan sehingga pesan pantun tersebut dapat tersampaikan.
-        Masih bayak dari tiap bait pantun belum terstruktur dalam kosa kata penulisannya.
-        Yang membahagiakan bagi kami hampir 65% karakternya sudah tumbuh pada peserta lomba.
4.      Orisinalitas/keaslian karya (bukan plagiat/jiplakan)
-        Masih terdapat karya orang lain yang dibubuhkan 15 % terbaca karena hapalan.
5.      Daya cipta/kreatifitas dan keunikan

-        Alhamdulillah 85 % terbaca hasil daya cipta peserta.
         Kesimpulan dari hasil temuan tersebut, kami sebagai guru, harus dapat memberikan bacaan sastra berbasis perkembangan sejarah sastra Indonesia. Integrasi tersebuat akan membuat siswa tak hanya mendapatkan contoh bacaan karya pantun saja, akan tetapi juga wawasan mengenai sastra Indonesia. Dengan demikian, kewenangan guru dalam memilih bahan bacaan siswa juga akan memiliki arah yang jelas.
         

Belum terlambat bagi siswa di sekolah-sekolah untuk berlatih dan mendapatkan bimbingan dalam membaca dan menulis karya sastra, baik berupa pantun, cerpen, puisi, syair, dan dongeng. Para siswa juga perlu tahu sejarah dari dunia sastra Indonesia yang begitu kaya. Mereka akan belajar mengapresiasi dan juga membuatnya tetap lestari. Jika nasib berpihak, siapa tahu ada siswa yang diam-diam bermimpi menjadi penulis handal (literat) dan menjadi bagian dari sejarah yang tengah mereka pelajari.


Ujang Cucu, S.Pd. Guru SDN 163  Buahbatu Baru  Kota Bandung buahbatu.baru@gmail.com
(Tanggung jawab isi dan penyuntingan ada di tangan penulis)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FESTIVAL LOMBA LITERASI SEKOLAH DASAR TINGKAT KOTA BANDUNG 2019"

Post a Comment