GEDOG


Oleh: Kusuma Dewi

 “Semoga lungsung langsar lahirannya, ya, Neng," begitu kata Mak Paraji ketika selesai meng"gedog"ku untuk meluruskan posisi bayi yang berputar terus dan belum berada pada jalan lahir. Namun, rasa khawatir tetap ada dalam hati ketika melihat surat rujukan dari bidan untuk melakukan Caesar karena kondisi kehamilanku mengalami placenta previa.
*****

         Aku mencari bidan yang bisa membantu proses kelahiran di kota yang baru aku pindahi ini,  kota kelahiran suamiku. "hhmm harus kemana mencari,  tak tahu situasi di kota ini". Tak banyak klinik yang masih buka praktek menjelang Idul Fitri. Akhirnya aku disarankan untuk mendatangi suatu klinik yang sudah lama berdiri dan berpengalaman.
Aku mendatangi bidan yang masih praktik menjelang Idulfitri. Aku diperiksa, walaupun ada penolakan dari bidan karena banyak perawatnya yang sudah cuti. Dengan keadaan bidan yang sudah sepuh dan banyak pasien yang berobat waktu itu, dia tidak menginginkan keberadaanku untuk melahirkan di kliniknya. Ditambah lagi, aku bukan pasien langganannya dan langsung ikut melahirkan tanpa mengetahui riwayat kehamilanku.
"Ibu, ini anak pertama? Usia Ibu sudah 30 tahun lebih, gendut pula, pasti Ibu darah tinggi, yah?"
Ya Allah … sinis amat ini bidan, gerutuku dalam hati. 
"Silakan aja diperiksa dulu, Bu Bidan," ujarku, dan terbukti bahwa aku darah rendah.
Ketubanku pecah, daster yang kupakai sudah basah. Aku disarankan berbaring miring agar memudahkan bayi keluar. Aku menangis ketakutan akan melahirkan tanpa ditemani suami. Apalagi, aku punya penyakit asma, aku semakin khawatir kehabisan napas ketika berjuang melahirkan anakku. Hanya Teh Lena, teman kantor suamiku, yang menenangkanku pada saat itu.
Aku menangis sejadinya ketika suamiku datang. Dia memeluk dan menenangkan aku. Namun, suamiku hanya sebentar menemani, dia harus ke rumah lagi mengambil kain buat persalinanku, karena air ketuban yang keluar sangat banyak dan aku hanya membawa perlengkapan persalinan yang terbatas.
Bidan masuk ke dalam kamar persalinan, "Kita lihat ya, Bu, sudah bukaan berapa. Wah, sudah bagus, sebentar lagi akan bukaan sepuluh."
Bidan menyiapkan segala keperluan bayi ketika sudah keluar dari rahimku nanti. Dia menyiapkan baju, kain flannel, sarung tangan, selimut, dan segala macam keperluan bayi agar merasa hangat ketika sudah lahir nanti. Bidan meninggalkanku lagi karena sudah ada pasien lain yang memanggilnya.
Lalu, ada sesuatu yang keluar dari vaginaku. Teh Lena memanggil bidan agar melihat kondisiku. Bidan sangat ketakutan karena ternyata yang keluar adalah tali pusat. Sambil membentak, bidan itu memasukkan kembali tali pusat itu.
"Ibu, bagaimana kondisi kehamilannya? Ini mah enggak normal, bayinya masih muter. Saya rujuk saja Ibu ke rumah sakit."
Bidan mengganti semua pakainanku yang basah oleh ketuban dan membereskan kembali semua pakaian bayi yang tadi sudah dia persiapkan.
"Tunggu sebentar, saya bikin surat rujukan dulu untuk ke rumah sakit," ujarnya.
Ketika Bidan membuat surat rujukan, saya merasakan mulas seperti akan BAB.
"Teh, pengin ke belakang," kataku dengan malu kepada Teh Lena.
"Ya sok aja, teh, jangan ditahan," jawab Teh Lena.  
Setelah mengeluarkan sesuatu, aku bertanya, "Apa yang keluar, Teh?"
"Bayi," jawab Teh Lena. Loh, kok mengeluarkan bayi kayak BAB? pikirku.
Ketika Bidan kembali ke kamarku untuk memberikan surat rujukan, dia berteriak sangat histeris.
Sambil memukul kakiku, dia berteriak, "Ibu! Ini apa yang keluar?!"
Ternyata, kaki bayi sudah keluar, menggantung. Bidan berteriak makin kencang lagi.
"Ibu, ayo keluarkan lagi bayinya, Ibu tarik napas."
Aku bengong dan bingung harus bagaimana. Aku diam saja sambil melihat Bidan yang kepanikan dan marah kepadaku. 
"Ibu, ayo, keluarkan, jangan diem ajah."
Aku masih bingung, tak tahu bagaimana caranya mengeluarkan bayi, bagaimana menarik napas agar bayi bisa keluar. Akhirnya, bayiku keluar tanpa tangisan. Bidan kewalahan, karena dia sendiri tanpa perawat lain. Pakaian dan segala macam keperluan bayi baru lahir pun sudah dia masukkan ke dalam tas ketika tadi akan merujukku ke rumah sakit. 
Bidan makin panik karena ternyata bayiku tidak bernapas. Dia menyalakan lampu besar untuk menghangatkan tubuh bayi, menggunakan alat pompa pernapasan bayi agar bayi bisa bernapas, tetapi peralatan di sini masih tradisional, belum lengkap seperti di klinik modern. Namun, Bayiku belum juga bernapas ataupun menangis. Semakin kacau pikiranku, dalam hatiku terlintas, Ya Allah, akankah bayiku hidup atau Engkau berkehendak lain? Ya Allah Yang Maha Menghidupkan, selamatkanlah bayiku, kami mengharapkan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami.
Suamiku datang bersama ibunya. Aku menangis sejadi-jadinya dan sangat ketakutan. Suamiku juga ikut panik. 
"Bapak, saya rujuk bayinya agar dibawa ke rumah sakit saja, karena peralatan di klinik kami tidak lengkap," kata Bidan kepada suamiku.
Bayi dibungkus dengan rapi dan hangat, lalu segera digendong oleh Teh Lena, dengan kondisi belum terdengar tangisan dan belum ada hembusan napas. Segera, suamiku membawa bayi ke rumah sakit, menembus kemacetan menjelang Idulfitri dari Cipanas, Puncak, menuju Cianjur.
Hatiku remuk redam ...  menangis sendirian di klinik.

(Tanggung jawab penulisan dan penyuntingan ada pada penulis) 


MILIKI MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

EDISI 1 TAHUN V 2019


UNTUK BERLANGGANAN HUBUNGI NO. WA:

0821-2722-5655 (OESEP) atau 0812-2017-090 (MARDIAH)


PENGIRIMAN NASKAH:

Guneman Online: gunemanonline@gmail.com
Geneman Cetak: guneman_magazine@yahoo.com 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GEDOG"

Post a Comment