KEPAK KEBEBASAN



Oleh: Cantika Putri*


Namanya Azale Cleva Alpion. Bagi mereka, Pion adalah bidak. Bagiku, Pion adalah kebebasan. Ini bukan kisahku. Ini adalah kisah Azale Cleva Alpion meraih kebebasan. Untuk para pembaca, harap tenang, dan selamat membaca.

***

2015
Pion melangkah ke luar dari tempat lesnya. Tempat yang selama 3 tahun Pion datangi. Di sana Pion belajar lebih untuk mendapatkan nilai memuaskan dan agar orang tuanya tetap bangga padanya. Pion setiap dua hari sekali mendatangi sanggar Matematika, tapi Pion tidak terlalu suka berhitung. Tapi banyak orang bilang, jika bisa Matematika, maka bisa semua pelajaran. Pion mengikuti ekstrakulikuler Renang, tapi Pion tidak suka air. Pion berada di kelas IPA, itu adalah pilihannya, tapi setelah menginjak tingkat dua, Pion baru sadar bahwa Pion menyukai ilmu sosial. Pion gemar mengamati orang lain.
Berjarak 6 tahun, aku melihat Pion sebagai anak pada umumnya. Pion bermain, Pion bercanda, Pion memiliki perempuan yang disuka, Pion menceletukan lelucon, tanpa tahu masa depan apa yang ingin dia capai, tanpa tahu apa yang akan dilakukannya nanti, tanpa tahu sejak saat itu, Pion sudah menjadi bidak.
"Pion, kamu masuk SMP X, ya, di sana bagus. Dulu mama sekolah di situ. Di sana kamu bisa masuk akselerasi," kata Sang Mama.
Pion yang polos menurut. Melakukan apa yang diiinginkan Mamanya. Pion belajar dari pagi hingga malam. Mengeksploitasi si otak, memforsir dari kemalasan. Kelas akselerasi menguji kerja kerasnya. Pion nyaman-nyaman saja dengan kehidupan menengah pertamanya. Bahkan Pion bersyukur karena Sang Mama menyekolahkan Pion di sana. Sampai tahun ketiga, Pion masih tetap mengikuti alur. Alur yang dibuat oleh Mama dan Ayah. Masa-masa ini adalah masa bahagia Pion, begitu aku melihat dia.
Saatnya menapaki dunia menengah atas.
"Ma, Yah, Pion mau sekolah di SMA Z. Terus Pion mau ambil IPS."
Ayah menginterupsi. "Pion, kamu lebih baik sekolah di SMA Y. Itu tempat Ayah dan Mama ketemu loh. Juga itu SMA terbaik di kota ini. Dan kamu harus ambil IPA! Karena kamu di SMP akselerasi, di sana juga kamu pasti bisa akselerasi lagi."
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Pion tidak mengelak. Pion percaya, keputusan orang tuanya adalah yang terbaik. Dan Pion lagi dan lagi mengikuti arahan itu. Sekali lagi, tanpa tahu apa yang akan dilakukannya nanti.

***

Selamat datang di kehidupan Azale Cleva Alpion yang berbeda. Selamat juga kepada diriku, karena aku sedikit banyak melakukan peran mulai dari sini.
Aku tersenyum lebar ketika melihat Pion masuk ke kelas yang aku tempati kini setelah mencari namanya pada daftar absen di depan jendela. Pion melihatku juga, lalu menghampiriku.
"Oy, Bro! Nggak bosan apa Orva satu kelas sama Pion mulu." Pion meninju bahuku.
"Bosan, tapi, ya, gimana lagi." Aku nyengir, dan Pion tertawa.
Ya, bagaimana lagi. Aku berada di sini atas keinginanku sendiri, dan kamu, Pion, berada di sini karena kehendak orang tua kamu. Bosan yang aku maksud bukan bosan karena aku terlampau sering satu kelas dengan kamu, tapi bosan karena lagi dan lagi aku harus miris melihat kamu yang terkekang. Melihat kamu menjadi boneka. Berjalan atas perintah orang lain.
Pion menerima dirinya terombang-ambing, laiknya air yang mengikuti arus. Orang bilang, hiduplah seperti air mengalir. Tidak peduli rintangan apa yang menghadang, ia tetap menuju lautan. Tapi, bagaimana jika arus itu dibuat oleh orang lain? Hidup itu harus terkendali. Kita harus mengetahui hilir bagaimana yang kita inginkan. Jangan hanya, "Jalankan saja dulu". Jika terus berjalan tanpa tujuan, untuk apa?

***

"Orva, Pion capek."
Aku berjalan beriringan dengan Pion. Ah, jadi ingat masa kecil. Kami bermain bersama, dan selesai ketika Pion dipanggil oleh Mamanya. Semakin kami tumbuh dan berkembang, semakin jarang kami ke luar rumah. Kesibukan memenjarakan kami. Untungnya, kami terus satu sekolah plus satu kelas, jadi kami masih bisa berbagi cerita. Sewaktu kecil, aku pikir menjadi dewasa menyenangkan, tapi kenyataannya, semakin aku merasa dewasa, semakin aku ingin menjadi anak kecil kembali. Karena semakin dewasa, aku semakin tahu tentang dunia ini. Tahu mengenai makhluk-makhluk yang bertinggal di atasnya. Tahu perihal bermacam perangai yang menjadi topeng dunia ini. Semakin aku tahu, semakin aku takut. Bahwa menjadi dewasa adalah kau harus siap melangkah ke depan berhadapan dengan dunia yang penuh rahasia.
"Kemarin Pion latihan Renang. Apalagi sebentar lagi turnamen terakhir Pion di SMA, terus hari ini les Matematika, pastilah capek."
Aku merogoh saku untuk mengambil ponsel yang bergetar. "Nanti ke toko kelontong dulu. Aria pesan Teh Tarik."
"Pion capek gini terus. Pion capek menuruti Mama dan Ayah mulu. Kita ini akan dewasa, Orva. Pion baru sadar, Pion harus mengambil keputusan-keputusan besar di hidup Pion sendiri. Pion harus ke luar dari zona nyaman ini, meskipun Pion belum siap. Pion mau nggak mau harus siap. Walaupun berat, Pion harus bisa bertahan."
Oh, jadi itu. Sudah lama aku menunggu kamu lelah, Pion. Dengan semua ini. Setelah bertahun-tahun, kamu baru lelah sekarang?
Musim kemarau menyerah kepada musim hujan. Aku melihat Pion mendongak, memandang langit yang mendung. Pion mengembuskan napas seakan melepaskan sedikit demi sedikit beban yang diembannya, sejak lama. Pion, kamu menahannya, ya. Diri kamu mulai mengungkapkan kemauannya. Kamu mulai menciptakan jalanmu sendiri. Syukurlah, Pion, kamu mulai bisa mengatasinya dengan caramu.
"Lalu, Pion mau ngapain?"
Pion tercenung. Dia tidak menjawab. Dan toko kelontong ada di depan sana. Pion berlari. “Ayo, beli Teh Tarik untuk Aria!"
Selesai sudah perbincangan pada hari itu. Ditutup oleh hujan yang mengguyur kota. Meluruhkan obrolan kami tadi.

***

“HARI ANAK NASIONAL
IMPRESI DAN AURA ANAK DIFABEL INDONESIA
Buktikan Karyamu Bisa Membebaskan Mereka!”

Prospektus itu terpampang di Majalah Dinding di koridor sekolah. Pion membacanya dengan mata yang berbinar. Pion seperti menemukan sesuatu yang telah lama dicarinya. Aku tahu, Pion memang berempati terhadap mereka yang memiliki kekurangan. Setiap melihat mereka, jantungnya selalu berdesir. Setiap melihat mereka, matanya selalu berkaca-kaca.
"Pion tertarik?"
Pion menoleh. "Ah, ini? Nggak juga. Mama dan Ayah pasti nggak suka Pion bikin beginian. Mama dan Ayah mau Pion mengikuti jejak mereka. Mereka nggak suka Pion membuat tulisan-tulisan begitu." Lalu Pion melenggang, menyisakan aku yang membaca saksama prospektus itu.
Selang beberapa hari, aku menemukan secarik kertas yang dilipat di kolong meja Pion. Aku membacanya, lalu aku memukul dadaku pelan, rasanya... sesak. Aku tidak tahu Pion bisa membuat kalimat-kalimat seindah ini. Mungkin Pion tidak akan suka, tapi aku akan tetap melakukan itu. Aku membuat amplop, lalu memasukkan kertas itu, dan mencoretkan inisial Z. C. di bawah kanan amplop.

***

Keesokan harinya, Pion berlari ketika masuk kelas. Dia sibuk mencari sesuatu. "Orva, lihat sesuatu? Ya... semacam kertas?”
Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Aku tidak mungkin menjelaskan di tempat seramai ini. Aku membawa Pion ke belakang gedung sekolah. "Ayo, ikut. Aku tahu di mana kertas itu."
Aku membawa Pion ke bawah pohon rindang yang di bawahnya terhampar rumput. Tempat ini jarang dilewati oleh para siswa. Kita bisa merasakan angin yang menerpa kulit. Gemerisik daun yang membuat nyaman, rasanya alam bekerja sama untuk menenangkan hati manusia. Aku bersandar di salah satu bagian batang pohon. Aku meluruskan tangan kananku vertikal ke atas. Jari-jariku aku renggangkan untuk merasakan sinar piringan cahaya di langit melalui celah jari-jari. Aku tidak peduli Pion yang masih berdiri, menunggu penjelasanku.
"Surat itu udah aku masukkan ke kotak pengumpulan karya."
Pion tampak terkejut, dia mengepalkan tangannya. "Apa yang Orva lakukan? Udah Pion bilang, Pion nggak tertarik dengan lomba itu! Lagipula, itu nggak termasuk dalam kategori lomba!"
Aku menegakkan tubuh. "Memang. Aku melakukan itu bukan menginginkan Pion menang. Aku cuma mau mereka tahu, ada seseorang seperti Pion di dunia ini. Pion nggak bosan? Melakukan yang terbaik untuk orang lain, tapi bagaimana dengan Pion sendiri?"
Bagi Pion, hidup ini tidak lebih dari panggung pertunjukkan. Pion sudah bangun, bahwa selama ini dirinya memang bidak. Namanya panggung pertunjukkan, para pelakon harus memberikan yang terbaik untuk para penonton, seringnya, para pelakon tidak menghiraukan perasaannya sendiri. Yang tidak tahu diri, para penonton hanya bisa mengeluarkan banyak komentar, padahal pada dasarnya, penonton hanyalah "menonton". Para pelakon yang paling mengetahui tentang dirinya sendiri.
"Sebagai seseorang yang hidupnya sebagai pion, Pion bisa apa? Toh hidup ini juga drama, 'kan? Kita ini 'wayang' hidup yang dimainkan oleh 'tangan' Tuhan. Jadi, sama aja, 'kan? Mungkin Pion hidup memang ditujukan untuk itu!”
Angin terasa lebih kencang dari sebelumnya. Dan intesitas penekanan suara Pion meningkat.
Aku menghela napas. "Hidup ini memang drama, Pion. Kita memang didalangi, tapi kita diberi akal, dan kita 'bebas'. Dunia bukan panggung sederhana. Kita bukan pelakon biasa, Pi. Kita ini manusia. Makhluk paling sempurna. Allah memang menentukan, tapi kita diberi kebebasan untuk memilih. Setiap detik, selalu ada pilihan yang mengiringi kita."
Wajah Pion begitu tegang. Mungkin sudah lama dia menahan ingin meneriakkan isi hatinya.
"Orva itu beda dengan Pion! Orang tua Orva selalu mendukung Orva. Dari kecil, kita memang beda. Orva masuk sekolah di tempat yang Orva mau. Orva tahu? Pion nggak merasa kalo sekolah ini adalah sekolah Pion, bahkan sampai sekarang kita akan lulus, Pion masih bertanya, 'Kenapa aku berada di sini?' Jadi, Orva jangan sok tahu dengan kehidupan Pion!”
Tanpa dikomando, aku berdiri dan memukul wajahnya. “Sadar, Pion! Sadar! Aku ini tahu kamu semenjak kita kecil! Jangan bilang aku hanya sok tahu! Aku nggak akan melakukan itu kalau aku nggak tahu tentang Pion! Bangkit, Pion! Azale Cleva Alpion tidak selemah itu!” Aku mengatur napasku agar kembali normal.
Pion tidak membalasku, padahal tonjokkanku mampu menghasilkan percikan darah di sudut bibirnya. Pion duduk dan bersandar pada sisi lain batang pohon.
"Aku membebaskan diri, Pion. Aku membuktikan kalau yang aku mau pantas diakui. Tidak semudah itu aku mendapatkannya. Aku ini pemberontak.”
Aku mendengar desisan, "Tapi Pion tidak memiliki kemampuan itu."
Bukan tidak memiliki. Kamu hanya tidak mau. Kamu masih terlalu takut.
"Dan kalo aku bilang, Pion bukan pion biasa. Pion adalah Azale Cleva Alpion. Bunga yang tumbuh di padang kering. Kebebasan di puncak gunung. Pion yang bebas. Bahkan dengan usahanya, pion, bidak terlemah, bisa menjadi Sang Ratu, bukan?"
Aku menengok angka di arloji yang melingkar di jariku. Masih ada beberapa menit lagi sebelum bel berdering. "Aku memang nggak tau syariat yang ada di keyakinan Pion apa, tapi yang pasti, Azale Cleva Alpion itu hak Pion. Nikmat Tuhan yang diberikannya untuk Pion. Bukan hak orang lain."
"Kita memang diajarkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti bukan berarti harus diam ketika mereka mengambil kehidupan yang menjadi milik Pion. Pion bukan bidak. Pion nggak perlu menunggu untuk dijalankan, tapi Pion bisa bergerak bebas ke mana aja.”
Aku bangun. Membenahi seragam yang sedikit kusut karena duduk. "Kalau dunia ini tidak percaya dan tidak mendukung Pion masih ada Tuhan kamu dan diri kamu sendiri, Pion. Kalau tidak ada yang memberi Pion semangat, semangatilah diri Pion sendiri. Tapi, kalau Pion butuh orang lain untuk melakukannya juga, ada aku. Elfarin Orvala selalu mendukung Azale Cleva Alpion untuk mengalahkan musuh terbesarnya : dirinya sendiri."
Aku mengayunkan kaki, tanpa menoleh lagi, dan tanpa tahu jika Azale Cleva Alpion tersenyum bersama dengan embusan angin yang membawa terbang harapan-harapannya.

***

Sorot lampu benderang dari setiap sudut. Orang-orang berdatangan dari dua pintu. Dua orang MC berdiri di panggung sana menyambut mereka yang merupakan pemeran utama dalam acara ini. Mereka yang menggunakan kursi roda atau alat bantu lain. Mereka yang tidak dapat melihat betapa terangnya cahaya di gedung ini dan bahwa mereka menapaki karpet merah yang dikhususkan untuk mereka. Mereka yang tidak bisa mendengar kemarakan dan musik yang mengalun merdu seantero ruangan. Anehnya, euforia di sini sampai ke dalam jiwa mereka, tampak dari wajah mereka yang berseri dan kebahagiaan mereka terasa kepada orang-orang di sekitar mereka.
Sepanjang acara, puisi-puisi para pemenang sudah dibacakan; cerpen-cerpen dibagikan kepada mereka atau wali mereka untuk dibacakan; buku-buku pun sudah dihadiahkan bagi mereka yang memenangkan games. Penerimaan hadiah dan sertifikat sudah selesai dilaksanakan. Seharusnya daftar acara sudah seluruhnya dilakoni, tapi MC mengomando, ada satu sesi lagi untuk pembacaan surat.
"Ada satu amplop yang kami temukan di kotak pengumpulan karya. Tentu saja karena karya tersebut tidak termasuk kategori yang kami lombakan, karya tersebut kami diskualifikasi. Karya tersebut adalah sebuah surat. Dibandingkan suatu karya, kami lebih suka menyebutnya sebagai isi hati seseorang yang tulus. Atas kehendak Kepala Sekolah dan seluruh panitia, kami akan membacakan surat ini. Sebelumnya kami berterima kasih kepada si pengirim, karena suratnya begitu indah. Untuk penerjemah, silakan temani kami kembali berdua di sini."
"Surat 'Untuk Kita Para Peraih Masa Depan' oleh Z. C."
Lampu pun meredup. Menyisakan satu sorotan di tengah panggung.

Teruntuk, adik-adik manis

Halo.
Saya manusia yang bertempat di bumi, galaksi bimasakti.
Saya tidak jarang mengamati kamu, manusia yang mungkin merasa berbeda.
Jika kamu merasa dunia ini terlalu menyakitkan, kamu membenci keadaanmu, jangan menyalahkan siapa pun.

Bersyukurlah. Kamu hidup. Kamu hidup itu lebih berharga dibandingkan semua masalah yang kamu hadapi. Kamu berharga. Jika bukan untuk orang lain, kamu berharga untuk dirimu sendiri. Bayangkan, betapa menyakitkannya Tuhan melihat para makhluk-Nya yang meratapi kehidupan yang Dia berikan?

Saya tidak jarang melihat kamu yang lebih hebat dari orang biasanya. Mungkin ada di antara kalian terbersit pikiran, "Kamu bukan kami, kamu tidak merasakan yang kami rasakan, jadi, bagaimana kamu bisa mengerti?"
Tapi, kita sama. Sama-sama ciptaan Tuhan. Makhluk yang memiliki banyak dosa. Bukan malaikat atau iblis. Kita sama. Kita manusia.

Hanya karena saya tampak normal, bukan berarti saya lebih baik dibanding kamu 'kan? Kekurangan tidak akan menjadi kekurangan, jika kamu tidak melihatnya dari "kacamata" itu.

Oh iya, saya pernah mendengarkan cerita dari guru saya, kata beliau, sebelum manusia dilahirkan ke dunia, Tuhan memberikan pilihan (bahkan sebelum menjadi penghuni bumi, kita sudah dibiarkan untuk memilih) untuk dilahirkan atau tidak. Dan untuk seluruh manusia di bumi, kitalah yang memilih untuk menapakkan kaki di sini.

Dan guru saya juga bilang, mereka yang dilahirkan adalah manusia-manusia kuat. Mereka yakin bisa, lalu memilih, setelah itu mereka terlahir.
Sayangnya, manusia dibuat lupa dengan pilihannya sendiri. Tapi saya selalu yakin, setiap manusia yang dilahirkan pasti memiliki tujuan tertentu. Apa pun itu.
Temukanlah "tujuan" itu.

Jadi, bagaimana pun keadaanmu, kamu pasti bisa menanganinya. Saya tidak tahu manusia lain berpikir apa tentang saya, tentang kamu, dan kita pun tidak bisa memaksakan mereka untuk berpikir sebagaimana yang kita mau. Tapi, biarkanlah. Tidak perlu repot-repot untuk membuat mereka mengerti. Setidaknya kita memiliki Tuhan dan diri kita sendiri.

Yang paling membutuhkan kita adalah diri kita sendiri!
Saya pun pernah merasa terkekang dari sekitar, terus-terusan mengeluh, merasa kurang beruntung, tapi saya kembali meyakini diri sendiri kalau Tuhan akan selalu ada untuk saya.

Tidak perlu membuang waktu untuk mengagumi betapa cantiknya wanita itu, betapa anggunnya mereka. Tidak perlu menyiakan hidupmu untuk sekadar "betapa beruntungnya mereka". Kelahiranmu di dunia itu sungguh anggun.

Teruntuk kamu, adik-adik manis
Janganlah terus "melihat" orang lain. Lihatlah ke dalam dirimu sendiri. Kamu bebas untuk bebas. Kamu berhak untuk tersenyum dan bahagia.
Saya pikir semua orang memiliki potensi untuk bahagia.

Tapi, jika kamu memang membutuhkan penerimaan dan pengakuan dari yang lain, percayalah, suatu saat nanti akan ada satu orang, dua orang, atau berapa pun yang menghargai kehadiranmu. Yang akan menjadikanmu harta paling berharga untuk mereka.

Tuhan selalu ada untukmu. Setiap waktu. Dia tidak akan pernah mengkhianatimu.
Tidak ada yang tidak pantas untukmu.
Dan, percayalah, meskipun itu nanti, kita pasti akan menemukan kebahagian.

Tunggu saja.
Dari Manusia yang Belajar Memanusiakan Manusia Lainnya.


Di keremangan cahaya, aku disenggol oleh Pion yang matanya menatap ke arah panggung. Di tengah riuh tepuk tangan, aku masih bisa mendengar ucapan Pion.
"Orva, Pion ingin mengajari mereka. Pion ingin menjadi orang yang percaya dan bangga terhadap mereka. Pion ingin menjadi tempat keluh kesah mereka. Pion ingin membebaskan mereka."
Air mata sialan. Lelaki macam apa yang menangis hanya karena teman sejak kecilnya mengungkapkan keinginannya. Ini langkah awal, Pion. Hidupmu baru dimulai. Aku menyambutmu, Pion. Selamat datang.
Sejak saat itu, Pion tidak peduli ada yang mendukung atau tidak. Pion tidak peduli mereka percaya atau tidak pada citanya. Ini hidup Azale Cleva Alpion. Dan masa depannya ada di genggamannya. Orang lain boleh berbicara apa pun, boleh berkomentar sedemikian rupa, yang pasti, semuanya bergantung pada dirinya sendiri. Sejak saat itu juga, aku melihat Pion yang berbeda. Pion yang bertranformasi untuk menjadi Sang Ratu. Pion yang berusaha keras membuktikan bahwa impiannya pantas berada digenggamannya. Pion yang merentangkan sayap-sayap kebebasan.

***

2018
Setelah SMA, kami memang tidak sering bertemu. Perguruan Tinggi kami berbeda kota. Tapi setiap liburan, aku menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Seperti saat ini, aku akan bertemu dengan Pion di tempat pelatihannya. Entah bagaimana ceritanya, Pion berhasil meyakinkan orang tuanya untuk bergelut di dunia Pendidikan, terutama di Pendidikan Luar Biasa. Yang aku tahu, Pion tidak mengikuti turnamen Renang terakhirnya di SMA, dia berlatih dengan ribuan soal agar bisa mengejar materi untuk lolos jurusan itu. Mungkin itu pertama kalinya meminta sesuatu kepada orang tuanya. Dia hanya ingin bermimpi dan berharap, lalu mewujudkannya.
Aku melihat Pion sedang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan anak-anak. "Pion!" Aku berteriak.
Pion menoleh, wajahnya berseri. "Orva!"
Aku mendekat. "Apa kabar?"
"Baik sekali. Oh, iya!" Pion membawa dua anak yang tadi sedang diajaknya bicara. "Ini teman Kakak. Namanya Kak Orva. Orva, ini Melayu, dan ini Alna."
Pion menuliskan namaku menggunakan jari telunjuk di telapak tangan salah satu dari anak itu. Mereka tersenyum dan mengulurkan tangan. Ah, inikah dunia yang Pion inginkan?
Aku membalas jabatan tangan mereka. Setelah itu, mereka kembali bermain.
“Bagaimana di sini? Senang?”
“Jadi ini yang disebut kebebasan, ya. Pion bersyukur, Orva. Dulu Pion memang terkekang. Pion kecewa, tapi Pion memiliki teman luar biasa seperti kamu.”
Pion menepuk bahuku dua kali. "Orva, tunggu di sini! Pion membantu mereka ke dalam kelas dulu."
Aku mengacungkan jempol. Aku memandang Pion yang tertawa bersama anak-anak. Rasanya, ini yang dinamakan teman. Kau akan bahagia, kau akan bangga dengannya jika dia mencapai apa yang dia harapkan. Dan kau akan menyunggingkan senyuman juga ketika dia tertawa.

***

Dunia adalah tempatnya paradoks merajalela. Ketidakmungkinan hanyalah anggapan. Ketidakpercayaan, cercaan, dan hinaan hanyalah secuil tantangan yang hanya perlu pembuktian. Kita akan bisa, jika kita percaya.

Terima kasih, karena sudah membuktikan kamu bisa. Terima kasih, karena sudah menunjukkan perjuangan yang begitu luar biasa, hingga para mata tidak sanggup membendung hujannya. Terima kasih, karena telah menjadi bukti nyata bahwa janji Allah benar adanya. Terima kasih, karena telah mampu bertahan dan baik-baik saja.

Terima kasih Azale Cleva Alpion.
Karena telah sukses menjadi bukti,
untuk mereka dan untuk kita.

Namanya Azale Cleva Alpion. Bagi mereka, Pion adalah bidak. Bagiku, Pion adalah kebebasan. Ini bukan kisahku. Ini adalah kisahnya meraih kebebasan. Bahkan ketika ia sudah menggapai kebebasannya, Azale Cleva Alpion masih dan akan selalu menjadi temanku. Selamat, karena telah menjadi manusia.

________________
*Cantika Putri, siswi Kelas XII-2 SMA Negeri 1 Ciawi.

(Penyunting: Edyar R.M.)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "KEPAK KEBEBASAN"

  1. Keren emang 'pacar' gue ini, sukses selalu. Teruslah menulis, teruslah berkarya!

    ReplyDelete