KIAT MENULIS FEATURE






FEATURE, MAKHLUK APAKAH ITU?


Maaf judul materinya mengada-ada. Santai ....

Kali ini kita akan membahas salah satu jenis tulisan jurnalistik yaitu feature. Dalam ilmu jurnalistik, feature merupakan salah satu bentuk tulisan nonfiksi, dengan karakter human interest yang kuat, namun tidak selalu harus mengikuti asas 5W + 1 H. Feature lebih bersifat menghibur, isinya kadang sesuatu yang remeh dan luput dari liputan wartawan straight news. Ia bisa ditulis dan dipublikasikan kapan saja. Tak lekang oleh waktu.

Menulis feature lebih santai, tidak dikejar waktu, dan bisa mengangkat tema apa saja. Konsekuensinya, nilai beritanya tidak hard alias soft. Meskipun dengan gaya santai dan cenderung bercerita, tetapi tulisan feature tetap menyodorkan fakta. Jelas sekali bedanya dengan cerpen atau novel.  A feature is a story about facts, not about fiction, kata orang bule.

Menurut pakar jurnalistik, Wolseley dan Campbell, terdapat enam jenis feature:
1. Feature minat insani (human interest feature)
2. Feature sejarah (hystorical feature)
3. Feature biografi/sosok (biografical feature)
4. Feature perjalanan (travelogue feature)
5. Feature yang mengajarkan keahlian (how-to-do feature)
6. Feature ilmiah (scientific feature)

Mari kita lihat unsur-unsur penting yang menunjang penulisan feature yang baik. Penulis mengutip dari buku Pedoman Dasar Penulisan, Arthur J. Horoni (editor), Yayasan Komunikasi Masyarakat (YAKOMA PGI), Jakarta, 1998.

1.      Deskripsi
Deskripsi adalah penggambaran sesuatu objek secara terinci, yang diamati melalui pancaindera: mata, hidung, lidah (untuk rasa) dan kulit (untuk suhu, kasar-halus, tajam-tumpul, dan lain sebagainya). Penulisan deskriptif merupakan gabungan beberapa kecakapan penulisnya: pengumpulan bahan reportase, kemampuan observasi tinggi, pengetahuan tentang manusia sesuai dengan pengalaman reportase, dan kemampuan yang baik untuk meramu kata-kata secara ringkas dan efektif. Menulis deskriptif sama dengan memotret dengan kata-kata.

2.      Fantasi
Fantasi atau imajinasi, membuat feature menjadi memukau seperti sebuah cerita. Memang dibutuhkan kemampuan bercerita yang baik untuk membuat sebuah feature menjadi rangkaian kata-kata yang menarik. Kesimpulannya, penulis feature mestilah tukang cerita yang baik.

Anekdot
Anekdot, atau humor-humor singkat perlu disisipkan agar feature menjadi segar, tidak ruwet. Dengan begitu tulisan tidak kering atau dingin, seperti pada berita langsung.

4.      Kutipan
Untuk penyegar juga dibutuhkan kutipan. Bisa kutipan hasil wawancara yang menarik dan otentik, kutipan sajak, atau mungkin kutipan syair lagu. Boleh jadi penggalan sebuah novel yang ada hubungannya dengan berita kisah yang kita buat. (OK)

***


Di bawah ini contoh tulisan feature sosok yang penulis buat untuk Majalah Guneman edisi 11.


KANG OPIK, TOKOH PELESTARI BAHASA DAERAH

“Sakawitna, 35 taun ngiring miara, ngarawat, mageran, sareng ngamulyakeun basa Sunda ku rupi-rupi tarèkah sareng kagiatan tèh, èstu lillahita'ala, karana ibadah, sanès alatan ngudag hadiah.”

Itulah sepenggal kalimat yang terucap dari sosok seniman dan budayawan Jawa Barat, H. Taufik Faturohman, ketika Majalah Guneman (MG) bertandang ke rumahnya di kawasan Jalan Setiabudi, Bandung. MG bermaksud membincang tentang penghargaan sebagai Tokoh Pelestari Bahasa Daerah tahun 2016 yang diterima H. Taufik Faturohman dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pria kelahiran Pagerageung, Tasikmalaya ini menuturkan, apa yang telah dilakukannya selama ini sebenarnya belum sebanding dengan kiprah tokoh-tokoh Sunda lain dalam melestarikan bahasa, seni, dan budaya Sunda. Namun penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini menjadi pendorong dan penyemangat dirinya untuk terus berkiprah dalam upaya pelestarian bahasa Sunda. Penghargaan tersebut diserahkan Mendikbud Muhadjir Effendy, 28 Oktober 2016, di Hotel Bidakara, Jakarta, dalam rangkaian acara Bulan Bahasa dan Sastra.

Sosok H. Taufik Faturohman atau akrab disapa  Kang Opik, memang tidak asing lagi dalam kancah seni dan budaya Sunda sekarang ini. Seniman banyol ini panceg menjalani aktivitas seni dan budayanya dalam aroma kesundaan. Sebagai penulis, penyiar radio, dan host televisi, Kang Opik tetap bergeming untuk menggunakan bahasa Sunda. Penerbit Geger Sunten miliknya pun tetap konsisten hanya menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda sejak tahun 80-an.

“Tidak apa-apa manggung honornya kecil, asal menggunakan bahasa Sunda. Kalau memakai bahasa Indonesia, Akang mah suka kararagok,” kelakar penyuka baso Gunungpereng di Tasik ini.

Seabreg kegiatan dilakukan mantan Ketua Harian Persib ini dalam upaya ngamumule bahasa Sunda. Kang Opik menulis buku pelajaran dan sastra Sunda, mengisi rubrik bahasa Sunda di beberapa media masa, menjadi penyiar radio dan host televisi dalam format acara Sunda dan dikemas secara humor. Majalah Humor Cakakak pun pernah pula ia terbitkan. Memang humor bagi Kang Opik tak terlepas dari hidupnya, seolah makanan pokok kedua setelah nasi dan pais lubang (pepes ikan sidat) favoritnya.

Inovasi tiada henti, seperti jargon iklan motor, di ranah pelestarian bahasa daerah dilakukan pria kelahiran 1959 ini. Mengikuti tren kekinian, mantan Ketua Komunitas Sulap Bandung ini mengemas pelajaran Bahasa Sunda dalam bentuk magic show dan dongeng yang diberi nama Sudong (Sulap jeung Dongeng) dengan sasaran anak-anak sekolah. Stand up comedy yang sedang booming sekarang ini pun dimodifikasi Kang Opik menjadi stand up versi Sunda dengan nama Borangan (Ngabodor Nyorangan), ditayangkan sebuah televisi lokal di Bandung dan youtube, yang kini sangat digandrungi masyarakat.

Setahun terakhir, Kang Opik membuka kursus 3 Jam Maher Basa Sunda secara berkala dan gratis. Membuat grup Facebook Majalah Cakakak beranggotakan 55.000 Cakakers, dan Grup Carponn (Carita Pondok Naker) beranggotakan 5.500 Wadya Balad Carponn, sebagai lahan untuk berlatih menulis dalam bahasa Sunda. Setelah sempat menjadi Ketua Umum LBSS (Lembaga Bahasa  dan Sastra Sunda) periode 2006 - 2011, kini Kang Opik didaulat menjadi Ketua Dewan Pengawas LBSS. Selain itu, kini ia mendapat julukan baru sebagai “dokter” di Grup WA Kilinik Basa. Dedikasi dan spirit Kang Opik dalam pelestarian bahasa dan sastra Sunda memang tidak diragukan lagi.

“Mungkin seabreg aktivitas tersebut yang menjadi perhatian Kemendikbud,  sehingga akang mendapat penghargaan sebagai Tokoh Pelestari Bahasa Daerah. Satu hal yang menjadi kebanggaan atas penghargaan tersebut bisa mengalahkan ratusan calon lain dari setiap provinsi se-Indonesia,” pungkas Kang Opik sambil terkekeh. Derai tawa mengakhiri perbincangan MG dan Kang Opik sore itu yang dingin dan sejuk menusuk di kawasan Bandung Utara. (Oesep Kurniadi)

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "KIAT MENULIS FEATURE"