KONSEP UNITY PADA KURIKULUM PENDIDIKAN SENI SMA


KONSEP UNITY PADA KURIKULUM PENDIDIKAN SENI SMA
Oleh: Dr. IHadijah, M.Pd.

Istilah kurikulum dalam pendidikan merupakan salah satu bagian terpenting yang merujuk pada jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman dan mencapai titik akhir. Kurikulum juga dapat dimaknai sebagai seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnya memuat tentang isi dan bahan-bahan pelajaran disertai dengan adanya pedoman-pedoman untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam sebuah satuan pendidikan.
Setiap orang tentu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga jenjang pendidikan tinggi. Mulai dari pendidikan di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Karena konsep dasar pendidikan merupakan suatu harapan yang sangat penting dalam menjalankan peranan (role) seseorang dalam kehidupannya di masyarakat. Dalam konsep dasar pendidikan tentunya kurikulum merupakan jantungnya pendidikan itu sendiri.

Kurikulum pendidikan seni di SMA dalam konsep pendidikan yang bersifat utuh dan menyeluruh harus mampu mengarahkan pada pencapaian kompetensi baik dalam hal merasakan estetika bidang rupa, tari, musik, teater, ataupun multimedia.Konsep kurikulum dalam pendidikan seni di SMA harus mampu menjabarkan substansi ekspresi, substansi kreasi, dan substansi keterampilan. Substansi-substansi tersebut diarahkan melalui cipta, rasa dan karsa. Melalui ketiga hal tersebut maka proses dalam pendidikan seni akan dapat membentuk kreativitas siswa dalam mencipta, menuangkan ide, berimajinasi, dan berbagai gagasan seni. Bentuk real dari berbagai gagasan seni dilakukan melalui tahapan mengamati, merasakan, dan mengapresiasi objek baik berupa objek fisik, gerak maupun makna bentuk dari sebuah objek.

Kurikulum dalam pendidikan seni di SMA lebih bersifat membantu secara tidak langsung terhadap berbagai kebutuhan manusia. Karena secara tidak sadar melalui pendidikan seni maka siswa akan mengetahui tingkat apresiasi terhadap segala hasil tingkah lakunya. Dalam konteks pendidikan seni di SMA dan melalui kurikulum yang diterapkan maka posisi seni harus mampu menjadi media transfer of learning dan transfer of value dari berbagai mata pelajaran yang lain.

Kurikulum dalam pendidikan seni di SMA dirancang sebagai bentuk apresiasi dan kreasi yang substansinya terintegrasi dengan aspek-aspek konsepsi sebagai suatu bentuk unity atau kesatuan dalam sebuah pembelajaran. Hal ini disebabkan karena pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.

Konsep multilingual pendidikan seni SMA merupakan sebuah konsep yang menekankan bahwa pendidikan seni harus mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam mengekspresikan diri melalui berbagai cara dan media. Konsep multidimensional menekankan pada pengembangan kompetensi, persepsi pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktifitas dalam mengembangkan fungsi otak kanan dan otak kiri dengan cara memadukannya secara harmonis melalui unsur-unsur logika, etika dan estetika. Konsep multikultural menekankan bahwa pendidikan seni harus mampu menumbuh kembangkan kesadaran dan kemampuan siswa dalam berapresiasi terhadap berbagai keragaman budaya nusantara dan mancanegara sebagai sebuah wujud bentuk sikap menghargai, bertoleransi demokratis dan beradab, serta mampu hidup rukun dalam sistem budaya yang bersifat heterogen.

Pendidikan seni di SMA yang dijabarkan dalam kurikulum memiliki peranan penting dalam pembentukan pribadi yang harmonis dalam aspek logika, aspek rasa serta aspek etika. Melalui peranan yang dijabarkan dalam berbagai aspek tersebut tentu sangat membantu menumbuhkembangkan siswa dalam mencapai kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan moral. Hal tersebut secara komprehensif termuat dalam kurikulum pendidikan seni di SMA yang dilakukan dengan cara mempelajari elemen-elemen, prinsip-prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam seni sesuai dengan konsep keindahan dalam konteks sosial budaya masyarakat.
Seni dalam konsep pendidikan di SMA tentu memiliki peranan yang besar dalam proses pengembangan kreativitas, kepekaan rasa dan inderawi, serta kemampuan berkesenian melalui pendekatan : belajar dengan seni, belajar melalui seni, dan belajar tentang seni. Kurikulum dalam pendidikan seni di SMA pada dasarnya merupakan sebuah cara untuk mengilustrasikan pengalaman pribadi, mengeksplorasi, dan melakukan pengamatan terhadap elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya yang senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai budaya serta keindahan dalam kehidupan masyarakat yang beragam.

Kurikulum dalam pendidikan seni SMA tentu harus mengacu pada prinsip pengembangan kurikulum secara umum yakni memiliki relevansi, fleksibilitas, kontinuitas,praktis, dan efektif. Relevansi kurikulum dalam prinsip pengembangan kurikulum secara lebih jelas harus berorientasi baik pada relevansi yang bersifat ke dalam maupun relevansi yang bersifat ke luar. Relevansi yang bersifat ke dalam tentu tetap mempertimbangkan adanya kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen dalam kurikulum berupa tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian yang menunjukkan adanya keterpaduan kurikulum itu sendiri, sedangkan relevansi keluar mengandung arti bahwa tujuan, isi, dan proses harus relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
Kurikulum dalam pendidikan seni di SMA harus mampu pula membentuk siswa menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan di masa yang akan datang dengan tetap memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan proses penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu,  maupun kemampuan. Berkaitan dengan hal-hal tersebut maka kurikulum dalam pendidikan seni di SMA tentunya harus bersifat continue atau berkeseimbangan.

Proses pelaaksanaan kurikulum dalam pendidikan seni SMA harus lebih bersifat praktis dan mudah untuk dilaksanakan guna untuk mencapai efektifitas yang baik. Aspek efektifitas dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan seni berkenaan dengan pencapaian keberhasilan dari pelaksanaan kurikulum itu sendiri baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Kurikulum pendidikan seni di SMA juga harus mampu memberikan penjabaran dari perencanaan pendidikan berdasarkan kebijakan – kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu dalam proses pengembangannya harus senantiasa diperhatikan kaitan antara aspek-aspek utama dalam kurikulum seperti tujuan, isi, pengalaman, serta penilaian dengan tetap mengacu pada kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Prinsip pengembangan kurikulum pendidikan seni di SMA tentu tidak lepas dari konsep tujuan pendidikan secara umum. Karena tujuan pendidikan merupakan sebuah pusat dari seluruh kegiatan dalam pendidikan. Oleh karena itu perumusan tiap-tiap komponen pendidikan harus senantiasa selalu mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dan bersumber pada kebijakan pemerintah dan persepsi kebutuhan masyarakat. Isi pendidikan dalam perencanaan kurikulum pendidikan seni di SMA perlu memperhatikan pula penjabaran tujuan dalam bentuk substansi yang memuat aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersifat logis dan sistematis.






Dr. Ijah Hadijah M.Pd.
Dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, pada tahun 1978. Alumni Program Doktoral Pendidikan Seni S3 Univesitas Negeri Semarang. Sebagai PNS Guru Pendidikan Seni di SMAN 2 Kuningan, sebagai narasumber seminar Nasional dan Internasional bidang seni dan kebudayaan serta aktif menulis jurnal nasional dan internasional, buku, dan artikel di media online suarakuningan dan tabloid PGRI Kab. Kuningan

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KONSEP UNITY PADA KURIKULUM PENDIDIKAN SENI SMA"

Post a Comment