Mengenang Sekolah Editing pada Malam Eksekusi


oleh : Ummi Mujahidah


"Sesungguhnya Allah sangat senang, bila seseorang di antara kalian bekerja dengan Tepat, Tekun dan Teliti." (HR. Bukhori). Hadits ini pas sekali untuk editor. Aku sudah lama menulisnya di buku anekdotku. Aku suka kalimatnya, memotivasi sekali. Entah bagaimana bunyi aslinya, pastinya dalam Bahasa Arab, yang tidak kupahami.

Memang, menjadi editor harus tepat menentukan salah-benar dalam tulisan. Sebab bila yang sudah benar disunting lagi, malah jadi kacau, kan? Atau yang salah tak dianggap salah, tak benar kerja kita.
Oleh karenanya ia harus teliti dan tekun, menyimak, mengupas, setiap kata, kalimat berikut segala etika penulisan.

Tentu saja itu bukan perkara mudah. Bukan kerja sekali pandang. Tetapi harus menghadirkan hati dan akal, menghidupkan perasaan dan pikiran. Meskipun dead line menyeringai, siap mematikan langkah kita.

"Harus siap bekerja di bawah tekanan!" Itu kata Sang Suhu. Mantap benar syaratnya. Disamping seabreg syarat lain yang mutlak harus kita genggam. Penggemblengan menjadi seorang editor, mirip dengan sekolah militer. Cuma karena ada di Negeri Bahasa, semua dilakukan dalam kata-kata.

Peluit melengking, tak kan membuat kita tuli. Tamparan keras, tak membuat kita lebam. Cuma nuansanya dapet, he he. Satu prit saja, membuat kita deg-deg plas. Belum kalau kebetulan sedang latihan menyerang. Kita sendirian ... di-prit kiri-kanan oleh banyakan. Wah, seru-seru serem. Cukup meningkatkan adrenalin.

Hanya orang-orang yang mencintai kata yang bisa bertahan di sekolah itu. Yang di dalam jiwanya sudah tersemat kokoh, jiwa literat. Dan orang itu adalah kita, kawan.

Katanya malam ini malam eksekusi. Malam yang menegangkan. Aura panasnya, makin terasa sejak dua hari yang lalu, ketika Sang Suhu memberi tembakan peringatan. Ada yang langsung tiarap. Ada yang melenggang tenang. Ada juga yang terus berjalan, meski dengan posisi siaga penuh.

Kalaulah ini perhelatan terakhir, anggaplah ini hidangan penutup dariku. Bila esok lusa, kita berbeda ruangan, semoga silaturahmi tetap terjalin. Karena dunia kita sama, kita pasti akan tetap berpapasan. Aku yakin, tak lulus dari sini, tak serta merta kita membuang kata dalam seluruh memori.

Sebab aku yakin, kau ..., aku ..., dan semua peserta sekolah ini sudah terlanjur jatuh cinta pada Negeri Bahasa. Kau tahu, seorang pecinta sejati akan tetap memelihara rasa cintanya, meski tak bisa meraih orang yang dicinta. Begitulah kita, kelak, usai eksekusi.

Ah, tiba-tiba lidahku kelu. Meski menangis tak menyelesaikan masalah, tapi air mata punya hak mewakili kesedihan. Dan hati ... duhai, hampanya sudah terasa, tatkala sadar sebentar lagi akan ada yang tereliminasi.
Beri aku semangat, kawan. Bagaimanapun, berjuta kenangan manis, tak mudah untuk ditinggalkan.

(Cinunuk, 11 Maret 2019, 22.08)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenang Sekolah Editing pada Malam Eksekusi"

Post a Comment