MENGUAK PENDIDIKAN KARAKTER ALA RASULLULAH SAW


oleh: Ineu Maryani, M.Pd.*)


Salah satu jargon pendidikan kita saat ini adalah penguatan pendidikan karakter yang diatur menurut Permendikbud nomor 20 Tahun 2018. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  tersebut ada  lima  karakter utama  yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik, yaitu: religiusitas, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Berbagai cara dilakukan di sekolah untuk menumbuhkan kelima karakter utama di atas, mulai dengan cara pembiasaan maupun dengan spontanitas dan ikhtiar lainnya, yang ujung muaranya kepada  penanaman karakter baik dalam diri siswa. Bahkan sekira 70% pendidikan dasar , jenjang  SD dan SMP harus bermuatan karakter
Peran guru pada penguatan pendidikan karakter di sekolah merupakan  ujung tombak yang sangat penting, karena guru tidak hanya berperan sebagai pengajar saja, tetapi juga adalah sebagai pendidik, sehingga keteladan guru dalam sikap, ucapan dan tindakannya akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Apabila kita merujuk bagaimana Rasullulah SAW membangun karakter mulia pada murid-muridnya sungguh sangat luar biasa. Masyarakat  jahiliyah yang dirubah secara total menjadi masyarakat  dengan karakter-karakter mulia yang tiada tandingannya. Rasullulah SAW mampu merubahnya dalam waktu yang sangat singkat, karena ternyata Rasullulah SAW mampu merubahnya dengan karakter/akhlak  mulia yang dimilikinya. Teladan yang baik, bahkan bisa mewakili ribuan kata-kata nasehat.
Contoh nyata murid Rasullulah SAW yang sukses berkarakter adalah Ali bin Abi Thalib, sosok remaja usia 9 tahun yang diajari dan di didik langsung  oleh Rasullulah Saw., sehingga Ali bin Abin Thalib menjelma menjadi remaja yang memiliki karakter religius yang tidak diragukan lagi, memilki jiwa nasionalis yang siap mengorbankan apapun demi memperjuangan  negerinya, bahkan siap mengorbankan nyawanya sekalipun. Tentang kemandirian sikapnya, tidak pernah goyah keyakinannnya terhadap keyakinannya  walaupun ayahnya Abi Thalib tidak sepaham dengannya.
 Tentang karakter gotong royong dan kebersamaan, Ali bin abi thalib adalah sahabat Rasullullah Saw., yang selalu bekerjasama dan saling membantu  dengan sahabat-sahabat lainnya tanpa pamrih untuk bersama-sama berintegritas terhadap komitmen dirinya terhadap kebenaran. Komitmen yang teguh, disertai  kesiapan menghadapi konsekwensinya serta konsistensinya yang tidak diragukan lagi.
Begitulah Rasullulah Saw mampu mencetak generasi berkarakter  sehebat Ali bin Abi Thalib yang terekam sejarah peradaban Islam, bahkan Ali bin Thalib menjadi khalifah sampai akhir hidupnya. Begitupun  Zaid bin Haritsah pemuda yang dididik langsung melalui ‘tangan dingin’ Rasullullah Saw., yang sedemikian mampu merubah pola pikir, pola sikap dan pola tindak yang jahiliyah menjadi pola pikir, pola sikap dan melahirkan pola tindak yang akhlakul karimah.
Keberhasilan yang gemilang ini salah satu faktor penentunya adalah  karena Rasullullah Saw., memiliki karakter guru ideal  yang dapat menjadi contoh dan anutan pada saat itu. Sehingga contoh dan teladan ini patut diikuti dan diaplikasikan oleh  guru dalam dunia pendidikan umumnya bagi siapapun yang ingin mengikutinya agar penguatan pendidikan karakter yang dicita-citakan dapat terwujud
Rasullullah Saw  memperlakukan murid-muridnya sehingga  pencapaiannya sangat luar biasa, terangkum dalam sifat profesionalnyasebagai guru, yaitu penuh dengan kecintaan dan  penghargaan terhadap murid-murid, yang secara ringkas dipaparkan sebagai berikut :
a. Kecintaan, Selalu memperhatikan murid-muridnya, bersikap ramah kepada murid-muridnya, menjadikan muridnya teramat penting, karena pada dasarnya semua manusia itu ingin diperhatikan, janganlah guru lebih menonjolkan dirinya dengan kata-katanya dihadapan peserta didik, kalaupun guru memililki kelebihan, peserta didik dapat melihatnya melalui karyanya.
Prinsipnya setiap peserta didik ingin diperhatikan. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Tahbrani, Abu Hurairah menceritakan, “Bahwa  tiada seorang yang menjabat tangan Rasullullah Saw., lalu beliau menarik tangannya, sebelum orang itu sendiri yang melapaskan tangannya terlebih dahulu. Dan tidak kelihatan lututnya keluar dari lutut orang yang duduk bersama beliau (mendahului berlalu).
Sambutlah jabat tangan peserta didik dengan sungguh-sungguh, Sebab, “kesempatan penghormatan Anda terhadap seseorang, “ demikian sabda Nabi Saw., “ialah dengan menjabat tangannya!” , Janganlah guru bersikap angkuh tehadap peserta didik karena menganggap peserta didik membutuhkan nilai darinya sehingga guru jadi semena-mena.  Sambutlah peserta didik dengan hangat dan ramah serta penuh kecintaan seorang guru terhadap muridnya, sebagaimana layaknya Nabi memperlakukan murid-muridnya.
Kecintaan seorang guru untuk menumbuhkan karakter baik adalah dengan menghargai perasaan peserta didik, ketika peserta didik melakukan kesalahan tidak langsung menyalahkan, tapi ditanyakan alasan apa yang membuat peserta didik membuat kesalahan, dan bersikap lemah lembutlah, sebagaimana hadis Nabi Saw. Yang diterima dari ‘A’isyah mengatakan, “sesungguhnya sikap lemah lembut tidak ada pada suatu perkara, melainkan akan membuatnya baik; dan tidak tercabut sikap itu dari suatu perkara, melainkan akan menjadikannya buruk!” (HR Muslim)
Banyak kalangan yang menyangsikan dengan mengatakan bahwa kalau peserta didik diperlakukan lemah lembut, maka tidak akan jera dan tidak akan kapok, padahal sudah jelas bahwa dengan kekerasan, walau peserta didik ‘menurut’ tapi jauh dilubuk hatinya peserta didik yang dimarahi akan merasa sakit hati dan parahnya hal itu akan ditiru oleh mereka, bahwa untuk menyelesaikan persoalan cenderung menggunakan kekerasan. Guru alangkah baiknya jika selalu peka terhadap perasaan peserta didik, sebab Rasullullah adalah tipe manusia seperti itu, tugas guru adalah mendidik, bukan menyakiti.
Kecintaan guru terhadap peserta didik adalah membuat mereka merasa penting.Rasullullah sering menunjukkan betapa sahabat-sahabatnya yang notabene adalah murid-muridnya teramat sangat penting. Ketika guru ingin agar peserta didik memiliki karakter yang baik, maka jangan mencelanya, tetapi pujilah dan  doronglah supaya mau berbuat sebagaimana yang guru kehendaki.
“Seandainya ditimbang dengan alam ini, “ demikian sabda Rasul pada suatu kesempatan, “Sesungguhnya iman Abu Bakar akan lebih berat!”  (HR. Abu Manshur Al-Dzailami dari Abu Hurairah), cara itulah yang dilakukan Rasullulah agar Abu Bakar lebih semangat untuk meningkatkan keimanannnya, dipuji dulu, maka seperti kita ketahui bersama, Abu Bakar Al-sidiq adalah sahabat Rasulllullah yang menjadi khalifah pertama yang menggantikan Rasullullah memimpin umat Islam, sebagai bukti  keberhasilan pendidikan Rasullullah Saw.,
Jadi apabila kita ingin agar peserta didik melakukan apa yang ditugaskan atau yang dikehendaki guru, maka pujilah terlebih dahulu, misalnya dengan mengatakan : “ kalian adalah peserta didik yang luar biasa, dan pasti akan mudah melaksanakan tugas ini….dan seterusnya….” Maka insyaAllah peserta didik akan termotivasi dengan kalimat-kailamat pujian yang diberikan oleh guru.
Rasul ketika mengajar, dan mendapati muridnya melakukan kesalahan perilaku, beliau tidak langsung menyalahkan, sehingga ketika Mu’awiyah ibn Al-Hakam melakukan kesalahan, sikap Nabi adalah menahan sampai situasi lebih tenang. Al Hakam  memberi komentar “Demi ayah ibuku, “katanya, “Belum pernah selama ini aku mendapatkan seorang guru yang lebih baik cara mengajarnya daripada beliau. Beliau sekali-kali tidak berang dan bermuka masam, tidak menempeleng atau mencaci maki diriku” (HR.Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Al-Nasa’i)
            Contoh di atas mengisyaratkan agar guru mampu menahan diri untuktidak  memarahi peserta didik dihadapan umum agar tidak melukai harga dirinya. Menyampaikan hal-hal yang salah pada diri peserta didik dengan dialog yang menyadarkan dan membangkitkan pengakuan dari dirinya bahwa apa yang diperbuatnya adalah kesalahan dan adanya keinginan untuk memperbaikinya, guru tidak menghakiminya. 
            Seorang guru yang ingin menanamkan karakter baik adalah yang berani mengakui kesalahan dirinya seperti halnya yang dilakukan oleh Rasul.Ibn Umar bercerita bahwa suatu ketika Nabi Saw., shalat, lalu membaca sebuah ayat, tiba-tiba beliau lupa dan ragu dalam bacaannya itu.Setelah selesai, beliau bertanya kepada Umar ibn Al-Khaththab, “Apakah Anda ikut sholat bersama kami?”
“Ya!” jawab Umar
“Aku lupa, mengapa anda tidak mengingatkan?” lanjut Nabi penuh penyesalan (HR Abu Dawud dan lain-lain)
Demikian contoh nyata bagaimana Rasullullah Saw.tidak merasa hina untuk merendah dan mengakui kesalahan serta kekhilafannya. Beliau berlapang dada untuk mengakui bahwa dirinya memang khilaf dan salah.Itulah sikap seorang guru besar.Maka guru yang ingin menanamkan karakter baik pada peserta didik  tidak merasa dirinya selalu benar, akan tetapi ketika salah atau tidak tahu, menyatakan bahwa dirinya salah dan  belum tahu. Hal itu sama sekali tidak akan meruntuhkan harga diri guru, akan tetapi peserta didik akan belajar arti kejujuran dan rendah hati dan mau mengakui kesalahan diri sendiri.
b. penghargaan.
Rasullulah selalu memberikan penghargaan kepada sipapaun yang diajarinya, karena Rasul menganggap  bahwa semua peserta didik memiliki potensi baik dalam dirinya, sebab manusia pada dasarnya dilahirkan fitrah, yaitu kemampuan dirinya untuk senantiasa taat kepada Rabb-nya.
Rasullullah Saw., senantiasa memberikan penghargaan terhadap murid-muridnya, mengajarinya dengan hikmah. Cara menunjukkan kesalahan dengan kalimat-kalimat yang tidak menyakitkan.Memujinya dahulu, baru menunjukkan kesalahannya adalah cara yang efektif untuk membuat peserta didik merubah dirinya menjadi lebih baik. Kalimat-kalimat yang dapat disampaikan misalnya : “Engkau anak yang pandai dan sholeh serta tampan, sehingga tidak pantas yah buang sampah sembarangan…” kalimat –kalimat sanjungan atau pujian jangan pelit diberikan guru kepada peserta didik, karena sesungguhnya hal itu menjadi motivasi, bukankah kata-kata adalah doa.
Membangun karakter peserta didik memang butuh proses, namun mulailah dengan dimilkinya  sebagian karakter Rasullulah Saw.,sebagai guru. Guru besar yang mengajarkan dan mendidik murid-muridnya penuh dengan keikhlasan dan kesungguhan dengan hanya mengharap ridho Allah SWT. Keikhlasan seorang guru seperti halnya mengajar akan memancarkan aura keshalehan dan karakter religiusitas peserta didik yang didambakan. Apabila karakter religiusitas sudah dimiliki, maka akan secara mudah untuk dimilikinya karakter-karakter utama lainnya.

*) INEU MARYANI, M.Pd, guru BK SMPN 1 CIKALONGWETAN KBB

(Tanggung jawab isi dan penyuntingan naskah ada pada penulis)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENGUAK PENDIDIKAN KARAKTER ALA RASULLULAH SAW"

Post a Comment