PERTEMUAN






Pertemuan
Oleh: Badriah (Cianjur)


Sesekali muncul keingintahuan seperti apa dirimu sekarang. Apakah kamu menjadi seorang pria yang disegani lengkap dengan dasi melingkari lehermu, memiliki ruang kantor di luar kubikel, memimpin rapat, mengatur banyak orang di bawah nada suara maumu. 

Muncul pula keingintahuan seperti apa perempuan yang mendampingi hidupmu. Apakah dia perempuan tinggi semampai, bermata bulat berwarna hitam, menyiapkanmu makan pagi, mengantarmu dengan kecup yang dibumbui doa diantara gemerlap senyum pagi. 

Keingintahuan lainnya seperti apa anak-anakmu. Apakah mereka makhluk lucu-lucu yang membuatmu selalu rindu pulang ke rumah, memaksamu bekerja tanpa lelah, sandaran yang mewujudkan impianmu, mengisi hari-harimu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kamu sendiri tidak tahu jawabnya.  

Keingintahuan dalam untaian pertanyaan mendorong pemiliknya untuk mencari jawaban. Walaupun ada yang mengatakan bahwa tidak ada jawaban adalah jawaban. Keadaan ini tidak berlaku untuk keingintahuanku tentangmu, setelah berpuluh tahun tak sua. Setelah kamu meninggalkanku tanpa berselamat tinggal. Tanpa memberi tanda bahwa tali halus yang kamu ikatkan pada setiap nafasku telah kamu gunting. 

Aku selalu menduga-duga, kamu malu jika berjalan di altar pernikahan sejajar denganku, katamu aku terlalu jangkung. Aku juga mengira-ngira, kamu enggan berbagi hari denganku, katamu aku terlalu senang di rumah. Aku membayangkan, kamu malas bertukar pendapat denganku, katamu aku terlalu menyederhanakan masalah, terlalu dilogiskan. Aku menyimpulkan tidak adanya surat yang biasa kuterima dari pos setiap hari Sabtu adalah kata putus tanpa perangko. Aku belajar bahwa untuk lepas dari pemenuhan mengasihi, cukup dengan tidak memberi kabar, tidak ada kontak, tidak ada kunjungan. Kata ‘tidak’ harus diakui kehebatanya. Dengan menggunakannya semua makna yang asalnya positif menjadi negatif. Kamu ‘tidak’ datang, maknanya telah negatif pandanganmu tentangku. 

Dari tahun ke tahun aku bergumul dengan tanya tentangmu, mencari jawaban kenapa kamu pergi tanpa kulihat punggungmu meninggalkan ruang tamu yang biasa kamu sebut ruang bersejarah. Aku masih menyisakan sedikit tempat di rumah hatiku barangkali kamu pulang membawa impian yang kita berdua pernah rancang. Jendela hatiku masih terbuka untuk menerima hembusan kabar keberhasilanmu memetik hasil kuliah. Genting-genting hatiku masih melindungi sengatan tatap harap dari pria yang datang silih berganti. 
Kata orang, waktu akan menjawab semua pertanyaan. Aku terkecoh. Aku menunggu dari waktu ke waktu. Tak satu huruf pun yang diberikanmu lewat bergantinya waktu untuk memberitahu alasan kenapa kamu pergi. Bagiku, waktu tidak selamanya pintar dan bisa memberikan jawaban. Aku khawatir, waktu malah akan menipuku. aku tidak mau kalah oleh waktu yang terus mengubah elastisistas kulitku. Telah kulakukan hal yang sangat kamu larang, aku membuat jawaban tanpa ada izin darimu. Kuberkata ya pada pria non pribumi yang katamu sangat tidak bijak jika menikah beda suku, bibit perbedaan akan mengantarkan pada habisnya kesabaran memegang surat nikah. 

Kamu, dalam waktu yang tak bisa kujelaskan, kadang mengusik rumah jiwaku.

“Apakah Ibu kenal saya? Dulu saya pernah bertemu Ibu. Dulu dari yang sangat dulu. Saat saya masih SD. Ibu datang pada hari Minggu ke rumah kakek, lbu datang naik Vespa dibonceng Om D.”

Percakapan yang terjadi di luar kedinasan yang sedang kutanggung. Mulutku terasa kering. Pertanyaanya mengantarkanku pada jam dimana aku menjadi tamu ketika aku ke rumahmu dan ponakanmu ada di sana. Aku tidak menyangka, keponakanmu memiliki ingatan yang tajam sehingga membuka kisah yang bertahun aku simpan dan tidak pernah kubagi. Keponakanmu mengingatkanku pada anggapan bahwa kamu manusia teregois yang meninggalkan satu hati tanpa diberi jaminan. 

“Ibu, Om D sering menanyakan apakah saya pernah bertemu Ibu karena kita berada pada satu kota yang sama. Hutang janji saya pada Om D akan terbayar. Mungkin Om D akan loncat kegirangan mendengar kabar pertemuan kita ini.” 
Ponakanmu mengambil keputusan sendiri untuk mengabarimu tentang keberadaanku. Kamu akan tahu bahwa aku, juga ponakanmu menjadi orang-orang yang tidak seperti yang kamu inginkan: tidak melakukan apapun tanpa sepengetahuan dan izinku.

Aku tidak menginginkan apapun darimu. Ragaku telah aman dibalut status. Rumahku telah penuh dengan suka duka berbagi hari dengan pria yang kamu pandang membawa kericuhan akibat bahasa, suku, dan agama keluarganya berbeda. Hari Mingguku selalu habis diinvestasikan pada obrolan ibu anak. 
Sangat aneh bagi pikirku kalau kamu meminta bertemu hari Minggu pada minggu depan. Aku sedikit menyalahkan keponakanmu yang memberikan nomor hapeku tanpa izinku. Kamu sudah tahu sejak semula, aku termasuk orang yang tidak bersedia menerima kejutan-kejutan yang tidak kuundang pada hari apapun. Itulah kenapa aku tidak terlalu senang keluar rumah. Bagiku, dalam jarak selangkahpun, luar rumah menyuguhkan drama tetangga, teriak putus asa pedagang sayuran, hisak sepi pengemis yang pura-pura kakinya pincang, dan serentetan skenario yang memaksaku menyentuh sisi manusiawiku sekaligus mempertanyakan peran apa yang sedang diragakan di depanku. 

“Aku punya waktu satu jam, aku menunggumu di Rumah makan Nurul,” kupencet tombol kirim dilengkapi dengan peta lokasi yang kuhidupkan untuk delapan jam. 

Sebenarnya aku kesal pada diriku yang menggunakan kata menunggu. Seolah aku mengizinkan diriku memperpanjang menunggu yang dulu telah kulakukan sampai memakai masa satu dekade. Aku telah sangat tahu, menunggumu akan mengantarkanku pada ketidakpastian. Kini aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku melakukan hal yang tepat memberimu satu jam untuk memberikan jawaban yang kamu tunda. Apakah aku berhati besar untuk menampung penjelasan yang mengonfirmasi keputusan yang telah kubuat dulu. Kali ini aku merasa telah kalah oleh waktu, telah kutulis sendiri, aku punya satu jam untukmu. 

“Kamu tidak berubah,” katamu setelah lebih dari 15 menit hanya diam saja, sama sekali tidak memandangku saat sua di hari Minggu yang kamu usulkan. 

Bagaimana seseorang dapat menilai orang lain dengan begitu mudah tanpa melihat ke dalam hatinya sekejap pun. Apakah perjumpaan pada hari Minggu memudahkan seseorang memahami wujud fisik dan non fisik orang lain tanpa bertatap menelisik mata hatinya. Apakah perempuan bisa begitu mudah ditelanjangi keberadaanya tanpa perlu menatap baju pembungkus hijab jati dirinya. Aku tidak mengerti kamu.

Sejak lama aku telah tahu. Aku telah berubah. Berubah dari orang yang selalu meminta izinmu untuk memutuskan sesuatu menjadi orang yang memutuskan sendiri apa yang kumau. Kamu yang mengajarkan itu lewat pembiaranmu selama ribuan hari. Kamu mengatakan aku tidak berubah, dari sudut mana kamu memandang. Jangan-jangan kamu menggunakan tatapan penasaran masa SMA kita. Tubuh setengah abadku, yang kini di depanmu, tidak terlihat. Yang kamu lihat dan tangkap adalah keindahan perkenalan dengan seorang gadis yang kemana-mana membawa buku berbahasa Inggris yang berisi bahasan Logic. Kamu sebut aku perempuan yang kurang sensitif, perasaanku habis dilalap buku logika. 

“Fin, tolong. Aku bangkrut. Semua cintaku telah habis. Istriku membawa ketiga anakku. Aku sendirian.” Suaramu memelas, sangat rapuh, ringkih di balik rambutmu yang kulihat mulai bercampur (satu dua) putih. 

Pertolongan macam apa yang kamu butuhkan, sulit untuk kupahami. Semudah itu kamu meminta tolong. Kamu tidak menengok ke masa silam, kamu sama sekali tidak menolong remuk hatiku ketika bertahun-tahun kamu menghilang. 

Tanganku tak bersedia merengkuh jasmanimu. Ada jarak yang aku sendiri tak tahu apa pengukurnya. Tanganku kaku untuk meraih kedukaanmu. Dulu, aku selalu membayangkan jika bisa bertemu denganmu, aku akan menghambur dan membiarkan tanganku dan tanganmu saling meraih badan cinta kita. Aku akan melewatkan setiap menitnya dengan derai kerinduan.

“Katakan sesuatu, apapun itu Fin,” pintamu membuyarkan lamunanku. Kulihat matamu mencari kalimat yang akan kuucapkan dan memuaskan permintaanmu. Mataku mencari penjaga rumah makan yang lebih mudah kupenuhi permintaan bayaran atas semua bon yang kubuat.

“Aku telah menolongmu dengan tidak mencarimu.” Mantap sekali aku memenuhi keinginannya akan tuturku. Kamu terlihat terkejut. Kubiarkan kamu mencerna sendiri makna yang ingin kutitipkan pada kalimat singkat tersebut. Kamu tentu tidak akan menyangka bahwa aku akan bisa sangat kuat berkata-kata di depanmu. Usahamu dulu untuk membentukku menjadi perempuan patuh mengiyakan semua katamu tidak berbekas sama sekali. 

“Waktumu telah habis.” Tandasku. Kamu terlihat semakin terkejut. Kamu tidak mengira aku bisa mengatur berapa lama aku bersamamu. Kamu juga tidak menduga aku mampu memutuskan bahwa aku tidak lagi menunggu. Kamu terkaget-kaget sendiri, aku tidak menanyakan kenapa kamu meninggalkanku tanpa alasan waktu itu. 

Kutemui orang yang meninggalkanku tanpa memberikan alasan. Kubiarkan satu jam untuk memahami penghargaan atas kesetiaanku yang didiamkan.  Aku mengerti sekarang. Kamu tidak berniat menghapus kesalahan besar yang kamu lakukan. Kamu tidak berubah. Kamu selalu merujuk bahwa pria adalah penentu final dan perempuan harus menerimanya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERTEMUAN"

Post a Comment