Riuh dalam Kesunyian



oleh : Ummi Mujahidah


Ketika sakit, betapa mahal harga lelap dan lahap. Tapi, konon katanya justru di situ salah satu nilai juang orang sakit. Mesti berani tetap menelan makanan, meski pahit saja yang terasa.
"Ok, akan kumainkan peranku."

Bagaimanapun tak ada orang yang tahan sakit berkepanjangan. Dan aku berharap, perjuanganku menelan segala makanan pahit plus obat apapun, adalah bagian dari proses kesembuhanku. Meski tentu saja, jauh sebelum apapun, aku tanamkan dalam hati bahwa penyembuh dan pemilik obat terbaik adalah pemilik raga ini.

Sakitku ini, kawan, bukanlah sakit hebat luar biasa. Yang bisa bikin orang tertunduk haru, menengadahkan tangan mengirim doa khusus. Taklah, tak seperti itu. Bahkan yang menengokpun tak ada, saking 'biasanya' sakitku. Tapi bagiku yang merasakan, amboi ... tetap saja, tak bisa merasakan lahap dan lelap.

Pagi-pagi bersin tak henti-henti. Demam tinggi, keringat dingin mengucur, hingga harus ganti baju. Tengah hari begini, mata berair terus, sejauh mata memandang (walau cuma dalam kamar), silau terasa. Belum lagi cairan dari hidung, sampai tak lepas tissue dari tangan. Minum obat pun tak begitu membantu.

Dua hari kemarin, pasca minum obat malah payah tak bisa tidur. Gedebag-gedebug, bolak- balik di kasur. Bantal dibongkar pasang, semua posisi terasa gak enak. Selimut ditarik lepas. Hingga jam demi jam berlalu, kuikuti dengan lelah yang sangat.

Ya Allah, aku pasti banyak salah, ya. Masa cuma flu, sampai makan waktu seminggu. Ya Allah, Aku kurang sabar, ya. Masa cuma flu, keluhannya banyak banget. Ya Allah, apa aku kurang ikhtiar? Hingga fluku berlarut-larut begini. Atau aku tak paham juga, bahwa Engkau tengah mengujiku, menilik seberapa benar aku menerima takdirku?

Aku coba tafakur, apa yang belum kulakukan? Kata sahabatku, cobalah jurus jitunya. "Menyepi dalam keramaian, dan riuh dalam kesunyian." Waduh, jadi kayak cerita silat, nih. Apa makna kalimat ini?

Saat suami dan anak-anak pergi, dalam sakit aku sendiri di rumah. Ini saatnya "membuat riuh dalam kesunyian". Maka ketika kepalaku mulai pening, sementara tenggorokan haus, dan air minum di kamar habis. Aku bangun, dan berbisik. " Ya Allah, aku menerima sakitku ini sebagai takdirku saat ini. Dengan takdir ini, aku harus berusaha sembuh, karena Engkau menginginkanku berikhtiar."

"Baik, ya Allah, aku akan banyak minum, dan makan obat. Meski aku tak merasakan apapun yang kumakan dan kuminum."

"Allah, aku ingin istirahat, maka ijinkan aku terlelap barang sejenak, tolong tahanlah batukku, ringankan sakitku. Batuk dan segala rasa tak enak ini adalah makhluk-Mu, yang akan tunduk pada ketentuan-Mu. Maka jika Kau ijinkan, Ia akan menjauh dariku."

"Maafkan aku, ya Allah, bila aku sempat menggantungkan diri pada obat. Dan Kau uji aku, dengan obat, aku malah makin payah, tak bisa tidur."

"Ya Allah, sekarang aku hanya mohon dan bergantung pada-Mu saja. Jika pun, ada makanan atau obat yang kutelan, itu adalah karena Engkau memerintahkan ikhtiar."

"Saat ini, obatku habis, ya Allah. Sedang aku tak punya dana dan daya untuk membelinya. Semua orang sedang pergi, dan aku tak pegang uang sepeser pun. Ya Allah, aku tahu ini takdir-Mu jua. Dan Kau sebaik-baik pembuat skenario. Kau pasti tahu yang terbaik untukku, maka kuserahkan semua pada-Mu saja."

Entah berapa kalimat lagi, keriuhan dialogku dengan Sang Pemilik Raga ini. Sampai aku terlelap. Aku sadar, ketika terbangun karena ada tangan suamiku meraba keningku.

"Maaf, jadi terbangun. Alhamdulillah sudah reda demamnya."

Suamiku duduk disampingku, sambil memijit badanku dengan lembut.

"Sudah lama datang?" tanyaku.

Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf, ya. Baru bisa pulang sekarang. Lagi banyak kerjaan. Mau ke dokter?" tanyanya sambil menatapku.

Aku mencoba duduk. Alhamdulillah, tak terasa pusing lagi. Tiba-tiba aku merasa haus. Mungkin karena keringat keluar terus. Kurasa bajuku agak basah karena keringat. Aku mencoba berdiri. "Hai, ringan sekali rasanya," gumamku dalam hati. Aku benar-benar sudah sehat sekarang.

"Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Engkau memang sebaik-baik penyembuh. Tak ada kesembuhan, selain kesembuhan-Mu. Tak ada obat, selain obat-Mu."

"Tak Kau izinkan aku  bergantung pada obat, pada orang, atau pada apapun. Ketika kupasrahkan semuanya pada-Mu, maka dengan izin-Mu,  Kau sembuhkan aku. Subhanalloh, alhamdulillah, allohu akbar."

Aku terus membuat keriuhan dalam hati. Sementara tubuhku bergerak untuk mengambil minum dan kemudian berwudlu. Tidurku cukup lelap dan lumayan lama. Waktu sholat Ashar hampir habis, aku harus bergegas. Membuat keriuhan baru, berterima kasih yang tak terhingga, pada Yang Maha Menyembuhkan.

#Cinunuk, 14 Maret 2019, 20.27. Buat yang lagi sakit, semoga bisa menghibur.
Buatlah keriuhan dalam sakitmu, insya Allah, Allah akan mendekat. Titip doa untuk sukses anakku, mulai Senin dia US. Doa orang sakit lebih makbul.



*) Ummi Mujahidah adalah nama pena dari Nurlaela Siti Mujahidah, S.Pd. guru IPA di SMPN 3 Limbangan, Garut, anggota Komunitas Penulis L3-SMPN 3 Limbangan, redaktur majalah pendidikan Guneman dan penulis buku Diary Ummi Mujahidah.


MILIKI MAJALAH PENDIDIKAN GUNEMAN 

EDISI 1 TAHUN V 2019


UNTUK BERLANGGANAN HUBUNGI NO. WA:

0821-2722-5655 (OESEP) atau 0812-2017-090 (MARDIAH)


PENGIRIMAN NASKAH:


Guneman Online: gunemanonline@gmail.com

Geneman Cetak: guneman_magazine@yahoo.com 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Riuh dalam Kesunyian"

Post a Comment