ANAK SEKOLAH DI ZAMAN FILM DILAN



Ini bukanlah sebuah warta, melainkan sebuah kenyataan. Kenyataan yang berguna diwartakan, lantaran entahlah akhir-akhir ini ada begitu banyak hal yang patut diperbincangkan; utamanya untuk bahan pemikiran orang dewasa dan orang yang mau berpikir dewasa.

Begini, mengenai anak sekolah di masa kini kalau dibandingkan dengan anak sekolah di zaman Dilan sekolah, apa bedanya ya? Atau malah banyak kesamaan? Perkelahian gara-gara memperebutkan perempuan misalnya? Ah di zaman sekarang ini sepertinya sudah tak begitu lagi, pasalnya anak perempuan zaman sekarang ko sepertinya tidak menantang lagi untuk diperebutkan. Pasalnya kebanyakan sudah terlalu jinak. Belum-belum ditangkap sudah menghampiri duluan. Aduh ah bukan fitnah, ini berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Telah begitu banyak laporan dari Guru BK, ada anak kelas 7 yang disangka menstruasi, tapi kok darahnya membanjiri rok sampai tercecer di lantai. Guru yang curiga membawa ke dokter, ketahuan akhirnya itu anak keguguran. Belum lagi berita-berita di koran-koran dan yang viral lewat tayangan youtobe, pasangan-pasangan bocah, atau bocah dengan orang dewasa bahkan dengan gurunya sendiri kedapatan main di mobil dan mobil yang bergoyang pun terciduk. Bahkan ada lagi yang nekad melakukan di lapangan tumput; tempat yang terbuka. Betapa edan! Fenomena apa ini? Fenomena orang sudah kehilangan rasa malu, tidak lagi mwnghayati ajaran agamanya. Hedonis, nudis, dan entah istilah apa lagi yang pas mewakilinya. Yang jelas itu seharusnya menjadi keprihatinan nasional.

Moral! Moral! Moral! Di sekolah ada pendidikan agama dan PKn. Pendidikan karakter juga digembar-gemborkan, tapi juga video porno berseliweran. Orang-orang dewasa bukannya memberi contoh baik, malah menjadi biang kerok. Di instagram, tanpa di tag, tanpa dikehendaki dan sengaja diikuti, tahu-tahu bermunculan adegan mesum. Pelakunya wanita muda dan laki-laki yang sudah tua. Kalau tidak begitu, itu para perempuan berbaju minimalis dengan buah dada sebesar-besar bantal, bagai slide kemunculannya tak henti silih berganti. Parahnya lagi terkadang masih wajah yang sama, di lain kesempatan dia berbusana lagaknya wanita alim; ke atas berkerudung, ke bawah berleging seksi, tipis transparan; malah tercetak segitiga.
Bagaimana norma bisa berjalan normal, kalau kehidupan sosial semrawut. Kebebasan pers pun jadi kebablasan; campur baur antara berita hoax, fornografi,  dan kekerasan; maka kanak- kanak dengan ketahanan mental yang minim hanya bisa menerima tanpa bisa menyaring. Walhasil jadi ikut-ikutan.

Ini satu lagi kejadian yang boleh dikatakan sebagai dampak dari kebebasan pers, kelonggaran norma sosial, dan entah sebutan apalagi. Dua orang siswi sekonyong-konyong menaiki mobil angkot. Begitu tahu di dalam angkot ada gurunya, bukannya sejenak berhenti, entah itu sekadar manggut atau memberi salam, eh mereka tetap anteng ngobrol. Sudah suara keras, yang diobrolkan laki-laki, pacaran, malam mingguan, serta curhat-curhatan isi hati. Padahal kepergian mereka kala iru untuk menuju sekolah, hendak menjalani USBN. Pantas-pantasnya yang diobrolkan itu, kesulitan belajar, sudah menghapal apa, memperbincangkan rumus, atau apa kek yang mencerminkan identitas seorang pelajar.
Sampai Si Guru kemudian menegur, baru mereka memelankan obrolan dan mengurangi bahasa gaul yang kasar. Tadinya mereka tanpa tedeng aling-aling ber"aing" dan ber" maneh". Bahasa gaulnya Orang Sunda.

Sungguh kasihan anak-anak seperti itu. Mereka seperti merasa tidak bersalah. Malah terlihat begitu percaya diri. Seakan semua berjalan biasa saja. Lantas yang salah siapa ya? Orangtuanya, guru, atau lingkungan? Sungguh tak menyelesaikan masalah kalau hanya mencari kambing hitam. Masalah anak bangsa adalah tanggung jawab bersama; termasuk pemerintah. Harus ada pembenahan dari segala arah. Semua harus berpikir cerdas dan menggunakan nilai-nilai agama untuk menjalani hidup dan kehidupan. Maka mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, mulailah saling membantu; karena menghadapi globalisasi bukan sesuatu yang mudah. Semua harus menganggap penting, peduli, dan mulai bergerak. Itu sebagai bentuk usaha memperbaiki dan beroleh selamat.

Sekian.


Eka Rosmawati, M.Pd. Guru SMP Negeri 3 Soreang. Aktif membina Getakan Literasi di Sekolah, aktif menjadi Pengurus IGI Kab. Bandung, juga terus mengembangkan diri dalam kegiatan menulis dengan bergabung bersama kelompok para penulis. Buku yang sudah terbit antara lain: Antologi Puisi Meniti Bening Hati, Antologi Cerita Anak, Pantun NKRI, dan beberapa buku lagi.





BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ANAK SEKOLAH DI ZAMAN FILM DILAN"

Post a Comment