DEDIKASI GURU DI “SARANG ELANG” DALAM MENJALANKAN TUGAS






Oleh : Sugiyanto


Salah satu kebanggaan penulis selama menjadi guru IPS tatkala bisa menyelesaikan permasalahan yang dialami selama menjalankan tugas dengan baik dan menyenangkan orang banyak. Di antaranya saat pertama kali diangkat menjadi Kepala Sekolah di SMP Negeri Satu Atap Danau Sarang Elang. Setelah sekira sebulan penulis menjalankan tugas di sekolah yang baru  ada benyak cerita yang bisa penulis bagikan. Di antaranya sekelumit cerita saat meluapnya sungai Batanghari di Provinsi Jambi tahun 2013 yang merupakan banjir terbesar sejak 2003.

Ada kisah inspiratif yang ingin dibagi terutama saat banjir melanda. Hal ini terkait betapa gigihnya perjuangan para guru dalam menjalankan tugasnya mencerdaskan anak bangsa di Desa Danau Sarang Elang, Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi. Di desa ini hanya terdapat sebuah Sekolah Dasar dan SMP Negeri Satu Atap yang merupakan satuan pendidikan yang saling berdampingan.Walaupun kedua sekolah ini tidak ikut terendam banjir dari luapan sungai Batanghari namun akses jalan menuju ke desa ini terputus akibat banjir tersebut.

Cerita berawal ketika jalan utama menuju sekolah putus akibat tingginya air. Kami pun berusaha mencari jalan alternatif melalui Desa Rasau Jaya. Melalui jalan alternatif ini jarak dari rumah ke sekolah yang semula sekira 35 km bertambah menjadi 60 km. Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya kami, rombongan Guru SD dan SMP dengan 4 sepeda motor, tiba di tengah perkebunan sawit dan karet. Karena kami tidak mengenal arah jalan menuju Danau Sarang Elang kami pun tersesat hampir satu jam di tengah perkebunan karet penduduk. Akhirnya setelah sadar bahwa memang tersesat kami pun memutuskan untuk kembali dan berhasil menemukan jalan menuju desa Danau Sarang Elang. Di tengah jalan yang becek dan licin kami berjuang agar tidak jatuh dari motor.  Sikira pukul 09.00 akhirnya kami sampai di sekolah dengan perasaan gembira bercampur haru, ditambah ada rasa bersalah melihat siswa yang begitu setia menunggu kehadiran para gurunya.

Hari pertama Alhamdulillah dapat dilewati dengan baik walaupun penuh perjuangan. Pada hari kedua penulis merasakan haru dan bangga memiliki teman-teman guru yang penuh dedikasi. Mereka tetep bersemangat dalam menjalankan tugasnya, walaupun dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Petualangan hari kedua tidak kalah beratnya dibandingkan hari pertama. Pada hari itu ternyata jalan yang dapat dilewati pada hari pertama kemarin juga sudah terputus akibat air sungai Batanghari semakin tinggi. Kami pun harus melalui jalan alternatif yang lain, yaitu melalui jalan Ness. Jarak tempuhnya juga sekira 60 km dengan separohnya jalan tanah yang becek dan licin melalui tengah perkebunan sawit dan karet penduduk yang habis turun hujan. Akhirnya sekira waktu yang sama dengan kemarin kami baru sampai di sekolah. 

Setelah dua hari berjibaku dengan medan yang berat ceritapun berlanjut pada hari berikutnya. Pada hari ketiga dengan kondisi motor yang sudah sangat kotor setelah dua hari berjibaku dengan jalan yang licin dan berlumpur, ternyata belum jauh dari rumah begitu keluar cobaan kembali datang. Setelah beberapa kilometer berjalan ternyata ban motor dalam keadaan kempes. Karena sudah janjian untuk tetap berangkat bersama, maka penulis segera memberi kabar bahwa ban motor bocor. Maksudnya biarlah penulis ditinggal rombongan dan kemudian menyusul, karena nambal ban memakan waktu cukup lama. Tanpa diduga ternyata kawan-kawan tetep mau menuggu, alasanya mengingat medan yang berat kita perlu saling bantu. Akhirnya perjalanan pun berlanjut dengan rombongan 5 motor menyusuri perkebunan karet dan sawit di daerah Ness, Pijoan.

Seperti pada hari kedua sepanjang perjalanan selalu disertai canda tawa dengan kawan-kawan satu rombongan. Setelah menempuh jarak lebih dari separo perjalanan tiba-tiba salah satu dari rombongan kami jatuh pingsan tepat diperkebunan karet penduduk. Hanya satu kata yang terucap, "Ya Allah berikan kepada kami dan rekan-rekan kami kekuatan dan semangat dalam menjalankan amanah dalam mencerdaskan anak bangsa ini.”

Baru sadar, ternyata dibalik kuatnya fisik rekan-rekan ada satu yang terlupakan ternyata beban psikisnya jauh lebih berat. Setelah selama dua hari berjibaku dengan medan yang berat dan dituntut untuk tetap menjadi guru profesional yang selalu menjalankan tugas dan amanah dengan ikhlas sehingga terlupakan bahwa seharusnya perlu istirahat yang cukup. Akibat kelelahan yang luar biasa inilah yang menyebabkan rekan penulis pingsan dan sampai kerasukan makhluk halus. Setelah dengan berbagai upaya dilakukan akhirnya kawan yang pingsan sadar, Setelah sadar kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita kami sampai di sekolah sekira pukul 09.30 WIB. Kembali murid-murid menyambut  kami dengan cemas. Kami pun menuju ke kelas masing-masing, mengajar dan seakan hilanglah kelelahan itu setelah bertemu dengan siswa semua.

Waktu pulang kami memutuskan untuk tidak melewati jalur yang sama saat berangkat tadi. Namun, di tengah perjalanan rekan kami kembali pingsan sehingga suasana agak mencekam. Dengan berbagai usaha akhirnya beliau sadar dan bisa menyeberang dengan menggunakan jasa penyeberangan darurat. Kami pun untuk sementara istirahat di Puskesmas Jembatan Mas. Dengan tujuan paling tidak diberikan tindakan medis sementara,  Setelah mendapat perawatan akhirnya kondisi kesehatan kawan kami pulih kembali. Dengan diantar mobil beserta rombongan rekan yang pingsan tersebut akhirnya bisa pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan hanya doa yang bisa kupanjatkan agar kami diberikan kesehatan dan kekuatan untuk tetep mempunyai semangat pantang menyerah dalam menjalankan tugas esok hari.

Karena sedikit ada rasa takut akan kejadian sebelumnya, maka pada hari keempat kami memutuskan untuk tidak melewati medan yang dilalui pada hari kedua dan ketiga. Kami melewati jalan alternatif lainnya yang cukup jauh daripada hari sebelumnya.Walau begitu jalur ini lebih mudah dijangkau dan medannya yang lebih ringan. Satu tantangannya, kami terpaksa harus menyeberangi tingginya luapan air sungai Batanghari dengan menggunakan jasa penyeberangan dadakan. Ada sesuatu yang kurang pada hari keempat ini, yaitu rekan yang kemarin sakit belum bisa masuk sampai kondisinya benar-benar sehat kembali.

Ya Allah sampai kapan cerita ini akan berakhir. Semoga air sungai Batanghari segera surut sehingga aktifitas kami dalam menjalankan tugas mengajar tidak terhambat. Ternyata bagi guru yang di pedalaman profesionalisme itu tidak hanya ditunjukkan dengan bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran dan menjalankannya dalam pembelajaran di kelas dengan baik, tetapi juga harus disertai dedikasi, semangat, dan keikhlasan yang lebih jika dibandingkan rekan-rekan yang bertugas di kota. Tanpa adanya semangat, dedikasi dan keikhlasan yang lebih maka kemampuan mengembangkan perangkat pembelajaran tidaklah ada artinya apa-apa. Dengan keikhlasan niscaya kita dapat merasakan kenikmatan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Kuncinya adalah bersyukur dan senantiasa ikhlas dalam menjalankan tugas dan amanah yang diberikan kepada kita, maka insyaallah kita akan senantiasa senang menjalaninya dan semoga ada nilai ibadah di dalamnya. Aamiin.
Akhirnya hanya doa yang dapat kami panjatkan. Semoga Allah SWT. senantiasa memberikan kesehatan dan keselamatan kepada rekan-rekan kami yang dengan penuh semangat dan dedikasi dalam menjalankan tugas mulianya dengan penuh perjuangan dan pantang menyerah demi mencerdaskan anak bangsa. Berikanlah kepada mereka kekuatan dan semangat untuk tetap mampu menjalankan tugasnya dengan sabar dan ihklas. Terima kasih Ya Allah atas rahmat dan karunia-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada kami sehingga kami masih diberi kekuatan dan keikhlasan dalam menjelankan tugas mulia ini. Tanpa karunia-Mu kami yakin tidak akan mampu menjalankannya. Terima kasih Ya Rabb.

Tetep semangat untuk Pak Erik, Ibu Jamiah, Ibu Eli, Ibu Ike, Ibu Fitri, Ibu Pur, dan semuanya. Jangan mudah menyerah! Semoga  mendapatkan pahala atas keikhlasan Bapak/Ibu dalam menjalankan tugas mulia sebagai guru yang penuh dedikasi dalam menjalankan tugas dengan berbagai tantangan. Penulis Bangga ada bersama kalian! Ya Allah berikan kepada kami dan rekan-rekan kami kekuatan dan semangat dalam menjalankan amanah dalam mencerdaskan anak bangsa ini. Aamiin.





Sugianto, M.Pd.,  Pengurus FKGIPS PGRI Jambi, Mantan guru IPS dan Kepala SMPN Satu Atap Danau Sarang Elang Kab. Muaro Jambi, saat ini bertugas sebagai pengawas di Dinas Pendidikan Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.


BAGI YANG MAU MENERBITKAN BUKU,  PENERBIT GUNEMAN SIAP MEMBANTU!




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DEDIKASI GURU DI “SARANG ELANG” DALAM MENJALANKAN TUGAS"

Post a Comment